Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
 Gajah Tunggal. Foto: Ist

Gajah Tunggal. Foto: Ist

Setelah Lo Kheng Hong Borong Saham Gajah Tunggal, Terbitlah 'Global Bond' US$ 270 Juta

Selasa, 9 Februari 2021 | 05:48 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) berencana menerbitkan surat utang global (global bond) maksimal senilai US$ 270 juta, yang ditargetkan jatuh tempo pada 2026. Aksi korporasi ini merupakan upaya perseroan untuk membiayai kembali (refinancing) senior secured notes US$ 250 juta yang jatuh tempo pada 10 Agustus 2022.

Kepastian mengenai suku bunga akan ditentukan saat bookbuilding penerbitan surat utang baru. Perseroan akan mempertimbangkan tingkat suku bunga yang berlaku di pasar.

Rencana ini juga wajib melewati persetujuan pemegang saham, lantaran termasuk transaksi material. Nilai penebitan surat utang baru yang setara Rp 4 triliun ini mencerminkan 64,82% dari ekuitas perseroan per 30 September 2020. “Perusahaan menjadwalkan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 15 Maret 2021,” jelas manajemen Gajah Tunggal dalam keterangan tertulis, Senin (8/2).

Manajemen perseroan mengungkapkan, penerbitan surat utang baru akan membuat posisi likuiditas perusahaan lebih bagus, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Hal ini mengingat surat utang baru akan memperpanjang jatuh tempo kewajiban perseroan dari jangka pendek menjadi jangka panjang.

Sebagai informasi, kewajiban senior secure notes US$ 250 juta sebelumnya diterbitkan Gajah Tunggal pada 10 Agustus 2017, kemudian telah diubah berdasarkan first supplemental indenture pada 8 Januari 2019. Surat utang ini memiliki tingkat bunga 8,375%.

Sebelumnya, investor kawakan, Lo Kheng Hong telah meningkatkan kepemilikan sahamnya pada Gajah Tunggal menjadi 5,06% dari sebelumnya yang sebesar 4,27%. Transaksi pembelian saham Gajah Tunggal dilakukan pada 30 Desember 2020 dan 4 Januari 2021.

Pada periode tersebut, Lo Kheng Hong yang dikenal sebagai Warren Buffett-nya Indonesia itu memborong saham Gajah Tunggal sebanyak 27,61 juta saham, sehingga saat ini dia mengantongi 176,48 juta saham.

Harga pembelian saham produsen ban tersebut berkisar Rp 650-680 per saham. Dengan demikian, nilai pembelian saham secara keseluruhan mencapai Rp 18,1 miliar. “Transaksi ini bertujuan untuk investasi," kata Lo Kheng Hong dalam keterangannya.

Marak

Rencana penerbitan global bond Gajah Tunggal menambah daftar perusahaan yang juga bersiap menggelar aksi serupa. Salah satunya adalah PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) yang merancang penerbitan global bond hingga US$ 400 juta.

Emiten perkebunan kelapa sawit itu menilai strategi menerbitkan obligasi baru akan memberikan manfaat terhadap kondisi keuangan, memperpanjang profil jatuh tempo utang perseroan, dan melaksanakan rencana sejalan dengan strategi bisnis yang disusun perseroan.

Manajemen perseroan juga mengharapkan likuiditas keuangan  terjaga mengingat obligasi baru ini memiliki tenor yang lebih panjang daripada obligasi dan fasilitas kredit yang ada saat ini. “Mengingat tingkat suku bunga obligasi baru tetap dan pembayaran pokok obligasi tidak teramortisasi selama periode obligasi, diharapkan nantinya perseroan dapat lebih memaksimalkan penggunaan dana itu untuk meningkatkan pertumbuhan laba,” jelas manajemen.

Tunas Baru Lampung berencana menggelar RUPSLB pada 15 Maret 2021 untuk meminta restu pemegang saham atas rencana penerbitan obligasi baru.

Selain Tunas Baru Lampung, PT Pan Brothers Tbk (PBRX) turut menyiapkan global bond dengan target emisi US$ 350 juta. Surat utang itu ditargetkan jatuh tempo pada 2026. Perseroan akan menggunakan dana hasil penerbitan untuk membayar global bond 2022 dan sindikasi bank US$ 138,5 juta. Emiten tekstil dan garmen ini telah meraih persetujuan pemegang saham pada 26 Januari lalu.

Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings berpendapat, jika penerbitan global bond Pan Brothers berjalan lancar, maka hal tersebut akan memperbaiki profil jatuh tempo utang perseroan secara signifikan. Namun, perseroan harus terlebih dahulu mengatasi utang yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat dan meredakan sentimen negatif investor terhadap sektor tekstil.

Sementara itu, berdasarkan catatan Investor Daily, sedikitnya lima perusahaan Indonesia berhasil menjaring minat investor dalam penerbitan global bond sejak Januari hingga saat ini.

Perusahaan tersebut antara lain PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) dengan emisi US$ 300 juta, PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) dengan format sustainability bond senilai US$ 150 juta, PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) melalui anak usahanya, PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA), meraih dana US$ 400 juta dari global bond, PT Ciputra Development Tbk (CTRA) dengan emisi Sin$ 125 juta, dan terbesar PT Pertamina (Persero) dengan format yankee bond senilai US$ 1,9 miliar.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN