Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi investasi. Foto: Gerd Altmann (Pixabay)

Ilustrasi investasi. Foto: Gerd Altmann (Pixabay)

Pasar Surat Utang Dapat Sentimen Positif

Senin, 23 Agustus 2021 | 06:41 WIB
Lona Olavia

JAKARTA, investor.id – Harga surat utang negara (SUN) diperkirakan bergerak bervariasi dengan kecenderungan naik pada pekan ini. Ekspektasi ini didukung oleh mulai meredanya pandemi Covid-19 yang bakal berdampak pada kenaikan minat investor domestik dan asing terhadap obligasi negara.

Secara spesifik, pergerakan harga SUN pekan ini akan tergantung dari hasil annual meeting atau pertemuan tahunan Jackson Hole pada 26-28 Agustus 2021 oleh Bank Sentral AS (The Fed) terkait pembahasan kebijakan yang penting dan terkini.

Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Handy Yunianto mengatakan, pekan lalu, merupakan pekan yang menarik untuk transaksi surat utang, meskipun indeks saham turun sekitar 1,8% dan rupiah melemah terhadap dolar AS karena kekhawatiran perkembangan Covid-19 dan pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) oleh The Fed, namun imbal hasil (yield) SUN relatif stabil. “Hal ini menandakan bahwa support domestik pada pasar obligasi masih kuat,” katanya kepada Investor Daily, Minggu (22/8).

Mengenai penurunan permintaan lelang SUN pertengahan pekan lalu, menurut dia, masih wajar, karena permintaan yang masuk tetap solid atau merefleksikan dua kali dari target pemerintah dan yield yang diminta investor juga relatif rendah atau relatif sama dengan lelang dua pekan sebelumnya. Mengingat pada lelang SUN sebelumnya, sudah mencetak rekor kenaikan tertinggi selama tiga bulan terakhir. Selain itu, penurunan tidak terlepas dari adanya profit taking dari para pelaku pasar obligasi.

Sementara itu, pekan ini, pergerakan SUN akan ditentukan hasil pertemuan Jackson Hole pada 26-28 Agustus 2021. Pertemuan yang diadakan pekan ini dihadiri oleh ratusan pejabat The Federal Reserve (The Fed) dan pemangku kepentingan lainnya, termasuk Presiden AS.

“Minggu ini, market akan menunggu Jackson Hole Meeting, terutama indikasi lebih jelas mengenai rencana tapering The Fed seperti apa. Dari domestik, seyogyanya tidak banyak yang berubah, Bank Indonesia masih akomodatif, current account deficit di kuartal II sedikit naik tapi masing sangat manageable, dan indikasi bahwa terjadi perbaikan perekonomian di kuartal II. Outlook masih cenderung sideways untuk tenor 10 tahun di kisaran 6,25-6,35%. Kuncinya nanti di Jackson Hole, apakah ada surprise ke market mengenai indikasi tapering atau tidak. Kalau masih dovish, ada potensi market akan lebih positif ke depannya,” jelas Handy.

Sementara itu, analis Panin Sekuritas Hosianna E Situmorang mengatakan, pergerakan harga SUN pekan ini relatif mixed. Hal ini menjadi penting, karena investor memperhatikan pergerakan global, sejalan dengan informasi perkembangan terhadap pengurangan stimulus bertahap atau tapering off di AS dan kondisi perkembangan pengetatan regulasi di Tiongkok yang masih berpotensi menyebabkan volatilitas sahamnya dan mendorong rebalancing.

Di sisi lain, dia mengatakan, fundamental Indonesia sudah lebih baik dari 2013, sehingga pasar obligasi tetap optimistis ke depan. Bahkan, saat ini lebih baik, dibandingkan negara lainnya di Asean sehubungan dengan yield yang jauh lebih menarik dan utang pemerintah yang lebih rendah dari peers.

“Kecenderungannya dari seri SUN benchmark untuk tenor menengah ini yang 10 tahun berpotensi naik, karena harganya yang terdiskon di minggu lalu, serta yield-nya yang masih berpotensi turun ke 6,2%, serta dukungan berlanjutnya inflow asing. Kalau yield turun, harga tentu naik,” ujarnya.

Sementara, harga SUN tenor pendek hingga 5 tahun dan tenor panjang 15 tahun diprediksi Hosianna berpotensi terkoreksi terbatas, karena harganya yang sudah premium. Namun, potensi penguatan harga dan penurunan yield masih mungkin dikarenakan potensi dari penerbitan SUN ke depannya oleh pemerintah yang berpotensi lebih sedikit. Hal itu sejalan dengan penurunan target defisit APBN 2022, serta kebijakan pemerintah untuk mengurangi utang pada 2021 dan memilih pendanaan dengan sisa lebih penggunaan anggaran (SILPA) untuk APBN.

“Sedangkan yield domestik masih jauh menarik untuk investor asing yang hunt for yield. Jadi, alokasi ke SUN masih bisa meningkat mendorong kenaikan harga,” ujar Hosianna.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN