Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi bisnis. Foto: Credit Commerce (Pixabay)

Ilustrasi bisnis. Foto: Credit Commerce (Pixabay)

Bukalapak akan IPO Agustus, Target Dana US$ 800 Juta

23 Perusahaan Siap Masuk Bursa, Tidak Ada BUMN

Jumat, 18 Juni 2021 | 06:05 WIB
Nabil Al Faruq ,Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Sebanyak 23 perusahaan siap melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) dan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Jumlah tersebut berdasarkan pipeline BEI hingga 16 Juni 2021. Namun, dalam pipeline itu tidak ada BUMN.

“Ada 3 perusahaan yang akan melakukan penawaran umum perdana secara elektronik (electronic initial public offering/e-IPO). Selanjutnya, 20 perusahaan lainnya dapat kami sampaikan bahwa belum ada BUMN yang mengajukan permohonan pendaftaran pencatatan saham,” kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna, Kamis (17/6).

Dia menegaskan, 3 perusahaan yang akan melaksanakan e-IPO dan informasinya sudah bisa diakses melalui website eIPO adalah PT Bundamedik Tbk (BMHS), PT Bank Multiarta Sentosa Tbk (MASB), dan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI).

Secara rinci, perusahaan yang saat ini berada dalam pipeline terdiri atas 3 perusahaan aset skala kecil (di bawah Rp 50 miliar), 9 perusahaan aset skala menengah (antara Rp 50-250 miliar), dan 11 perusahaan aset skala besar (di atas Rp 250 miliar).

Dilihat dari sektornya, yaitu 1 perusahaan dari sektor basic materials, 4 perusahaan dari sektor industrials, 1 perusahaan dari sektor transportation & logistics, 3 perusahaan dari sektor consumer non-cyclicals, 2 perusahaan dari sektor consumer cyclicals, 1 perusahaan dari sektor properties & real estate, 3 perusahaan dari sektor technology, 2 perusahaan dari sektor healthcare, 3 perusahaan dari sektor energy, dan 3 perusahaan dari sektor financial.

Sebelumnya, induk usaha PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk (DGNS), yakni PT Bundamedik, dikabarkan akan melakukan e-IPO dengan melepas sebanyak-banyaknya 620 juta saham atau setara dengan 7,26% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah penawaran umum dan pelaksanaan konversi obligasi.

Direktur Utama Bundamedik Mesha Rizal Sini menyebutkan, harga saham yang akan dilepas berkisar Rp 300-350 per saham. Dengan demikian, perseroan akan meraih dana Rp 217 miliar dari aksi korporasi ini.

“Dana raihan IPO sebesar Rp 157 miliar lebih akan digunakan perseroan untuk membeli kembali sisa pokok obligasi dari Akasya Investment. Sisanya akan digunakan perseroan untuk modal kerja antara lain pembelian obat, alat medis, dan kebutuhan penunjang lainnya,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Bersamaan dengan pelaksanaan IPO, perseroan juga menerbitkan saham konversi obligasi kepada Akasya Investment Ltd dalam rangka pelaksanaan konversi obligasi sebanyak 421,41 juta saham biasa dengan harga Rp 340 setiap saham. Maka, jumlah obligasi yang akan dikonversi sebesar Rp 143,28 miliar.

Masa penawaran awal saham atau bookbuilding berlangsung mulai 17 Juni 2021 hingga 22 Juni 2021. Perseroan berharap mendapatkan pernyataan efektif pada 28 Juni 2021. Kemudian, masa penawaran umum pada 30 Juni-2 Juli 2021 dan pencatatan saham di BEI pada 6 Juli 2021. Bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek adalah PT Ciptadana Sekuritas Asia.

IPO Bukalapak

Sementara itu, Bukalapak dikabarkan akan IPO pada Agustus 2021. Adapun target dana dari IPO tersebut mencapai US$ 800 juta atau lebih besar dari perkiraan awal yang senilai US$ 300 juta.

Berdasarkan laporan Reuters dari beberapa sumber yang mengetahui hal itu, Bukalapak akan menjadi perusahaan teknologi raksasa (big tech) pertama yang akan mencatatkan sahamnya di BEI. Selain Bukalapak, bakal ada satu lagi big tech yang akan tercatat di BEI.

Adapun Bukalapak berencana melepaskan 10-15% saham ke publik dan menargetkan valuasi sekitar US$ 4-5 miliar. Prospektus pencatatan saham telah diserahkan kepada BEI. Dari aksi tersebut, Bukalapak menargetkan dana sekitar US$ 500-800 juta, tergantung dari kondisi pasar dan permintaan investor.

IPO Bukalapak tampaknya akan menjadi aksi pencatatan saham terbesar dalam 10 tahun terakhir dan yang pernah ada di Indonesia. Namun, rencana ini disinyalir akan dilakukan setelah rencana pencatatan saham GoTo, perusahaan hasil merger Gojek dan Tokopedia.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengakui, sudah terdapat satu e-commerce yang telah menyampaikan dokumen IPO. Namun, dia belum bersedia menyebutkan nama e-commerce tersebut hingga OJK menyetujui penerbitan prospektus awal kepada publik sebagaimana diatur dalam Peraturan OJK No IX.A.2.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN