Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengunjung melihat pergerakan saham dengan telepon seluler di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pengunjung melihat pergerakan saham dengan telepon seluler di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

2021, Peluang 'Bullish' IHSG Terbuka Lebar

Rabu, 29 Juli 2020 | 10:30 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) diprediksi mampu mencapai level 5.300 pada akhir tahun ini. Jika skenario optimistis terus berlanjut, IHSG berpotensi menuju level 6.300-6.500 pada tahun depan.

Head of Technical Analysis Research Department BNI Sekuritas Andri Zakarias Siregar mengatakan, pihaknya belum menganalisis secara menyeluruh potensi IHSG tahun depan. Namun, pihaknya cenderung optimistis terhadap potensi bullish IHSG pasca pandemi Covid-19 pada 2021. Prediksi ini berkaca pada melonjaknya IHSG pasca wabah SARS tahun 2003.

“Selama 2003, IHSG rebound hingga 63%. Kalau kita ambil tengahnya, secara teknikal persentase kenaikan indeks untuk tahun depan bisa 30%,” kata Andri kepada Investor Daily di sela pemaparan outlook market di Jakarta, Selasa (28/7).

Dia menjelaskan, rentang rebound IHSG tahun depan sebenarnya terlebih dahulu melihat posisi IHSG akhir tahun ini. Selain pada kisaran 6.300-6.500, dalam skenario yang lebih optimistis lagi, IHSG dapat menyentuh posisi 6.500-6.700 pada akhir 2021. Hal ini dengan catatan IHSG bertengger di atas 5.500 pada akhir 2020.

Di sisi lain, lanjut Andri, agak sulit membayangkan posisi IHSG terus rebound sampai ke level 7.000 pada 2021. Hal ini dengan memperhitungkan sejumlah faktor, semisal dengan memperhatikan laju IHSG selama 2016-2020 yang memperlihatkan ketimpangan pada gerak saham-saham di sektor barang konsumsi dan perbankan. Sebagai catatan, dua sektor ini setidaknya menopang 65% pergerakan IHSG. “Saat ini banyak saham consumer yang turun, sementara perbankan naik. Jadinya agak berat bagi saham sektor perbankan untuk sendirian mengangkat IHSG,” jelas dia.

Selain itu, faktor masuknya arus dana asing (capital inflow) turut menjadi pertimbangan. Menurut Andri, capital inflow lebih agresif masuk ke pasar pada kuartal IV. Adapun terdapat potensi koreksi IHSG pada September, sebelum masuk ke area rebound di kuartal IV-2020. Pihaknya mencermati, investor biasanya masuk ke pasar pada periode Oktober hingga April.

Andri merekomendasikan investor untuk mengakumulasi saham di sektor tambang emas seperti PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). Hal ini dikarenakan sentimen penguatan komoditas emas dan laju saham MDKA yang beberapa kali menembus level resisten baru. Selain itu, saham PT Timah Tbk (TINS) juga bisa dipertimbangkan lantaran ada sentimen penguatan komoditas timah.

Pada kesempatan sama, Head of Equity Research PT BNI Sekuritas Kim Kwie Sjamsudin mengatakan, likuiditas global yang relatif besar sebagai imbas dari stimulus bank-bank dunia menjadi katalis postif pasar saham. Sentimen ini ditambah dengan penemuan vaksin Covid-19 yang meningkatkan kepercayaan pelaku pasar.

Sampai akhir tahun ini, BNI Sekuritas merekomendasikan saham-saham di sektor perbankan, seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Selain itu, sektor barang konsumsi seperti saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (ICBP) turut menjadi rekomendasi. Tak ketinggalan, saham BUMN seperti PT Jasa Marga Tbk (JSMR) dan Semen Indonesia Tbk (SMGR) juga bisa dilirik investor.

Sementara itu, Head of Research Division & Economist BNI Sekuritas Damhuri Nasution mengatakan, pulihnya pasar saham yang tergantung pulihnya ekonomi domestik sangat ditentukan oleh penanganan Covid-19. Kekhawatiran dunia internasional saat ini adalah potensi terjadinya gelombang kedua Covid-19, yang terlihat pada kenaikan-kenaikan kasus baru di sejumlah negara.

Namun, lanjut dia, secara fundamental mayoritas indikator ekonomi Indonesia masih terjaga. Semisal rendahnya tingkat inflasi, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang masih berada di sekitar fundamentalnya, serta penurunan suku bunga Bank Indonesia. Di luar itu, koreksi pertumbuhan ekonomi diakui menjadi kekhawatiran tersendiri karena melemahnya aktivitas konsumsi dan produksi.

“Kekhawatiran lainnya adalah tingkat pengangguran. Karena setiap krisis selalu membuktikan butuh waktu lama untuk tingkat pengangguran kembali ke level sebelum krisis. Ini yang menjadi pekerjaan rumah ke depan,” ujar Damhuri.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN