Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investasi. Foto: Rawpixel (Pixabay)

Investasi. Foto: Rawpixel (Pixabay)

2020, Penerbitan Obligasi Korporasi Bisa Tembus Rp 175 Triliun

Thereis Love Kalla, Kamis, 17 Oktober 2019 | 09:56 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Penilaian Harga Efek Indonesia (PHEI) memproyeksikan penerbitan obligasi korporasi pada 2020 bisa mencapai Rp 175 triliun.

Direktur PHEI Wahyu Trenggono menyatakan, secara historis, keadaan pasar obligasi pada tahun depan tak jauh berbeda seperti lima tahun ke belakang, yang mana kondisinya tak jauh berbeda dengan situasi setelah pemilu 2014.

"Secara historis, pada 2015, pertumbuhan pasar obligasi korporasi bisa double up, namun pada waktu itu kondisi pasar global tidak segamang saat ini. Kami proyeksikan penerbitan obligasi pada tahun depan berkisar Rp 155 triliun hingga Rp 175 triliun," ujar Wahyu di Jakarta, Rabu (16/10).

Menurut Wahyu, pada tahun depan, kondisi pasar obligasi korporasi di dalam negeri masih akan terpengaruh kondisi pasar global. "Jika kita lihat kondisi pasar global masih menunjukkan pesimisme. Jika kita lihat saja kondisi ekonomi Amerika mengarah pada resesi, sehingga membuat The Fed akan kembali menurunkan suku bunga acuannya, untuk memperbaiki kondisi ekonomi Amerika," tuturnya.

Wahyu menambahkan, hingga akhir tahun ini, penerbitan obligasi akan mencapai Rp 130 triliun. Tren penerbitan obligasi korporasi akan naik karena dipengaruhi kondisi ekonomi makro Indonesia yang menunjukkan kondisi stabil dengan nilai pertumbuhan ekonomi 5% di tengah kondisi perlambatan ekonomi global.

Disisi lain, kondisi yang mempengaruhi investor asing masuk ke pasar obligasi Indonesia, adalah langkah S&P meningkatkan Sovereign Credit Rating Indonesia dari BBB-/Outlook Stabil menjadi BBB/Outlook Stabil.

"Selain penurunan suku bunga acuan oleh The Fed, peringkat yang diberikan oleh S&P juga sangat menarik minat investor asing di pasar obligasi indonesia. JIka inflow asing makin banyak maka akan menguatkan rupiah," kata Wahyu.

Sementara itu, Head of Research and Market Information PHEI Roby Rushandie menyatakan pentingnya peran portfolio investment inflow dalam menambal neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD). 

"Neraca transaksi berjalan kita defisit karena lebih banyak melakukan impor sehingga banyak membutuhkan mata uang dolar, namun di sisi lain portfolio investment-nya positif. Ini artinya, peran portfolio investment inflow dalam menambal neraca transaksi berjalan itu cukup penting," tandasnya.

Menurutnya kondisi CAD Indonesia masih mengalami defisit sejak 2011, karena kegiatan ekspor yang melambat. "Trading partner kebanyakan ke Tiongkok. Kita tahu bahwa ekonomi Tiongkok sendiri saat ini melambat. Akhirnya kinerja ekspor kita ke Tiongkok juga menurun," imbuhnya.

Selain ditutup dari portfolio investment, CAD juga bisa ditutup dengan Foreign Direct Investment (FDI). Namun, kedua hal tersebut tidak bisa terus diandalkan untuk jadi penambal CAD. " Karena aliran modal di pasar modal itu sifatnya short term. Sangat tergantung kepada sentimen global," jelas Roby.

Menurut dia, idealnya neraca transaksi berjalan dapat surplus. Tapi, hal tersebut membutuhkan waktu yang lama. "Kita harus jadi negara eksportir dahulu supaya CAD kita surplus. Sehingga, yang paling instan itu melalui pasar modal. Bagaimana menjaga agar inflow asing tetap masuk sehingga bisa menopang CAD," ujarnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA