Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Astra Agro Raih ESG Award 2020

Astra Agro Raih ESG Award 2020

Prospek Astra Agro Setelah Kinerja Melonjak

Rabu, 23 Desember 2020 | 04:46 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Tren kenaikan harga jual minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan penurunan pajak perusahaan menjadi sentiment positif terhadap kinerja keuangan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI). Penguatan harga tersebut diharapkan berlanjut pada 2021 sejalan dengan aktivitas ekonomi global yang diyakini membaik.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Andreas Kenny mengungkapkan, penurunan pajak yang ditanggung perseroan dari 25% menjadi 22% ditambah peningkatan rata-rata harga jual CPO mendongkrak kinerja keuangan Astra Agro hingga kuartal III-2020.

“Sudah terlihat dari realisasi kinerja keuangan hingga September. Hal ini mendorong kami untuk merevisi naik target laba bersih perseroan pada 2020 dan 2021,” tulis dia dalam risetnya.

Astra Agro membukukan lonjakan laba bersih sebesar 424% menjadi Rp 583 miliar hingga kuartal III-2020 dibandingkan periode sama tahun lalu senilai Rp 111 miliar. Pendapatan naik 7,6% menjadi Rp 13,32 triliun dari Rp 12,38 triliun.

Ruangan aplikasi yang diberi nama Melli (mill excellent indicator). Foto: dok. Astra Agro
Ruangan aplikasi yang diberi nama Melli (mill excellent indicator). Foto: dok. Astra Agro

Pendapatan dan laba bersih tersebut setara dengan 66,2% dan 87,1% dari proyeksi BRI Danareksa Sekuritas atau setara dengan 71,5% dan 71,5% dari konsensus analis. Sebab itu, Andreas merevisi naik target laba bersih Astra Agro tahun ini dari Rp 669 miliar menjadi Rp 901 miliar. Target pendapatan dipertahankan sebesar Rp 20,12 triliun. Begitu juga dengan perkiraan laba bersih Astra Agro tahun 2021 yang direvisi naik dari Rp 785 miliar menjadi Rp 1,05 triliun.

Perkiraan pendapatan tahun depan dipertahankan sebesar Rp 21,26 triliun. Tahun lalu, perseroan membukukan pendapatan dan laba bersih masing-masing Rp 17,45 triliun dan Rp 211 miliar.

BRI Danareksa Sekuritas juga merevisi naik target harga saham AALI menjadi dari Rp 12.500 menjadi Rp 13.000 dengan rekomendasi beli. Target harga tersebut juga menggambarkan keyakinan bahwa harga jual CPO akan tetap berada di atas 2.700 ringgit Malaysia per ton hingga akhir tahun ini. Fenomena La Nina diperkirakan berimbas terhadap penurunan minyak nabati di Brasil dan Argentina.

Belanja Modal

Astra Agro Raih Tempo Country Contributor Award 2020
Astra Agro Raih Tempo Country Contributor Award 2020

Astra Agro memperkirakan belanja modal (capital expenditure/ capex) sebesar Rp 1,2 triliun pada 2021 atau naik 9% dibandingkan anggaran tahun ini yang senilai Rp 1,1 triliun. Seluruh dana capex akan berasal dari hasil operasional perseroan.

Presiden Direktur Astra Agro Lestari, Santosa mengatakan bahwa perseroan akan mengalokasikan dana sebesar Rp 700 miliar untuk tanaman muda dan replanting, sedangkan sebanyak Rp 250 miliar untuk keperluan pabrik serta pelabuhan.

Perseroan juga akan menyerap sisa_capex untuk infrastruktur dan fasilitas pendukung lain.

CEO PT Astra Agro Lestari Tbk, Santosa. Foto: Astra Agro
CEO PT Astra Agro Lestari Tbk, Santosa. Foto: Astra Agro

“Tahun depan, kamiberharap produksi nasional CPO bisa lebih baik dari tahun ini yang menurun. Dari sisi_demand, semoga tidak ada penurunan pada 2021 mengingat sampai sekarang banyaknegara masih sibuk dengan pandemi,” jelas dia kepada Investor Daily.

Santosa menegaskan, pelaku industri CPO harus siap mengantisipasi kondisi terburuk kedepan. Bila ekonomi di Negara utama pengguna CPO seperti Tiongkok dan India masihmengalami pandemi Covid-19, tapi produksi akan naik, maka dampaknya harga CPO berpotensi turun.

Di sisi lain, jika produksi tidak dinaikkan, maka efeknya ongkos produksi yang bertambah. Dia menambahkan, kunci utama indutri kelapa sawit berada pada program biodieselpemerintah dan biaya subsidinya saat ini sangat mahal, demi menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan di tingkat global. Pihaknya menyadari harus siap menghadapi segala kemungkinan pada 2021, termasuk prediksi lembaga pemeringkat Fitch Ratings.

Baru-baru ini, Fitch Ratings menyatakan bakal merevisi penilaian terhadap sektor CPO nasional. Sebenarnya Fitch sempat memperkirakan tariff baru pungutan ekspor sawit dapat mendukung pertumbuhan konsumi biodiesel Indonesia, yang bisa berdampak pada penguatan harga CPO. Namun, Fitch melihat terdapat sejumlah risiko mengingat rekam jejak Indonesia dalam menerapkan pungutan ekspor.

Prospek CPO

Kebun Sawit. Foto ilustrasi: DEFRIZAL
Kebun Sawit Astra Agro. Foto: DEFRIZAL

Sementara itu, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan mengungkapkan, produksi CPO Malaysia diperkirakan meningkat 3% menjadi 17,5 juta ton pada 2021 dan tumbuh 5% menjadi 18,4 juta ton pada 2022. Target volume produksi tersebut telah memfaktorkan La Nina hingga awal tahun 2021.

Menurut dia, peningkatan produksi itu akan berpengaruh terhadap perkiraan pertumbuhan volume ekspor CPO Malaysia menjadi 18,3 juta ton pada 2021 dan sebanyak 19,4 juta ton pada 2022 dibandingkan dengan perkiraan ekspor CPO Malaysia tahun 2020 sebanyak 17,4 juta ton. Hal ini bisa menjadi risiko baru terkait harga jual komoditas tersebut tahun depan.

Adapun impor CPO India diperkirakan meningkat sekitar 8% menjadi 6,2 juta ton pada 2021 dan kembali diharapkan naik sekitar 7% menjadi 6,7 juta ton pada 2022.

Permintaan impor CPO Tiongkok diperkirakan naik 7% menjadi 6,9 juta ton pada 2021 dan meningkat 5% menjadi 7,2 juta ton pada 2022.

“Peningkatan permintaan ini diharapkan bisa mengimbangi kenaikan ekspor CPO Malaysia, sehingga berdampak terhadap kestabilan harga jual,” tulis Andy dalam risetnya.

Di dalam negeri, kondisinya berbeda. Menurut dia, volume produksi CPO Indonesia diperkirakan turun menjadi 42 juta ton pada 2021 dari perkiraan semula 43 juta ton. Sedangkan volume produksi tahun 2022 diperkirakan naik tipis menjadi 42,5 juta ton.

“Peningkatan volume produksi tahun 2022 tersebut memang bisa menaikkan risiko terhadap harga jual CPO dalam jangka pendek, apalagi Indonesia sebagai produsen CPO terbesar di dunia,” jelas Andy.

Dari sisi permintaan CPO dalam negeri, dia menyebutkan bahwa ada tiga tantangan besar. Pertama, Indonesia kembali menerapkan pungutan ekspor CPO untuk mendukung program biodiesel di dalam negeri.

Kedua, Indonesia kemungkinan menghentikan sementara program biodiesel B40 tahun 2021 akibat kenaikan rata-rata harga jual CPO.

Ketiga, pemerintah kemungkinan menurunkan target campuran biodiesel dengan minyak bumi yang mencapai 9,2 juta liter tahun 2021 dibandingkan target tahun ini sebanyak 9,6 juta liter.

Ketiga faktor tersebut akan berpengaruh terhadap tren permintaan CPO di dalam negeri sepanjang tahun 2021. Hal ini seiring dengan rendahnya harga minyak dunia.

Mirae Asset Sekuritas merevisi naik harga CPO tahun ini menjadi 3.000 ringgit Malaysia per ton dan diharapkan meningkat menjadi 3.200 ringgit Malaysia per ton pada 2022. Peningkatan harga tersebut mendorong Mirae untuk mempertahankan rekomendasi overweight untuk saham-saham CPO.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN