Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pekerja beraktivitas di depan layar elektronik di Bursa Efek Indonesia di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pekerja beraktivitas di depan layar elektronik di Bursa Efek Indonesia di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Awal 2021, Investor Pasar Modal Tembus 4,22 Juta Nasabah

Selasa, 2 Maret 2021 | 16:41 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat berlanjutnya penambahan jumlah investor di pasar modal menjadi 4,22 juta investor hingga akhir Januari 2021, dibandingkan akhir tahun lalu 3,9 juta pemodal. Penambahan tersebut didominasi investor ritel.

Ketua DK OJK Wimboh Santoso
Ketua DK OJK Wimboh Santoso

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, penambahan signifikan jumlah investor tersebut didominasi pesatnya peningkatan jumlah investor ritel dan milenial. Berdasarkan data investor ritel dan moilenial mendominasi masing-masing sebanyak 99% dan lebih dari 50%.

Peningkatan jumlah investor ini, lanjut Wimboh, seiring dengan peningkatan aktivitas di pasar modal. Pada Februari 2021, frekuensi transaksi di pasar modal mencapai 1,49 juta kali per hari. "Bahkan, pada 14 Januari menjadi tanggal terjadinya transaksi tertinggi dalam sehari," jelas Wimboh dalam acara MNC Investor Forum, Selasa (2/3).

Dari sisi aliran modal asing, OJK mencatat ada aliran dana pemodal asing ke pasar saham sebesar Rp 14,54 triliun dari akhir Desember 2020 hingga Februari 2021. Aliran modal asing ini terbanyak terjadi pada Januari 2021 dengan nilai Rp 10,94 triliun.

Berbeda dengan pasar saham, investor asing justru terlihat melakukan aksi jual di pasar obligasi. Wimboh mengungkapkan, setelah sempat melakukan aksi beli sebesar Rp 13,41 triliun pada Januari 2021, investor asing justru melakukan aksi jual sebesar Rp 15,92 triliun pada Februari 2021.

Hingga akhir 2021, OJK menargetkan total penghimpunan di pasar modal bisa mencapai Rp 150-180 triliun. Hal ini diikuti oleh peningkatkan performa di sektor industri jasa keuangan yang lain.

Dia mengungkapkan, tahun ini, pihaknya memproyeksi pertumbuhan kredit sekitar 7,5% dengan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 11%. Pertumbuhan ini dengan memperhatikan pemulihan ekonomi nasional.

OJK juga mengeluarkan kebijakan restrukturisasi untuk bisa menjaga kinerja perbankan di tengah pandemi Covid-19. Hingga 8 Februari 2021, total kredit perbankan yang sudah direstrukturisasi mencapai Rp 987,5 triliun dengan porsi terbanyak dari sektor non-UMKM sebesar Rp 599,15 triliun.

Sementara untuk mendukung pemulihan ekonomi, OJK juga mengeluarkan kebijakan di bidang pasar modal melalui pelarangan short selling, melakukan trading halt, penyesuaian batas auto rejection dan kebijakan melakukan tanpa melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Kemudian untuk meningkatkan permintaan masyarakat, OJK juga mengeluarkan kebijakan uang muka (down payment) 0% untuk pembiayaan properti. Kebijakan uang muka 0% ini juga bisa diterapkan untuk pembiayaan kendaraan melalui bank. "Namun hanya bank yang memiliki risk profil 1 dan 2 yang bisa memberikan kebijakan uang muka itu," terang dia.

Terlepas dari kebijakan itu, peningkatan permintaan masyarakat sudah mulai terlihat. Dari sisi indeks manufacturing PMI expansion zone sudah meningkat menjadi 52,2 pada Januari 2021 dari 51,3 pada Februari 2021. Penjualan mobil juga meningkat 6,1% pada Januari 2021 dibandingkan Desember 2020. Penjualan ritel juga meningkat 4,8% pada Desember 2020.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN