Menu
Sign in
@ Contact
Search
Karyawan melintas di depan layar elektronik yang menampilkan pergerakan harga saham di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Karyawan melintas di depan layar elektronik yang menampilkan pergerakan harga saham di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pemulihan Ekonomi Jadi Fokus Utama Pasar

Rabu, 23 Desember 2020 | 08:51 WIB
Ghafur Fadillah (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada akhir tahun 2020 mengalami perlambatan minus 2,9% hingga 0,9%.

Seiring dengan penerimaan negara hingga November 2020 hanya mencapai 83,7% dari target atau setara dengan Rp 1.423 triliun.

“Penurunan penerimaan ini disebabkan oleh iklim bisnis yang belum pulih akibat pandemi. Selain itu, alur birokrasi yang menghambat penyerapan dana pemulihan ekonomi juga jadi faktor pelemahan,” jelas Pilarmas dalam risetnya, Rabu (23/12).

Pemulihan ekonomi yang berjalan lambat pada kuartal-IV, tercermin dari konsumsi yang diperkirakan masih terkontraksi -3,6% hingga -2,6%. Kemudian, pembentukan modal tetap bruto atau diperkirakan -4,3% sampai -4%. Konsumsi pemerintah -3,6%. Ekspor di -2,6% hingga -0,6% dan impor -18,3% sampai -15,5%. Sehingga secara keseluruhan ekonomi Indonesia diproyeksikan terkontraksi -2,2% hingga -1,7%.

Lebih lanjut, Pilarmas menilai, kabar tersebut dapat menjadi penekan pergerakan IHSG yang saat ini sedang dalam tren bullish. Ditambah dengan kabar  penyebaran virus dalam jenis baru turut meningkatkan kekhawatiran para pelaku pasar.

“Di sisi lain, hari libur panjang memberikan efek psikologis pada pelaku pasar yang cenderung konservatif dalam berinvestasi. Menjelang akhir tahun kami melihat pergerakan IHSG dan rupiah cukup terbatas,”papar Pilarmas.

Sementara itu, data terbaru menunjukkan perekonomian India menunjukan perbaikan. Secara bertahap beberapa sektor industri di India mengalami peningkatan hingga akhir November 2020.

Secara rinci Pilarmas menjelaskan, sektor jasa di India mengalami peningkatan dalam 2 bulan berturut turut, lalu Indeks Manajer Pembelian saat ini konsisten di atas 50. Dengan demikian proses pemulihan India berjalan dengan stabil. Ekspor farmasi dan pertanian menjadi salah satu daya dorong utama.

“Business Activity, Order Books, dan Output prices ketiganya menunjukkan kurva v shaped yang diharapkan oleh para pelaku pasar. Meski demikian industri manufaktur kehilangan beberapa momentum yang dimana mengalami penurunan,” jelas Pilarmas.

Hal tersebut sejauh ini memberikan indikasi bahwa inflasi akan bergerak lebih stabil yang membuat Bank Sentral India tidak akan menurunkan tingkat suku bunga lebih lanjut.

Selain itu, Bank Sentral India mencatatkan bahwa kredit mengalami pertumbuhan lebih dari 5.5% bahkan lebih tinggi  dari periode sebelumnya yakni 5.1%.

Sejauh ini bauran kebijakan antara Bank Sentral India dan pemerintah masih menjadi kunci untuk mendorong perekonomian menjadi lebih baik. Namun disatu sisi, Pilarmas mengatakan penyebaran virus di India berpotensi untuk menekan perekonomian apabila tidak segera diatasi dengan cepat.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com