Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi digital. Foto: Fancycrave1 (Pixabay)

Ilustrasi digital. Foto: Fancycrave1 (Pixabay)

2021, Fundamental Emiten Teknologi Tetap Kuat

Rabu, 18 November 2020 | 22:42 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Emiten yang terkait dengan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) diyakini tetap memiliki fundamental yang kuat pada 2021, dengan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih yang lebih baik dibandingkan 2020. Selama pandemi tahun ini, sejumlah emiten di antaranya PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL), PT Link Net Tbk (LINK), PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), PT XL Axiata Tbk (EXCL), dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) telah membuktikan pencapaian kinerja yang solid.

Hingga kuartal III-2020, Metrodata mencetak kenaikan laba bersih 3,43% menjadi Rp 267,66 miliar dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 257,78 miliar. Pendapatan hanya turun tipis 1,82% menjadi Rp 10,04 triliun dari Rp 10,22 triliun.

Direktur Keuangan Metrodata Randy Kartadinata mengatakan, pandemi Covid-19 berpotensi membuat total pendapatan tahun ini menjadi Rp 14 triliun, lebih rendah dibandingkan 2019 sebesar Rp 15 triliun. Pihaknya mengakui, pandemi membuat total pasar industri TI turun, lantaran keterbatasan persediaan produk TI karena proyeksi pihak principal yang kurang tepat. Hal ini ditambah dengan banyak dealer yang tutup selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Produk-produk TI seperti prosesor dan laptop menjadi terbatas. Tapi harga produk masih tergolong baik, sehingga laba bersih perusahaan pada 2020 tidak akan berbeda jauh dibandingkan akhir 2019. Kami perkirakan sekitar Rp 350 miliar,” kata dia saat paparan publik virtual, Rabu (18/11).

Untuk tahun depan, kata Randy, Metrodata menargetkan pendapatan bisa bertumbuh 8% dan laba bersih naik 10%. Perseroan melanjutkan strategi transformasi binis digital, serta ekspansi jalur distribusi.

Perseroan juga fokus pada tren baru di pasar TI seperti produk gaming, cloud dan security. Dengan demikian, produk-produk TI yang dijual perseroan menjadi lebih terdiversifikasi pada tahun depan. Perseroan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 250 miliar pada 2021.

Direktur Utama Metrodata Susanto Djaja mengatakan, perseroan turut menjajaki peluang kolaborasi maupun akuisisi dengan perusahaan TI, baik distribusi maupun konsultasi. Perseroan berharap bisa menggandeng perusahaan konsultasi TI yang mengarah ke tren baru seperti cloud computing.

“Jadi, kami tidak membidik perusahaan konvensional yang menjual hardware. Karena sekarang kami ingin diversifikasi produk.  Pembicaraan dengan calon perusahaan yang akan diakuisisi masih dalam tahap awal, sehingga saya belum dapat ungkapkan detailnya,” jelas Susanto.

Produk komputasi awal diakui banyak dibutuhkan pelanggan Metrodata selama pandemi lantaran adanya penerapan work from home. Hal ini juga yang membuat perseroan optimistis mampu meningkatkan pendapatan berulang atau reccuring pada unit bisnis solusi dan konsultasi TI.

Menurut Susanto, sebelumnya porsi pendapaan recurring unit bisnis solusi dan konsultasi TI hanya 30% terhadap total pendapatan pada 2016. Namun, porsinya sudah bertambah menjadi 40% pada tahun ini. Ke depan, perseroan menargetkan porsi pendapatan reccuring tersebut meningkat menjadi 50%.

Fundamental

Di lain pihak, emiten telekomunikasi seperti Telkom dan XL berupaya mempertahankan fundamental tetap kuat di tengah pandemi. Telkom memang tercatat mengalami penurunan pendapatan 2,62% menjadi Rp 99,94 triliun hingga kuartal III-2020 dibandingkan kuartal III-2019 yang sebesar Rp 102,63 triliun. Namun, laba bersih perseroan bisa naik 1,34% menjadi Rp 16,67 triliun dari Rp 16,45 triliun.

SVP Corporate Communication & Investor Relation Telkom Ahmad Reza mengatakan, kemampuan perseroan menghasilkan laba bersih sangat penting, sehingga perseroan mampu membagikan dividen kepada pemagang saham. Dalam lima tahun terakhir, Telkom secara konsisten membagikan dividen dengan rasio rata-rata sebesar 75,4% dari laba bersih.

Telkom, kata Ahmad, memiliki fundamental yang kuat dengan portofolio bisnis yang terdiversifikasi serta memiliki peluang pertumbuhan yang baik di setiap segmen portfolio bisnisnya. Di segmen mobile, saat ini kinerja Telkomsel memang tertekan yang terutama disebabkan penurunan layanan legacy, yakni voice dan SMS, yang beralih ke data.

“Saat ini porsi layanan legacy masih cukup besar, sekitar 25% dari pendapatan Telkomsel. Ke depan, dengan semakin kecilnya porsi layanan, diharapkan momentum pertumbuhan Telkomsel akan terjadi dengan didorong oleh layanan data,” jelas dia.

Sementara itu, kompetitor Telkomsel, yakni XL membukukan pendapatan Rp 19,65 triliun hingga kuartal III-2020, meningkat 4,96% dibandingkan kuartal III-2019 yang mencapai Rp 18,72 triliun. XL pun meraih laba bersih Rp 2,07 triliun, meroket 315% dibandingkan kuartal III-2019 yang mencapai Rp 498,41 miliar.

Sebelumnya, Presiden Direktur XL Axiata Dian Siswarini mengatakan, pada kuartal IV-2020 ini, industri telekomunikasi memasuki era perang harga. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya operator telekomunikasi yang memberikan paket unlimited. Perang harga menambah efek negatif dari pandemi Covid-19.

Dengan melihat hal ini, XL Axiata menargetkan pertumbuhan pendapatan tahun ini bisa lebih baik dari pasar yang bertumbuh stagnan. Tahun lalu, XL membukukan pendapatan sebesar Rp 25 triliun. “Untuk tahun depan, kami perkirakan lebih baik atau sama dengan market (3,6%),” kata Dian.

Adapun, untuk margin EBITDA, perseroan menargetkan pertumbuhan sekitar 50% untuk tahun ini dan tahun depan. Target ini meningkat dibandingkan realisasi pada 2019 yang mencapai 39,6%. Untuk bisa mencapai pertumbuhan tersebut, XL Axiata akan melanjutkan investasi di luar Jawa. Hal ini sudah dimulai sejak tiga tahun terakhir.

Operator telekomunikasi yang diperkirakan masih ekspansif pada tahun depan juga membuat operator menara telekomunikasi optimistis terhadap kinerja yang solid.

Chief Financial Officer (CFO) Tower Bersama Infrastructure Helmy Yusman Santoso mengatakan, perseroan membidik tambahan 3.000 penyewa (tenant) baru secara organik pada 2021. Di samping itu, perseroan tetap membuka peluang akuisisi menara milik operator ataupun membeli saham perusahaan menara telekomunikasi. “Ke depan, kesempatan akuisisi menara baru selalu ada, hanya kita selalu menilai apakah menara tersebut menarik dari segi lokasi,” jelas dia.

Hingga kuartal III-2020, Tower Bersama membukukan laba bersih Rp 747,46 miliar atau tumbuh 22,1% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 611,96 miliar. Perolehan laba bersih sejalan dengan peningkatan pendapatan perseroan 13,5% menjadi Rp 3,93 triliun hingga kuartal III-2020 dibandingkan kuartal III-2019 sebesar Rp 3,46 triliun.

Layanan Internet

Lebih lanjut, peningkatan konsumsi masyarakat terhadap layanan internet hingga di rumah-rumah membuat emiten seperti Link Net terus memperluas jaringan fixed broadband. Presiden Direktur dan CEO Link Net Marlo Budiman mengatakan, perseroan merambah kota-kota baru demi menggaet banyak pelanggan. Tahun ini, perseroan berhasil menggelar jaringan home passed ke Bali, Cirebon, Cikampek, Purwakarta, Tegal, Jogjakarta, dan Kediri.

Perseroan telah menambah 30.679 home passed baru di berbagai kota pada kuartal III-2020, sehingga total home passed perseroan menjadi 2,65 juta per akhir September 2020. Sebanyak 68% jaringan tersebut berada di Jakarta dan sekitarnya, kemudian 19% di Surabaya, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Sementara, Bandung dan Semarang mengambil porsi 8%, sedangkan Medan dan Batam 5%.

Marlo menjelaskan, faktor-faktor seperti basis populasi Indonesia yang besar dan berusia muda, ekonomi yang bertumbuh, dan pengguna internet yang semakin luas mendorong peluang bisnis internet di masa depan. Pihaknya mencatat, target pasar di pulau Jawa saja cukup besar.

Hingga kuartal III-2020, Link Net mampu mengakuisisi 147 ribu pelanggan baru, sehingga total pelanggan perseroan naik signifikan menjadi 816 ribu per akhir September dari 668 ribu pelanggan pada akhir tahun lalu. Pencapaian tersebut juga sekaligus akuisisi pelanggan paling tinggi setidaknya dalam enam tahun terakhir.

Hingga kuartal III-2020, Link Net membukukan pendapatan sebesar Rp 2,95 triliun, naik 6,8% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 2,76 triliun.  Namun, laba bersih perseroan turun 9,5% menjadi Rp 698,90 miliar hingga kuartal III-2020 dibanding kuartal III-2019 sebesar Rp 772,85 miliar

Tahun depan, Link Net mengalokasikan belanja modal Rp 3,1 triliun untuk menopang ekspansi. Perseroan menargetkan selama 2021-2022 mampu menambah 250 ribu home passed baru.

Saham Pilihan

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta mengatakan, pihaknya merekomendasikan hold dan maintain buy pada saham-saham emiten telekomunikasi yang likuid, seperti TLKM dan EXCL. Apalagi, harga saham kedua emiten tersebut sudah hampir mencapai target saham yang dipatok pihaknya. Dalam waktu yang tak lama lagi, saham TLKM menuju posisi Rp 3.580 dan saham EXCL pada level Rp 2.500.

“Kalau saham TBIG saat ini polanya konsolidasi cenderung sideways, jadi investor kemungkinan masih wait and see. Sementara, saham LINK polanya sudah mulai uptrend, jadi bisa akumulasi beli, karena bisa menuju level resisten Rp 2.800 pada tahun depan,” jelas dia.

Untuk saham MTDL, kata Nafan, saat ini pergerakannya masih cenderung datar. Namun, laju saham MTDL bisa terapresiasi menjelang akhir tahun karena terbantu window dressing.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN