Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengujung memotret monitor pergerakan saham dengan ponsel di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Pengujung memotret monitor pergerakan saham dengan ponsel di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

FOKUS PASAR:

OECD Nilai Indonesia Bisa Pimpin Dunia dalam Urusan Energi Bersih

Kamis, 1 Juli 2021 | 09:34 WIB
Nabil Alfaruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.idOrganisation for Economic Co-Operation and Development (OECD) menilai Indonesia bisa memimpin dunia dalam urusan energi bersih (clean energy), dengan mereformasi serta memobilisasi investasi dalam energi terbarukan dan efisiensi energi.

Dalam kajian yang bertajuk “The OECD Clean Energy Finance and Investment Policy Review of Indonesia”, pemerintah Indonesia dinilai patut untuk dipuji karena telah memberi isyarat dari pejabat politik tertinggi bahwa energi bersih adalah bagian penting dari masa depan negara.

“Meski begitu, karena negara dan perusahaan lain menjanjikan tindakan iklim yang lebih ketat, OECD Indonesia juga perlu mempercepat transisi energi bersihnya jika ingin tetap menjadi tujuan investasi yang menarik,” jelas Pilarmas Sekuritas dalam riset harian nya, Kamis (1/7).

OECD. foto: iu.qs.com
OECD. foto: iu.qs.com

Dari kajian tersebut, OECD merekomendasikan sejumlah langkah jangka pendek yang perlu ditempuh oleh Indonesia untuk meningkatkan pembiayaan energi bersih dan kerangka investasi.

Pertama, Indonesia disarankan untuk memperbaharui Rencana Umum Energi Nasional yang merefleksikan dampak pandemi Covid-19 terhadap permintaan energi. Dalam waktu yang sama, Indonesia bisa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperkuat target energi terbarukan dan efisiensi energi dalam program pemulihan.

Kedua, OECD menyarankan agar pemerintah mengambil langkah-langkah untuk memastikan kebijakan dan peraturan yang lebih ramping di bawah peraturan Presiden tentang energi terbarukan. Termasuk merampingkan Power Purchase Agreement atau perjanjian pembelian tenaga listrik yang dilakukan oleh PLN dan pengembang swasta, serta mengatasi kesenjangan peraturan untuk pengaturan net-metering dan power wheeling.

Ketiga, mempertimbangkan untuk memperluas penggunaan produk pembiayaan seperti Kredit Usaha Rakyat yang menyediakan skema penjaminan dan suku bunga bersubsidi untuk usaha kecil. Tujuannya untuk membantu mengatasi hambatan seperti persyaratan agunan yang tinggi. Jenis produk ini dapat memudahkan pemilik usaha untuk membangun atau memperluas penawaran energi bersih.

Keempat, OECD lalu menyarankan Indonesia untuk melakukan penilaian pasar secara rinci tentang kebutuhan,tantangan pembiayaan, serta peluang untuk mengidentifikasi dan meningkatkan instrumen pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Kelima, memperluas program pelatihan untuk mengintegrasikan aspek keuangan dan pengembangan bisnis untuk proyek energi bersih, termasuk desain PPA yang bankable dan diakui secara internasional. Lalu, pengembangan dan implementasi model kemitraan publik-swasta untuk mendorong pertumbuhan pasar sehingga tentu saja hal ini dapat membuat penetrasi menjadi lebih cepat.

Energi bersih bukan lagi menjadi perhatian yang dipandang sebelah mata saat i berbagai Bank Sentral di seluruh dunia juga mulai focus untuk memulainya, G7 menjadi negara negara yang memiliki inisiasi hal tersebut. “Tentu tidak ada salahnya bagi kita, untuk dapat memulai lebih awal, karena green energy ini akan menjadi pendongkrak ekonomi secara jangka pendek,” jelas Pilarmas Sekuritas.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN