Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Delta Dunia Makmur Tbk. Foto: Perseroan.

PT Delta Dunia Makmur Tbk. Foto: Perseroan.

2021, Belanja Modal Delta Dunia Makmur bakal Lebih Besar

Jumat, 18 Desember 2020 | 21:02 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) di bawah US$ 100 juta pada 2021. Meski demikian, capex tersebut bakal lebih besar dibandingkan 2020, seiring dengan membaiknya harga batu bara dunia.

Direktur Delta Dunia Makmur Eddy Purwanto mengatakan, pandemi membuat harga batu bara tertekan pada kuartal II dan kuartal III-2020. Hal ini turut membuat perseroan mengerem pengeluaran. Jika dalam kondisi harga batu bara yang baik, capex perseroan bisa mencapai US$ 300 juta per tahun. Namun, saat pandemi ini, perseroan baru menyerap capex US$ 18 juta hingga kuartal III-2020.

“Jadi apakah capex akan meningkat pada 2021, jawabannya ya. Karena ketika harga batu bara menguat, kami bisa menambah kontrak-kontrak jasa penambangan dan kami akan melakukan pembelian alat baru,” jelas dia saat paparan publik virtual, Jumat (18/12).

Menurut Eddy, pihaknya sudah melihat adanya penguatan harga pada kuartal IV-2020, namun untuk produksi batu bara perseroan belum bisa langsung pulih. Pasalnya, persedian batu bara yang sebelumnya tertahan akibat pandemi harus disalurkan terlebih dahulu, sebelum perseroan kembali menggenjot produksi.

Hal serupa juga terjadi pada pelanggan yang menyewa jasa kontraktor tambang perseroan. Menaikkan produksi juga butuh perhitungan yang matang. Faktor ini ditambah lagi dengan faktor cuaca seperti curah hujan yang tinggi menjelang akhir tahun.

Tahun depan, lanjut Eddy, perseroan masih fokus menjaga arus kas tetap sehat. Karena belum ada yang memastikan sampai kapan pandemi benar-benar bisa tuntas, maka efisiensi biaya tetap menjadi prioritas.

“Kalau ada kelebihan cash, kita bisa gunakan untuk keperluang pengurangan utang, karena ada amortitasasi dari pinjaman bank yang harus kami bayar. Tapi kami belum berniat buyback global bond yang jatuh tempo pada 2022,” jelas dia.

Sebagai informasi, Delta Dunia memiliki senior notes US$ 350 juta dengan kupon 7,75% per tahun. Likuiditas perseroan yang memadai tercermin dari rasio utang atau net debt to EBITDA 2,4 kali hingga September 2020.

Dari sisi operasional, perseroan melalui anak usahanya PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA), juga terus mencari kontrak-kontrak baru pada 2021. Kontrak baru bisa mengganti kontribusi dari kontrak-kontrak lama yang telah habis pada 2020. Semisal, kontrak pertambangan oleh PT Kideco Jaya Agung yang berjalan sejak 2004 telah usai.

Kontrak pertambangan dengan Kideco Jaya Agung, yang merupakan anak usaha PT Indika Energy Tbk (INDY) ini, berkontribusi 7,4% terhadap volume BUMA. Adapun pelanggan yang paling besar menyumbang terhadap total volume BUMA adalah Berau Coal dengan kontribusi mencapai 56,9% hingga kuartal III-2020. Area tambang Lati dan Binungan milik Berau Coal memiliki periode kontrak dengan BUMA hingga 2025.

Menurut Eddy, produksi batu bara perseroan dan industri secara keseluruhan kemungkinan akan kembali normal pada 2022 atau kembali seperti tahun 2018-2019.

Hingga kuartal III-2020, Delta Dunia membukukan pendapatan sebesar US$ 494,17 juta atau turun 28,41% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu US$ 690,33 juta. Kontribusi pendapatan terbesar berasal dari PT Berau Coal sebesar US$ 237,35 juta atau sekitar 48% dari keseluruhan total pendapatan, disusul oleh pendapatan dari PT Adaro Indonesia sebesar US$ 62,03 juta atau sekitar 13%, dan dari PT Indonesia Pratama sebesar US$50,48 juta atau sekitar 10% dari keseluruhan pendapatan.

Sementara itu, volume pemindahan lapisan tanah hingga kuartal III-2020 sebanyak 229,7 juta bcm atau turun 24% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Produksi batu bara turut mengalami penurunan sebanyak 11% menjadi 33,8 juta ton hingga kuartal III-2020. Volume dan pendapatan yang turun membuat perseroan mengalami kerugian sebesar US$ 3,69 juta hingga September 2020.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN