Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi rapat. Foto: rawpixel (Pixabay)

Ilustrasi rapat. Foto: rawpixel (Pixabay)

Tunas Baru dan Gajah Tunggal Bersiap Rilis Global Bond US$ 670 Juta

Selasa, 16 Maret 2021 | 09:34 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) menyiapkan rencana penerbitan surat utang global (global bond) hingga US$ 400 juta untuk membiayai kembali (refinancing) utang. Aksi serupa juga tengah dirancang oleh PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) dengan target nilai emisi sebesar US$ 270 juta.

“Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) perseroan mencapai kuorum dan pemegang saham memberikan persetujuan atas rencana global bond,” kata Sekretaris Perusahaan Tunas Baru Lampung Hardy Phan kepada Investor Daily, Senin (15/3).

Hardy belum dapat mengungkapkan secara rinci jadwal penerbitan global bond. Berdasarkan prospektus, perseroan berniat membeli kembali global bond lama senilai US$ 250 juta yang jatuh tempo 2023. Selain itu, perseroan berencana melunasi obligasi berkelanjutan I senilai Rp 1,5 triliun yang jatuh tempo 2023 dan 2025.

Perseroan menargetkan global bond teranyar memiliki jangka waktu lima tahun. Sementara, indikasi tingkat suku bunga terbaik bagi perseroan dalam rentang 6%-8%. Kepastian mengenai tingkat suku bunga akan ditentukan saat bookbuilding. Hal ini dengan menimbang tingkat suku bunga di pasar yang merupakan beban bunga yang masih dapat mendukung kegiatan operasional perseroan.

Emiten perkebunan kelapa sawit ini menilai strategi menerbitkan obligasi baru akan memberikan manfaat terhadap kondisi keuangan, memperpanjang profil jatuh tempo utang perseroan, dan melaksanakan rencana sejalan dengan strategi bisnis yang disusun perseroan.

Lebih lanjut, manajamen juga mengharapkan likuiditas keuangan  terjaga mengingat obligasi baru ini memiliki tenor yang lebih panjang daripada obligasi dan fasilitas kredit yang ada saat ini. “Mengingat tingkat suku bunga obligasi baru tetap dan pembayaran pokok obligasi tidak teramortisasi selama periode obligasi, diharapkan nantinya perseroan dapat lebih memaksimalkan penggunaan dana itu untuk meningkatkan pertumbuhan laba,” jelas manajemen.

Gajah Tunggal

Pada 15 Maret, Gajah Tunggal juga menjadwalkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) terkait persertujuan atas rencana penerbitan global bond US$ 270 juta. Namun, perseroan belum memberikan pernyataan terkait hasil RUPSLB kepada Investor Daily hingga berita ini diturunkan.

Berdasarkan prospektus, perseroan menargetkan jatuh tempo global bond baru secepat-cepatnya pada 2026 atau jangka waktu lain yang ditentukan direksi perseroan. Sedangkan tingkat suku bunga akan diumumkan kemudian atau maksimal 9% bergantung kondisi pasar. Perseroan berniat menggunakan emisi obligasi untuk membiayai kembali senior secured notes US$ 250 juta yang jatuh tempo pada 10 Agustus 2022.

Manajemen Gajah Tunggal menjelaskan, penerbitan surat utang baru akan membuat posisi likuiditas perseroan lebih bagus, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Hal ini mengingat surat utang baru akan memperpanjang jatuh tempo kewajiban perseroan dari jangka pendek menjadi jangka panjang.

Sebagai informasi, kewajiban senior secure notes US$ 250 juta sebelumnya diterbitkan Gajah Tunggal pada 10 Agustus 2017, kemudian telah diubah berdasarkan first supplemental indenture 8 Januari 2019. Surat utang ini memiliki tingkat bunga 8,375%.

Tahun lalu, Gajah Tunggal membukukan laba bersih Rp 320,37 miliar, meningkat 19,05% dibandingkan 2019 sebesar Rp 269,1 miliar. Sedangkan penjualan turun 15,69% menjadi Rp 13,43 triliun pada 2020 dibandingkan 2019 sebesar Rp 15,93 triliun.

Lonjakan laba bersih tersebut didukung penurunan beban penjualan, umum dan administrasi, dan beban keuangan. Keuntungan juga ditopang oleh raihan keuntungan lain-lain bersih senilai Rp 102,74 miliar. Adapun dengan kas dan setara kas perseroan akhir 2020 melonjak dari Rp 635,18 miliar menjadi Rp 1,04 triliun. Sedangkan jumlah liabilitas perseoran turun dari Rp 12,62 triliun menjadi Rp 10,92 triliun.

Tahun ini, Gajah Tunggal mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) US$ 30-40 juta. Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung kinerja perseroan. Belanja modal tersebut akan difokuskan untuk perawatan dan peremajaan mesin-mesin serta alat berat. Selain itu, capex juga digunakan untuk pelunasan akuisisi tanah PT Softex Indonesia.

Editor : Elly Rahmawati (ely_rahmawati@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN