Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi investasi. Foto: Lukas (Pexels)

Ilustrasi investasi. Foto: Lukas (Pexels)

Investor Ritel dan Produk Syariah bakal Dorong Penetrasi Reksa Dana

Kamis, 18 Maret 2021 | 22:22 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menilai, penetrasi reksa dana di Indonesia masih sangat rendah. Berkembangnya investor ritel dan reksa dana syariah menjadi jalan untuk meningkatkan penetrasi tersebut.

Presiden Direktur Manulife Aset Manajemen Indonesia Afifa menjelaskan, berdasarkan data yang diolah Manulife dari berbagai sumber, tingkat penetrasi reksa dana di Indonesia baru mencapai 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2020. Sementara negara lain di kawasan Asia Tenggara mencatat tingkat penetrasi yang cukup tinggi, yakni Filipina dengan 5%, Singapura 21%, Thailand 31% dan Malaysia 31%.

"Kekayaan rumah tangga di kebanyakan keluarga Indonesia masih sekedar disimpan di alternatif tradisional seperti tabungan dan deposito, belum dikembangkan melalui alternatif investasi seperti instrumen pasar modal termasuk reksa dana," ujar Afifa dalam acara Webinar Peluang dan Tantangan Pasar Modal di Era Digital yang diselenggarakan OJK Institute, Kamis (18/3).

Padahal Indonesia merupakan negara ekonomi terbesar di ASEAN dengan rata-rata pertumbuhan tingkat PDB sebesar 7% hingga akhir 2019. Indonesia juga sudah memasuki kelas menengah atas dengan pendapatan rata-rata per kapita yang terus meningkat.

Untuk meningkatkan tingkat penetrasi tersebut, Afifa menilai ada dua peluang yang bisa digarap oleh pelaku industri. Pertama adalah dengan memanfaatkan pertumbuhan segmen ritel dari milenial.

Afifa menyebutkan, jumlah investor pasar modal pada 2020 meningkat 56% dari tahun 2019. Investor tersebut terdiri dari investor saham sebanyak 1,38 juta orang dan investor reksa dana sebanyak 2,58 juta orang sehingga total investor pasar modal pada 2020 mencapai 3,88 juta orang. "Namun sayangnya jumlah investor tersebut baru mencapai 1,4% dari total jumlah penduduk di Indonesia," papar dia.

Pengembangan teknologi digital, menurut Afifa bisa menjadi salah satu jalan untuk menambah jumlah investor di pasar modal, terutama dari segmen milenial. Pasalnya, segmen masyarakat ini bisa merupakan segmen masyarakat yang paling banyak menggunakan teknologi komunikasi.

Pemanfaatan teknologi ini juga sudah dilakukan di industri reksa dana melalui kehadiran Agen Penjual Reksa Dana (APERD) online dan juga sistem pemasaran digital. Sistem pemasaran ini menawarkan kenyamanan bagi investornya dengan menyediakan saran investasi melalui robo-advisors, sistem pembayaran melalui internet banking serta cek transaksi dan saldo melalui AKSes.

Selain memanfaatkan investor milenial, pelaku industri juga bisa memanfaatkan pasar modal syariah. Menurut Afifa, jumlah saham syariah terus meningkat dalam 10 tahun terakhir, dari 237 pada 2011 menjadi 451 pada akhir Oktober 2020. 

Kontribusi dana kelolaan (asset under management/AUM) reksa dana syariah juga meningkat tiap tahunnya. Pada akhir 2015, kontribusi dana kelolaan reksa dana syariah baru mencapai 4,41% dari total dana kelolaan industri reksa dana. Namun pada akhir 2020 sudah meningkat menjadi 12,97%.

Namun di balik peningkatan kontribusi tersebut, reksa dana syariah belum menjadi pilihan utama dalam berinvestasi. Masyarakat masih cenderung memilih emas, tanah dan deposito sebagai instrumen investasi utama.

Oleh karena itu, perlu ada solusi untuk meningkatkan minat masyarakat, yakni melalui penggunaan platform digital. Akan tetapi penggunaan platform ini harus disesuaikan dengan keinginan masyarakat yang mereknya terkesan syariah, memiliki tampilan dan fitur syariah serta ada rekomendasi dari tokoh syariah.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN