Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Panenan sawit. Foto: DEFRIZAL

Panenan sawit. Foto: DEFRIZAL

Laba Lonsum dan Salim Invomas Naik Signifikan

Jumat, 2 Juli 2021 | 15:45 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Dua emiten perkebunan sawit milik PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), yakni PT PP London Sumatra Tbk (LSIP) atau Lonsum dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) mencatatkan perolehan laba yang signifikan pada kuartal I-2021.

Peningkatan labaini ditopang oleh lonjakan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar global.Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis pada Rabu, (30/6), London Sumatra mencatat laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 297 miliar pada kuartal I-2021. Nilai ini meningkat 267% dibandingkan kuartal I-2020 yang mencapai Rp 81 miliar.

“Kenaikan laba ini seiring kenaikan laba usaha yang sebagian diimbangi oleh kenaikan beban pajak penghasilan,” tulis manajemen.

Adapun laba usaha perseroan meningkat 328% menjadi Rp 367 miliar yang ditopang oleh kenaikan laba bruto sebesar 181% menjadi Rp 426 miliar. Sementara EBITDA dan core profit tercatat sebesar Rp 442 miliar dan Rp 305 miliar. Peningkatan laba ini ditopang oleh penjualan yang meningkat 48% menjadi Rp 1,2 triliun. Kenaikan penjualan disebabkan oleh meningkatnya volume penjualan dan harga jual rata-rata (ASP) produk sawit.

PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (Lonsum). Foto: Laporan tahunan.
PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (Lonsum). Foto: Laporan tahunan.

Pada kuartal I-2021, harga jual rata-rata CPO dan palm kernel (PK) meningkat masing-masing 12% dan 45% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sementara volume penjualan CPO dan PK di periode yang sama meningkat 27% dan 29%. London Sumatra juga mempertahankan posisi keuangan yang sehat dengan total aset Rp 11,44 triliun, termasuk di dalamnya kas dan setara kas sebesar Rp 2,4 triliun.

Sedangkan liabilitas mencapai Rp 1,85 triliun dan dan tidak adanya pendanaan melalui hutang bank 31 Maret 2021. Serupa dengan London Sumatra, Grup Indofood yang lain, yakni Salim Ivomas juga mencatat peningkatan kinerja. Pada kuartal I-2021, Salim Ivomas mencatat laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk berbalik positif sebesar Rp 106 miliar.

Sebelumnya, pada kuartal I-2020, Salim Ivomas mencatat kerugian sebesar Rp 52 miliar. “Kenaikan laba terutama berasal dari naiknya laba usaha dan penurunan beban keuangan yang sebagian diimbangi oleh kenaikan beban pajak penghasilan,” tulis manajemen.

Pada kuartal I-2021, Salim Ivomas mencatat laba bruto sebesar Rp 1,04 triliun atau meningkat 106% secara tahunan  Laba usaha juga meningkat 319% secara tahunan menjadi Rp 601 miliar. EBITDA dan core profit masing-masing meningkat 53% dan 311%.

Kenaikan laba ini ditopang oleh penjualan yang mencapai Rp 4,7 triliun, atau naik 42% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penjualan yang meningkat disebabkan oleh kenaikan harga jual ratarata (ASP) dari produk sawit dan produk minyak & lemak nabati (EOF) serta kenaikan volume penjualan produk EOF.

“ASP CPO dan PK pada kuartal I-2021 masing- masing naik 13% dan 48% di bandingkan kuartal I-2020,” tulis manajemen.

Dari sisi volume, Salim Ivomas mencatat penurunan volume penjualan CPO sebesar 2% menjadi 164 ribu ton.

Sementara itu volume penjualan produk PK meningkat 6% menjadi 42 ribu ton. Investment Information Head PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Roger mengatakan, London Sumatra dan Salim Ivomas memiliki potensi untuk bertumbuh. Hal ini dengan melihat positifnya kinerja kedua emiten itu pada kuartal I-2021 dan adanya revisi kebijakan pajak progresif CPO yang akan berlaku pada 2 Juli mendatang.

“Harga sahamnya bisa meningkat, LSIP ke angka Rp 1.220 dan SIMP ke Rp 500,” jelas dia kepada Investor Daily, Kamis (1/7).

Laba Bisa Naik 100%

Mantan Direktur Utama PT Bursa Efek Jakarta Hasan Zein Mahmud. Foto: IST
Mantan Direktur Utama PT Bursa Efek Jakarta Hasan Zein Mahmud. Foto: IST

Di lain pihak, pengamat pasar modal Hasan Zein mengungkapkan, harga saham LSIP sudah menurun 38% dari level tertinggi di angka Rp 1.560 ke level terendah Rp 965 pada penutupan perdagangan beberapa hari lalu. Padahal harga CPO sudah meningkat hampir 29% dalam enam bulan terakhir. Namun demikian, Hasan tetap optimistis dengan saham LSIP.

Pasalnya London Sumatra memiliki prospek yang bagus ke depannya yang terlihat dari laba kuartal I-2021 yang meningkat 267%. Apalagi harga CPO diprediksi bisa bertahan di atas RM 3.500 sampai akhir 2021 sehingga laba London Sumatra bisa meningkat hingga lebih dari 100% pada akhir 2021.

Dia mengumpulkan saham LSIP sejak Februari atau Maret 2021 dengan pembelian pertama di harga Rp 1.300. Kemudian di-average down terus hingga rata-rata harga sahamnya saat ini mencapai Rp 1.250.

Ke depan, Hasan optimistis harga saham LSIP bisa meningkat terus. “Dengan ekspektasi laba per saham Rp 210 pada 2021 dan price to earning ratio (PER) kembali ke rata-rata 8-9 kali, maka harga saham akan kembali ke rentang Rp 1.600-1.900. Terserah pada tarik-menarik bandar dan pihak-pihak yang berkepentingan yang mampu melakukan tarik-ulur harga,” ucap dia.

Sementara itu, analis BRI Danareksa Sekuritas Andreas Kenny menjelaskan, peningkatan kinerja London Sumatra ditopang oleh harga CPO yang melonjak pesat. Volume penjualan London Sumatra juga sangat bagus karena ditopang oleh melonjaknya pembelian dari Salim Ivomas pada kuartal I-2021.

Pada tahun ini, pihaknya mengestimasi harga rata-rata CPO akan berada di angka RM 3.400.

Sementara itu, dengan pungutan pajak ekspor yang lebih rendah, maka laba bersih London Sumatra tahun ini bisa mencapai Rp 1 triliun atau meningkat 43,9% dibandingkan 2020.

“Kami merekomendasikan buy dengan target harga Rp 1.900 dan valuasi atau PER masih berada di bawah 10 kali,” ucap dia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN