Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Suasana di gedung BEI, Jakarta, beberapa waktu lalu.  Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Suasana di gedung BEI, Jakarta, beberapa waktu lalu. Foto: Investor Daily/David Gita Roza

2020, Laba Emiten Diprediksi Tumbuh 9%, IHSG Berpotensi Capai Level 7.000

Senin, 13 Januari 2020 | 09:57 WIB
Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

Jakarta,investor.id – Sentimen negatif skala global yang mendera pasar saham diperkirakan segera berlalu dan berbalik menguat seiring adanya sejumlah faktor faktor pendukung.

Menurut Kepala Riset Bahana Sekuritas Lucky Ariesandi, pasar saham akan mendapat sentimen positif dari kinerja emiten yang diperkirakan akan lebih baik pada 2020.

Bila pada tahun lalu laba bersih emiten tumbuh rata-rata sekitar 2%,  maka pada tahun ini diperkirakan akan naik pada kisaran 9%, yang terjadi di hampir seluruh sektor kecuali sektor batubara yang masih akan mendapat tekanan dari rendahnya harga batu bara di pasar global.

Bila dibandingkan dengan pasar surat hutang dan juga properti, pasar saham masih menawarkan gain yang lebih baik. Pasalnya dengan level suku bunga acuan dan infasi yang terjaga rendah, yield surat hutang diperkirakan tidak akan mengalami banyak kenaikan, bahkan malah cenderung turun. Apalagi The Fed telah memberikan indikasi suku bunga yang tidak akan turun lagi pada tahun ini.

Sejalan dengan suku bunga global, Bank Indonesia juga telah memberikan sinyal untuk mendukung pertumbuhan ekonomi domestik. Bank sentral telah menurunkan suku bunga BI 7-day reserve rapo rate secara total sebesar 1% sejak Juli hingga Oktober ke level 5% dan bertahan hingga Desember 2019, dengan tingkat inflasi sepanjang 2019 sebesar 2,72%. Saat ini rata-rata yield surat hutang berada pada kisaran 7%.  

‘’Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, masih ada ruang bagi BI untuk menurunkan suku bunga sebanyak dua kali pada tahun ini,’’ ujar Lucky. Turunnya suku bunga, yang diikuti dengan realisasi kebijakan omnibus law akan mampu menggenjot masuknya investasi, yang pada akhirnya mampu mendorong pertumbuhan ekonomi pada tahun ini, tambah Lucky sebagaimana dikutip dari hasil risetnya, Senin (13/1/2020).

Penopang lain yang membuat pasar saham akan lebih bergairah pada tahun ini adalah rencana kenaikan pajak reksadana atau mutual fund menjadi 10% dari yang saat ini berlaku sebesar 5%. Semula kenaikan pajak reksa dana direncanakan pada 2014, namun kenaikan tersebut tertunda. Menurut Lucky, rencana kenaikan pada 2021 mendatang, kemungkinan tidak akan mundur lagi karena dana kelolaan reksadana sudah naik cukup signifikan dalam lima tahun terakhir, dan disisi lain pemerintah berencana memotong pajak bagi korporasi.

Untuk menjaga pendapatan pajak negara tetap stabil, pendapatan negara yang berkurang akibat potongan pajak korporasi, sebagian akan ditutupi dari kenaikan pajak reksadana. Rencana kenaikan pajak reksadana ini akan menjadi katalis bagi investor untuk kembali masuk ke pasar saham. Meski kondisi perekonomian global masih dihantui sejumlah ketidakpastian, investor asing diperkirakan akan kembali melirik pasar saham negara berkembang, setelah pada tahun lalu, investor asing membukukan aksi jual yang cukup besar.

‘’Berbagai skenario diatas membuat kami cukup yakin pasar saham akan kembali bergairah pada tahun ini, sehingga bisa mendorong indeks naik hingga ke level 7.000, papar Lucky. Sektor-sektor yang masih positif sepanjang tahun ini diperkirakan berasal dari emiten perbankan, tembakau/rokok, CPO dan obat-obatan, sedangkan beberapa sektor yang harus dicermati diantaranya batu bara, konsumer yang terkait retailers sebagai dampak dari kenaikan iuran BPJS, terang Lucky.

Serangan AS terhadap Iran

Gejolak yang terjadi di Timur Tengah akibat serangan AS yang menewaskan Jenderal besar Iran, yang berbuntut pada pembalasan Iran telah menyebabkan naiknya harga minyak dunia. Hal ini akan memberi dampak negatif pada defisit perdagangan yang diperkirakan akan membengkak karena kontributor terbesar defisit perdagangan domestik berasal dari neraca minyak dan gas (migas).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan sepanjang Januari – November 2019, total ekspor migas sebesar $11,442 miliar, sedangkan impor migas tercatat sebesar $19,752 miliar, sehingga ada defisit sebesar $8,31 miliar. Defisit perdagangan Indonesia secara total sepanjang Januari – November bila digabung dengan kegiatan ekspor- impor non migas, mencatat defisit sebesar $3,1 miliar.

Menurut Bahana dampak konflik AS-Iran tidak akan memberi dampak yang besar, sepanjang selat Hormuz sebagai jalur pengiriman minyak dari Timur Tengah tetap dibuka. Bila kenaikan harga minyak dunia terjadi, akan memberi sentiment negatif bagi nilai tukar, yang pada akhirnya berdampak pada kinerja keuangan perusahaan dari sektor semen, obat-obat-obatan, dan konsumer karena banyak menggunakan komponen impor.

Editor : Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN