Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dirut BEI Inarno Djajadi saat penutupan perdagangan saham hari terakhir di 2020. Sumber: BSTV

Dirut BEI Inarno Djajadi saat penutupan perdagangan saham hari terakhir di 2020. Sumber: BSTV

2021, BEI Targetkan Investor Pasar Modal Capai 4,83 Juta

Rabu, 30 Desember 2020 | 14:51 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan jumlah investor pasar modal yang terefleksi dari single investor identification (SID) sebesar 4,83 juta SID pada 2021, naik 25% dibanding realisasi akhir tahun ini sebanyak 3,87 juta SID. Tren kenaikan investor utamanya ritel domestik akan didukung oleh penguatan sistem digitalisasi serta peningkatan perlindungan investor pada tahun depan.

Direktur Utama BEI Inarno Djajadi mengatakan, langkah peningkatan perlindungan investor akan terlihat dari kenaikan nilai batasan ganti rugi pemodal dan kustodian oleh PT Penyelenggara Program Perlindungan Investor Indonesia (P3IEI). Berdasarkan keputusan anggota dewan komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor Kep-69/D.04/2020 tanggal 23 Desember 2020, nilai ganti rugi bagi pemodal menjadi maksimal sebesar Rp 200 juta, dari sebelumnya sebesar Rp 100 juta, sedangkan bagi kustodian ganti rugi yang dapat diberikan maksimal Rp 100 miliar dari sebesar Rp 50 miliar.

“Dana perlidungan investor sudah naik dua kali lipat, tentunya kita harap ini disambut baik oleh investor. Mengenai siapa yang pantas untuk mendapat dana ganti rugi tersebut, hal ini yang perlu kita identifikasi,” jelas Inarno dalam konferensi pers secara virtual, Rabu (30/12).

Sepanjang 2020, tren kenaikan jumlah investor memperlihatkan pertumbuhan yang impresif, bahkan saat pandemi Covid-19. Total investor pasar modal yang terdiri atas investor saham, obligasi, maupun reksa dana mengalami peningkatan sebesar 56% menjadi 3,87 juta SID hingga 29 Desember 2020.

Kenaikan investor ini tercatat empat kali lipat lebih tinggi dalam empat tahun terakhir, dari 894 ribu investor pada tahun 2016. Selain itu, investor saham juga naik sebesar 53% menjadi 1,68 juta SID. Jika dilihat dari jumlah investor aktif harian, terdapat 94 ribu investor hingga 29 Desember 2920, atau naik 73% dibandingkan akhir tahun lalu. Inarno menjelaskan, kenaikan jumlah investor akan semakin menggairahkan pasar modal, yang diharapkan membuat rata-rata nilai transaksi harian perdagangan saham di BEI sesuai target.

Sebagai informasi, dalam Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) BEI 2021 yang telah disahkan pemegang saham pada Oktober 2020, BEI menargetkan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) 2021 mencapai Rp 8,5 triliun. Sementara pada 2020, RNTH yang sempat turun pada awal-awal pandemi, kini berangsung-angsur pulih dan mencapai Rp 9,18 triliun.

Di tengah pandemi, kata Inarno, minat perusahaan untuk masuk ke pasar modal juga tidak surut. Hingga 30 Desember 2020, telah terdapat 51 emiten yang melakukan penawaran umum perdanan (initial public offering/IPO) saham. Alhasil, hingga saat ini total perusahaan tercatat di BEI menjadi 713 emiten Indonesia pun masih menjadi bursa dengan jumlah perusahan IPO terbanyak di ASEAN.

Pada 2021, BEI memasang target konservatif jumlah emiten baru lewat IPO yakni sebanyak 30 perusahaan. Menurut Inarno, pihaknya berharap calon-calon emiten dengan valuasi jumbo dapat merealisasikan aksi IPO pada tahun. Pihaknya menegaskan, RKAT 2021 akan terus ditinjau secara berkala dan menyesuaikan dengan kondisi pasar tahun depan.

Penyesuaian dengan kondisi pasar juga akan dilakukan pada sejumlah relaksasi sistem perdagangan yang sebelumnya diterapkan sejak Maret lalu lantaran pandemi, salah satunya batasan auto rejection bawah (ARB). Namun, BEI belum akan merubah ARB seperti kondisi normal dalam waktu dekat.

“Kita sama-sama menyadari batasan auto rejection digunakan saat kondisi pasar yang extraordinary karena Covid-19. Kalau ditanya, saat ini pun bermacam-macam prediksi, lalu apakah nanti vaksin datang dan distribusinya sesuai jadwal. Sebelum kondisi normal, kami tetap seperti sekarang ini. Tapi selalu di-review, tidak menutup kemungkinan kita kembali ke normal,” kata Inarno.  

Lebih lanjut, self-regulatory organization (SRO) telah melakukan peningkatan modal kepada PT IDX Solusi Teknologi Informasi yang akan digunakan untuk akusisi PT Micro Piranti Computer (MPC). Akuisisi MPC oleh IDXSTI telah dilaksanakan pada 21 Desember, sehingga IDXSTI secara resmi menjadi pemegang saham MPC dengan porsi kepemilikan sebesar 96% bersama dengan dua pemegang saham MPC lainnya. Langkah akuisisi oleh IDXSTI tersebut diharapkan dapat memberikan sinergi dan dukungan besar terhadap pengembangan serta pertumbuhan industri pasar modal Tanah Air.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN