Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Jack-up rig Hakuryu-14 di Wilayah Kerja (WK) Mahakam yang dikerjakan oleh PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM).

Jack-up rig Hakuryu-14 di Wilayah Kerja (WK) Mahakam yang dikerjakan oleh PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM).

Pertamina Galang Dana US$ 1,9 Miliar via 'Yankee Bond'

Jumat, 5 Februari 2021 | 05:40 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Pertamina (Persero) menghimpun dana US$ 1,9 miliar (Rp 26,6 triliun) dari penerbitan obligasi global di pasar Amerika Serikat (AS) atau yankee bond. Obligasi tersebut terbagi atas dua seri, yakni sebesar US$ 1 miliar untuk tenor 5 tahun dan US$ 900 juta untuk tenor 10 tahun.

Seri bertenor 5 tahun meraih yield 1,4%, sekaligus memecahkan rekor sebagai obligasi dolar AS dari perusahaan Indonesia dengan tingkat kupon terendah. Pesanan yang masuk untuk seri 5 tahun lebih dari US$ 2,3 miliar atau oversubscribed 2,3 kali. Porsi pesanan investor dari Asia Pasifik sebesar 50%, investor Eropa, Timur Tengah, dan Afrika sebanyak 27%, serta investor AS dan lainnya 23%.

“Sementara, untuk obligasi bertenor 10 tahun mendapatkan yield 2,3%. Pesanan yang masuk mencapai US$ 2,5 miliar atau oversubscribed 2,5 kali,” sebut BondEvalue dalam laporannya, Kamis (4/2).

Laporan tersebut mengungkapkan, pesanan investor dari Asia Pasifik untuk seri 10 tahun mengambil porsi 59%, investor Eropa, Timur Tengah, dan Afrika sebanyak 27%, serta investor AS dan lainnya 14%.

Saat dikonfirmasi, SVP Corporate Communication & Investor Relations Pertamina Agus Suprijanto mengatakan, detail mengenai penggunaan dana hasil emisi obligasi akan diumumkan kemudian. “Sesuai peraturan AS, saat ini kami masih quiet period,” kata dia kepada Investor Daily.

Sementara itu, Moody's Investors Service menetapkan peringkat Baa2 untuk surat utang teranyar Pertamina ini. Peringkat untuk baseline credit assessment (BCA) atau penilaian kredit dasar perseroan adalah Baa3. Prospek perusahaan ditetapkan stabil.

Lembaga pemeringkat internasional lainnya, Fitch Ratings turut menyematkan peringkat BBB terhadap yankee bond Pertamina. Surat utang tersebut merupakan bagian dari program medium term notes (MTN) global dengan plafon US$ 20 miliar. Dana hasil penerbitan obligasi akan digunakan untuk belanja modal dan keperluan umum perusahaan.

“Peringkat Pertamina sama dengan peringkat induknya, Indonesia. Penilaian kami didasarkan tentang keterkaitan yang sangat kuat antara Pertamina dan Indonesia, serta insentif yang sangat kuat dari negara untuk memberikan dukungan ke Pertamina,” tulis Fitch dalam keterangan tertulis, baru-baru ini.

Fitch menilai, standalone credit profile (SCP) Pertamina di BBB lantaran profil keuangan perseroan yang tangguh dalam melalui siklus harga minyak, produksi hulu berbiaya rendah, dan operasi terintegrasi. Namun, peringkat SCP dibatasi oleh risiko regulasi terkait harga bahan bakar.

Fitch mengharapkan, Pertamina mempertahankan profil keuangan yang memadai terkait SCP selama empat hingga lima tahun ke depan. Fitch memperkirakan, EBITDA Pertamina turun sekitar 20% menjadi US$ 6,5 miliar pada 2020. Hal ini dipicu oleh penurunan produksi hulu dan volume bahan bakar eceran.

Fitch memprediksi, EBITDA Pertamina bisa meningkat selama empat tahun ke depan dengan volume produksi hulu yang tinggi, menyusul penambahan aset hulu baru. Fitch turut memperkirakan, volume penjualan ritel akan kembali meningkat ke level sebelum pandemi pada 2022 dan harga ritel bakal stabil.

“Metrik kredit Pertamina kemungkinan tidak akan terlalu terpengaruh oleh harga minyak yang lebih rendah, terutama karena kami perkirakan harga jual eceran perseroan akan tetap stabil hingga 2024,” ungkap Fitch.

Fitch juga berekspektasi harga minyak yang rendah dan harga jual yang stabil bisa mengurangi kebutuhan subsidi dan bentuk kompensasi negara lainnya selama dua tahun ke depan. Reimbursement kemungkinan akan turun menjadi sekitar US$ 3-4 miliar  per tahun hingga 2022 dari US$ 4,8 miliar pada 2019.

Pertamina dinilai berhak atas kompensasi sebesar US$ 5,4 miliar sejak 2017 karena menjual sejumlah jenis bahan bakar yang dikendalikan pada harga di bawah pasar. Namun, Fitch tidak memperkirakan Pertamina akan meminta kompensasi tersebut hingga 2023.

Sementara itu, volume hulu Pertamina diprediksi akan meningkat 10% per tahun pada 2021 dan 2022 setelah mengambil alih ladang minyak Rokan pada akhir 2021. Fitch mengasumsikan produksi hulu akan tetap stabil setelah 2022 karena investasi perusahaan di lapangan baru dan upaya meningkatkan atau mempertahankan produksi di lapangan yang sudah ada. Operasi hulu Pertamina juga mendapat keuntungan dari posisi biaya tunai yang kuat di bawah US$ 11 per barel setara minyak pada 2019.

Adapun rasio dana operasi (funds from operation/FFO) terhadap utang bersih Pertamina turun menjadi sekitar 1,5 kali pada 2020 dari 1,9 kali pada 2019. Hal ini karena Pertamina mengurangi biaya operasional dan belanja modal demi mengurangi dampak penurunan pendapatan.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN