Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ellen May, Founder Ellen May Institute   Sumber: BSTV

Ellen May, Founder Ellen May Institute Sumber: BSTV

Bukan Sekadar Berburu Cuan, Investor Pemula Harus Ingat Risiko

Rabu, 28 Juli 2021 | 16:10 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA - Tren investasi saham yang tengah naik daun membawa daya tarik tersendiri di kalangan Generasi Z dan Milenial. Iming-iming cuan besar kerap kali memicu mereka terjun menjadi investor. Namun di balik itu, investasi saham juga menyimpan risiko yang tak boleh diabaikan para investor pemula.

Pendiri sekaligus CEO Emtrade Ellen May mengingatkan, investor pemula harus memahami, dalam investasi saham mengandung risiko. Sebab, banyak investor pemula yang hanya fokus pada cuan, tapi sedikit yang memikirkan risiko.

"Itu nomor satu yang paling penting," kata dia dalam acara Emiten Expo yang diselenggarakan Majalah Investor, Selasa (27/7).

Setelah menyadari adanya risiko, hal selanjutnya yang perlu diingat oleh investor pemula adalah jumlah uang yang harus diinvestasikan. Ellen menyarankan kepada investor pemula untuk mulai dari nominal kecil.

Sebab, jika misalnya para investor pemula sudah berani investasi Rp 100 juta berarti mereka juga sudah harus siap rugi sekitar 5% sampai 10 % atau sekitar 10 juta. Akan tetapi, jika belum siap, maka sebaiknya nominalnya diturunkan sekitar Rp 50 juta.

Berikutnya, dalam bermain saham investor pemula juga harus mempunyai strategi. Sebab investasi atau trading itu memiliki banyak jenis di antaranya growth investing dan value investing. Dari sisi trading, ada pula yang disebut trading buy on weakness, buy on breakout, dan trading buy trend following untuk disimpan selama beberapa bulan ke depan.

Untuk itu, kata dia, investor pemula harus mengetahui strategi yang cocok dalam memilih saham. Caranya, tentu membutuhkan proses untuk belajar dan memperbanyak trial dan error. Lebih baik lagi, jika trial dan error tersebut dialami diri sendiri, tetapi belajar dari trial dan error investor lain.

"Jadi, dengan cara seperti ini, kita fokusnya belajar dulu, bukan kejar cuan dulu. Itu kata kunci yang harus di-highlight. Karena kalau caranya begitu, hasilnya pasti akan lebih baik untuk jangka panjang. Jadi bukan cuma fokus cuan-cuan shortcut. Biasanya, kalau market lagi naik, yang pemula sekalipun jangka pendek bisa cuan," ujarnya.

Kata kunci kedua adalah investor pemula harus mengetahui setiap alasan di balik pengambilan keputusan mengapa membeli dan mengapa menjual saham. Dengan memahami alasannya, maka untuk jangka panjang hasilnya pasti akan lebih bagus.

Sementara dalam membuat portofolio yang bagus, Ellen melihat banyak faktor yang memengaruhi. Pertama, faktor pengalaman atau skill dari investor terkait.

Faktor kedua, jumlah uang yang diinvestasikan di portofolio besar atau dan kecil karena hal ini pasti membuat strategi diversifikasinya juga berbeda. Faktor ketiga adalah waktu atau time horizon yang diinginkan.

Pada umumnya, lanjut dia, para investor ritel mempunyai time horizon yang relatif singkat atau jangka pendek. Sebab, mereka menginginkan ritel yang lebih cepat dalam arti beberapa hari dan bulan. Dengan demikian kesimpulannya, mayoritas investor ritel merupakan trader.

"Dari sini, saya melihat modal yang digunakan investor ritel untuk berinvestasi juga rata-rata di bawah Rp 100 juta. Sementara Milenial sekitar Rp 20 sampai Rp 50 juta," ujarnya.

Dengan angka tersebut, Ellen mengambil sebuah formula untuk diversifikasi berdasarkan profil risiko secara umum dan nominal yang banyak digunakan para investor ritel yang mungkin bisa dibagi untuk satu portofolio sekitar 5 sampai 10 saham.

"Saya ambil 5 sampai 10 saham berarti di dalam satu portofolio bisa sekitar 10%-20%. Jadi kalau misalnya mau beli satu saham Rp 50 juta, 10% - nya kan Rp 5 juta. Nah, kalau mau trading bisa coba dulu Rp 5 juta. Lalu, jika ternyata hasilnya bagus, mau nambah Rp 5 juta lagi juga boleh. Jadi, jumlahnya sekitar 5 sampai 10 saham. Saran saya, jangan sampai terlalu sedikit atau banyak" terangnya.

Artinya, hal ini merupakan perimbangan. Jika terlalu sedikit, cuannya memang besar. Tetapi ketika rugi, kerugiannya juga besar. Akhirnya, yang bermain adalah emosi. Jika sudah demikian, cut loss pun sulit dihindari akibat efek emosional.

Diversifikasi Saham

Untuk itu, para investor pemula harus diversifikasi saham supaya memilki ruang untuk trial dan error. Kalau dalam sebuah portofolio memiliki sekitar antara 5 sampai 10 saham, maka saham pertama belum jalan pun, masih ada peluang untuk tes saham kedua.

Bayangkan, jika seandainya dalam satu portofolio hanya berisi satu atau dua saham, investor atau trader ritel pemula tidak akan bisa mencoba untuk saham ketiga, empat, dan lima.

"Akhirnya, investor stress dan pengambilan keputusan yang dilakukan juga tidak objektif. Jadi emosional dan dampaknya bisa menggulung terus. Makanya, diversifikasi yang pas itu sangat penting," tuturnya.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN