Menu
Sign in
@ Contact
Search
Nasabah berada kantor cabang WOM Finance, Ciputat. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Nasabah berada kantor cabang WOM Finance, Ciputat. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Penuhi "Free Float" Saham, Bank Maybank Lepas 1% Saham WOM Finance

Minggu, 4 April 2021 | 15:22 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id - PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) menjual sebanyak 37 juta unit saham atau 1,06% dari total sahamnya di PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOMF) atau WOM Finance. Penjualan saham ini bertujuan untuk memenuhi aturan kepemilikan saham publik minimal 7,5% (free float).

Direktur WOM Finance Zacharia Susantadiredja mengatakan, Maybank Indonesia menjual 37 juta sahamnya pada 24 Maret 2021. Harga pelaksanaan pada Rp 254, sehingga dana yang diraih dari penjualan saham itu adalah 9,39 miliar. "Tujuan dari transaksi adalah pemenuhan saham publik minimal 7,5%," ujar Zacharia dalam keterbukaan informasi akhir pekan lalu.

Dengan penjualan saham ini, kepemilikan saham Maybank Indonesia di WOM Finance berkurang menjadi 67,49%. Sementara PT Wahana Makmur Sejati bertahan di 25,01% dan kepemilikan saham publik bertambah menjadi 7,5%.

Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelumnya menyebutkan bahwa sebanyak 13 emiten tengah menyiapkan aksi korporasi untuk memenuhi ketentuan free float minimal 7,5% saham publik. Dalam memenuhi aturan ini, emiten milik konglomerasi seperti Grup Sinarmas dan anak usaha BUMN cenderung memilih strategi menjual sebagian saham kepada mitra strategis.

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna mengatakan, saat ini empat emiten telah memulai proses pelaksanan rangkaian tahapan tindakan pemenuhan ketentuan. Sementara, sembilan perusahaan dalam proses finalisasi rencana pemenuhan ketentuan.

“Pembinaan kepada emiten yang belum memenuhi ketentuan tersebut senantiasa BEI laksanakan, di antaranya dalam bentuk permintaan penjelasan, dengan pendapat, serta sosialisasi terkait alternatif tindakan korporasi yang dapat dilakukan emiten,” kata dia dalam keterangan resmi.

Menurut Nyoman, sosialisasi ini kemudian BEI lanjutnya dengan pendampingan dan konsultasi teknis, agar tindakan korporasi dapat dilakukan dengan lancar. Apabila emiten belum dapat memenuhi ketentuan hingga waktu yang ditetapkan, BEI mengenakan sanksi atas tidak terpenuhinya ketentuan tersebut dengan periode pemantauan setiap 3 bulanan.

BEI tidak menyebut detail para emiten beserta aksi korporasi yang akan dilakukan dalam rangka pemenuhan ketentuan free float. Namun, Investor Daily mencatat sejumlah emiten telah menyampaikan komitmen mereka. Sebagai contoh, Grup Sinarmas melalui Golden Energy and Resources Ltd (GEAR) bersiap menjual 4,5% saham PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) kepada Ascend Global Investment Fund SPC. Saat ini, free float Golden Energy hanya mencapai 3%.

Manajemen GEAR mengungkapkan, transaksi penjualan Golden Energy bertujuan untuk memenuhi ketentuan free float, sehingga saham Golden Energy bisa kembali aktif diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Seperti diketahui, saham Golden Energy telah disuspensi oleh BEI sejak 31 Januari 2018.

“Begitu suspensi saham diangkat, GEAR percaya bahwa nilai pasar objektif untuk saham Golden Energy bisa dibangun kembali, yang memungkinkan investor menilai Golden Energy dan GEAR,” jelas manajemen dalam keterangan resmi kepada Bursa Efek Singapura (SGX), baru-baru ini.

Penjualan saham kepada mitra strategis juga ditempuh oleh PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) atau SBI, anak usaha PT Semen Indonesia Tbk (SMGR). Perusahaan asal Jepang, Taiheiyo Cement Corp akan mengakuisisi 15% saham SBI dengan komitmen investasi US$ 220 juta.

SBI bersiap meminta izin pemegang saham pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 30 Maret. Jika disetujui, perseroan akan menerbitan saham baru melalui mekanisme rights issue. Saat ini, kepemilikan publik atas saham emiten semen tersebut baru 1,69%.

Kelompok BUMN lain, seperti PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) juga merancang aksi rights issue. Sebelumnya, Wakil BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, nilai rights issue BRIS ditargetkan sekitar US$ 500 juta atau sekitar Rp 7,2 triliun. Saham BRIS yang dimiliki publik sebelumnya menciut pasca merger bank syariah BUMN.

Emiten-emiten lain seperti PT Plaza Indonesia Realty Tbk (PLIN), PT Bank Permata Tbk (BNLI) dan PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) sempat menyampaikan komitmen pemenuhan free float, namun saat ini belum diketahui pasti rinican mekanismenya. Saat ini, kepemilikan publik pada masing-masing emiten tercatat 2,99%, 1,29%, dan 1,59%.

Seperti diketahui, free float Bank Permata yang mengecil menjadi 1,29% merupakan efek dari pelaksanaan mandatory tender offer (MTO) oleh Bangkok Bank Plc pada Oktober 2020. Ketika itu, MTO dilakukan Bangkok Bank sebagai pemegang saham pengendali baru, setelah mengakuisisi Bank Permata dari PT Astra International Tbk (ASII) dan Standard Chartered pada Mei 2020. Adapun Bangkok Bank memiliki kewajiban divestasi saham Bank Permata minimal setara persentase saham yang diperoleh dari penawaran tender wajib dalam dua tahun.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com