Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Foto ilustrasi: Tren bearish (beruang) vs bullish (banteng)

Foto ilustrasi: Tren bearish (beruang) vs bullish (banteng)

2021 Jadi Tahun 'Bullish' Pasar Saham

Kamis, 14 Januari 2021 | 23:12 WIB
Ghafur Fadillah

JAKARTA, investor.id - Tahun ini, pasar saham Indonesia bakal dibanjiri sentimen positif, mulai dari program vaksinasi hingga pelantikan Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat (AS). Kalangan praktisi dan analis bahkan memprediksi indeks harga saham gabungan (IHSG) mencapai level 7.300 pada akhir 2021.

Founder EMTRade Ellen May menjelaskan, meski sebelumnya pandemi menjadi downside bagi indeks, namun potensi upside masih ada sejalan dengan status Indonesia sebagai negara emerging market. Ke depan, indeks bahkan berpotensi menunjukkan penguatan pada kisaran 6.800 hingga 7.250. “Sehingga target 7.250 masih sangat rasional, menurut saya,” kata Ellen dalam acara Creative Money di BeritaSatu TV, baru-baru ini.

Dia menambahkan, EMTRade menilai indeks akan mengalami bullish hingga tahun 2022, mencontoh fenomena yang terjadi pada 2008 silam, dimana IHSG alami bullish selama tiga tahun.

Menurut dia, tahun ini menjadi permulaan tren penguatan indeks, sejalan dengan euforia vaksinasi yang sepanjang penerapannya dapat menopang pertumbuhan indeks sehingga dampaknya baru terasa pada akhir tahun nanti.

Lebih lanjut, potensi dana asing yang akan masuk semakin besar dengan penerapan Sovereign Wealth Fund (SWF)  dan Omnibus Law yang jadi perhatian pasar di awal tahun ini. Sedangkan dari sektor perbankan diprediksi masih jadi dominan penggerak indeks.

Untuk para investor, Ellen menyarankan untuk berinvestasi pada saham second liner berfundamental baik dari segi kinerja maupun keuangan yang memiliki valuasi harga yang murah karena sedang terdiskon.

Semisal saham-saham properti, yaitu PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), PT Ciputra Development Tbk (CTRA), dan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON). Saham emiten properti terbesar itu secara teknikal dalam area support.

Kemudian emiten ritel, seperti PT Ramayana Lestari Tbk (RALS) dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI). Lalu, jika vaksinasi berjalan dengan efektif, saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dapat jadi pilihan.

“Jangan sampai kita hanya berfokus pada saham yang saat ini sedang 'digoreng' atau digerakkan oleh suatu kelompok. Sebagai investor merupakan keharusan untuk jeli membedakan secara fundamental dan likuiditas dan juga teknikal,” ujar dia.

Strategi Investasi

Pada kesempatan yang sama, Founder PT Astronacci International Gema Goeyardi mengatakan, secara teknikal, indeks saat ini bergerak dalam konsolidasi besar dalam gelombang 4 dengan menggunakan grand theory dari elliot wave pada tahun 2020.

Dengan begitu, pada tahun 2021 indeks akan mengalami kenaikan atau bullish. Perbaikan GDP, vaksinasi dan sejumlah sentimen positif lainya juga diharapkan membawa indeks di atas area positif, bahkan mencapai level 7.300.

“Apabila kita mengacu pada indeks Dow Jones dengan target 31.500, berarti kita harapkan indeks akan terus mengikuti dan dari price action yang kita lihat angka 6.600 sampai 6.700 target yang harus dikejar oleh indeks sebagai upline,” kata dia.

Gema menambahkan, level minimum tersebut menjadi keharusan yang dicapai untuk membuktikan adanya demand besar yang masuk ke market agar tidak dianggap underperform. Meski demikian, rawan terkena koreksi yang biasanya terjadi akibat mengambil order beli dibawah oleh para investor yang belum sempat mengambil saham.

“Untuk investor pemula terutama milenial yang masuk saat pandemi, diharapkan tidak ketakutan apabila indeks terkoreksi hingga level 5.800 karena level tersebut masih dalam tren bullish, fenomena yang sama terjadi pada tahun 2009,” jelas dia.

Sementara itu, untuk saham pilihan, Gema menyarankan para investor sebaiknya menempatkan sebanyak 60-70% portofolio pada saham yang memiliki fundamental yang baik terutama pada saham yang sering memberikan dividen dan menginvestasikan sisanya di saham yang sedang running dan jangan melawan tren.

“Investor juga diharapkan mewaspadai tindakan yang tidak bertanggung jawab dari sejumlah orang yang menjebak investor retail untuk melakukan investasi pada saham yang memiliki fundamental buruk,” paparnya.

Dia menegaskan, praktik ini dalam dunia saham disebut dengan pump and dump yang sedang ramai dilakukan oleh beberapa influencer. Sejauh ini, pihak regulator yakni Bursa Efek Indonesia (BEI) telah melakukan dua teguran kepada emiten yang menggunakan praktik tersebut.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN