Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pialang memantau jalannya perdagangan saham di Mandiri Sekuritas, Jakarta, baru-baru ini.  Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID

Pialang memantau jalannya perdagangan saham di Mandiri Sekuritas, Jakarta, baru-baru ini. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID

2020, Penerbitan Obligasi Korporasi Masih akan Marak

Thereis Kalla, Kamis, 19 Desember 2019 | 19:06 WIB

JAKARTA, investor.id  – Mandiri Sekuritas perkirakan penerbitan obligasi korporasi masih akan marak di tahun 2020. Motif refinancing dan kebutuhan pendanaan untuk ekspansi perusahaan menjadi faktor pendorong penerbitan surat utang di tahun depan. 

Kepala Riset Fixed Income Mandiri Sekuritas Handy Yunianto menyatakan, di tahun depan obligasi yang akan jatuh tempo mencapai Rp 100 triliun, sehingga penerbitan obligasi lebih didasari kebutuhan untuk refinancing.

Ekspetasi kondisi ekonomi yang akan membaik juga akan menopang kinerja perusahaan-perusahaan untuk melakukan ekspansi.

“Jika memang kondisi ekonomi ada perbaikan, maka ruang untuk perusahaan melakukan ekspansi akan terbentuk, yang bisa membuat permintaan untuk penerbitan obligasi korporasi jadi lebih besar,” kata dia.

Menurut Handy, perbankan masih akan mendominasi penerbitan obligasi di tahun depan. “Perbankan, Multi Finance, masih akan ramai karena kebanyakan yang jatuh tempo dari sektor- sektor itu,” kata dia.

Handy menambahkan, secara umum hingga November 2019 penerbitan obligasi korporasi telah mencapai Rp 122 triliun, naik 17% dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp 104 triliun. Sedangkan nilai outstanding bertumbuh 7% menjadi Rp 472 triliun dibanding periode sama tahun 2018 sebesar Rp 439 triliun.

Adapun sektor bank berkontribusi 27% dari total penerbitan obligasi di tahun ini, diikuti oleh sektor Financial Institution 21%, Multi Finance 12%, Telco 8%, Electricity 7%, Infrastructure 9%, Minyak,gas dan pertambangan 4% dan sisanya diisi oleh sektor lainnya.

Handy memprediksi penerbitan obligasi korporasi baru di tahun depan akan sedikit melampaui pencapaian new issuance di tahun ini. “Kalo ini mungkin sekitar Rp 150 triliun, mungkin tahun depan akan melampaui sedikit,” tandasnya.

Outlook Pasar Obligasi 2020

Menurut Handy, pasar obligasi di 2020 lebih banyak akan dipengaruhi defisit neraca transaksi berjalan (Current Account Deficit/ CAD) dan partisipasi investor dalam negeri di pasar obligasi Indonesia. Dia memproyeksikan yield obligasi di tahun depan berada di kisaran 7,1% - 7,2%.

Handy menjelaskan kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara (SBN) di tahun 2019, sekitar 38%. Hingga Desember 2019 asing mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp 173 triliun pada SBN.

“Kita punya kepemilikan asing yang terlalu besar, kita juga menghadapi CAD yang besar, akibatnya negara-negara yang CAD nya besar umumnya, akan memberikan yield yang lebih tinggi, karena Indonesia butuh inflow, untuk menekan CAD,” ujarnya.

Dari sisi valuasi, lanjut Handy kedepan yield obligasi masih akan murah dan ditentukan oleh permintaan dan penawaran obligasi tersebut. “Yang menarik tiga tahun terakhir pemerintah mencoba prudent fiscal, budget defisitnya dibuat sebisa mungkin makin rendah, kenapa ini penting untuk pasar obligasi, karena dengan budget defisit yang diharapkan tetap rendah, suplainya akan turun,” jelas Handy.

Adapun suku bunga acuan BI, BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI-7DRRR), sampai dengan November 2019 tercatat turun empat kali secara berturut-turut dari Juli – Oktober 2019, atau menurun sebesar 100 bps menjadi 5,00%. Pelonggaran kebijakan moneter tersebut diambil sebagai langkah mendorong momentum pertumbuhan domestik di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia.

“Kami melihat masih ada ruang bagi BI untuk melanjutkan kebijakan moneter yang akomodatif dengan memangkas BI-7DRRR satu kali lagi sebesar 25 bps menjadi 4,75% di 2020,” ujar Handy.

Menurut Handy, terdapat tiga faktor yang menentukan arah pergerakan BI-7DRRR, yakni tingkat inflasi, pergerakan suku bunga acuan the Fed, dan posisi CAD. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, sampai dengan November 2019 tingkat inflasi domestik masih stabil dan terjaga.

Faktor kedua juga memberikan sinyal positif bagi ruang pelonggaran suku bunga acuan. Hasil pertemuan FOMC Desember 2019 mengindikasikan bahwa the Fed akan menahan FFR di tahun depan setelah memotong FFR sebesar 75 bps menjadi 1,75% di tahun ini.

Arah kebijakan the Fed yang dovish tersebut memberikan dampak positif bagi pasar keuangan global, terlihat dari aliran modal asing yang kembali masuk ke negara-negara EM, termasuk Indonesia.

Dari awal tahun sampai dengan pertengahan Desember 2019, tercatat terjadi aliran modal masuk bersih sebesar Rp.42,7 triliun pada pasar saham dan Rp.174 triliun pada pasar Surat Berharga Negara (SBN). Terakhir, CAD dilaporkan telah menyusut dari 2,93% dari PDB di 2018 menjadi 2,70% dari PDB di Januari – September 2019. Seiring dengan terus relatifnya membaiknya neraca perdagangan jika dibandingkan dengan posisi tahun lalu, kami memprakirakan CAD full-year 2019 akan berada pada kisaran 2,60% terhadap PDB.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA