Menu
Sign in
@ Contact
Search
Pengunjung di main hall Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto Ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pengunjung di main hall Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto Ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Fokus Pasar: Proyeksi Pereknomian Indonesia 2021

Senin, 22 Maret 2021 | 08:09 WIB
Ghafur Fadillah (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Para pelaku pasar hari ini mencermati meningkatnya proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,9% dari sebelumnya 4% untuk tahun 2021 yang diberikan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Sejalan, dengan dengan distribusi vaksin yang dinilai menjadi trigger pada perbaikan sistem Kesehatan.

Dalam riset harianya, Pilarmas Sekuritas menjelaskan, dengan adanya program vaksinasi ini diharapkan dapat kembali meningkatkan daya beli masyarakat yang sebelumnya melemah akibat pandemi.

“Pemulihan daya beli masyarakat saat ini bergantung pada daya beli masyarakat dan juga ekspansi bisnis yang ditandai dengan meningkatnya anggaran belanja modal,” jelas Pilarmas, Senin (22/3).

Meningkatnya belanja modal, lanjut Pilarmas, menjadi indikasi awal terhadap pemulihan ekonomi. Faktor lainya yang menopang kenaikan pertumbuhan proyeksi juga yakni pemanfaatan UU Cipta Kerja guna memperkuat lingkungan bisnis.

“Aturan ini, dapat memberikan sinyal kepada investor dalam maupun luar negeri bahwa Indonesia adalah lokasi yang menjanjikan untuk berbisnis,” ujar Pilarmas.

Selanjutnya, OECD juga mencermati langkah Indonesia dalam meningkatkan kualitas pekerja dengan berinvestasi pada kompetensi dan keterampilan serta melakukan reformasi pasar tenaga kerja. OECD merekomendasikan kepada Pemerintah Indonesia  untuk mempromosikan pendidikan kejuruan dan pelatihan seumur hidup untuk meningkatkan keterampilan dan tenaga kerja

Sementara itu, dari segi industri salah satunya kelapa sawit. Indonesia dinilai oleh OECD membuat kemajuan yang substansial dalam memisahkan emisi gas rumah kaca. Mengingat, Indonesia sendiri menjadi salah satu penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia dan menempati urutan ke-4 pada tahun 2019.

Untuk diketahui, hal itu disebabkan oleh deforestasi yang berasal dari pembukaan lahan untuk menanam kelapa sawit.

“Dengan demikian, sangat diperlukan penghijauan sejalan dengan Indonesia yang memiliki 10% hutan hujan tropis dan 36% lahan gambut tropis,” pungkas Pilarmas.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com