Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investor memotret monitor saham dengan ponsel di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Investor memotret monitor saham dengan ponsel di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Sssttt!  Kinerja Emiten  11 Sektor bakal Kinclong, Janjikan Pertumbuhan Laba 25-30%

Rabu, 15 September 2021 | 07:01 WIB
Lona Olavia ,Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA , Investor.id – Emiten di sejumlah sektor diprediksi mencatatkan kinerja bisnis yang mengesankan pada semester II-2021. Setidaknya ada 11 sektor dan subsektor yang diperkirakan berkinerja kinclong, yakni sektor telekomunikasi, ritel, perbankan, komoditas, unggas, baja, batu bara, teknologi, logistik, farmasi, dan kesehatan. Pendapatan emiten di sektor-sektor tersebut diperkirakan tumbuh 5-10% hingga akhir 2021 dengan kenaikan laba bersih 25-30% secara tahunan (year on year/yoy).

Bahkan, jika kondisi ekonomi pulih lebih cepat dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dilonggaran secara masif, kinerja bisnis sektor properti akan ikut meningkat. Alhasil, sektor-sektor ikutannya pun bakal terkerek naik.

Di sisi lain, sejumlah sektor diprediksi mengalami pemulihan yang lambat, seperti sektor otomotif, konstruksi, pariwisata (meeting, incentive, conference and exhibition/MICE) dan hiburan, restoran, serta sektor transportasi.

Meski demikian, para investor tetap harus memperhatikan langkah Bank Sentral AS, The Fed, dalam mengambil kebijakan tapering off atau pengurangan pembelian obligasi untuk memperketat likuiditas. Soalnya, ada indikasi data ekonomi makro AS menunjukkan kondisi ekonomi sudah terlampau panas (overheating).

Hal itu diungkapkan analis CSA Research Institute Reza Priyambada, analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani, Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan, dan analis PT MNC Sekuritas Rifqi Ramadhan. Mereka dihubungi Investor Daily secara terpisah di Jakarta, Selasa (14/9).

Kebutuhan Meningkat

Menurut analis CSA Research Institute, Reza Priyambada, berdasarkan laporan keuangan para emiten semester I-2021 dan melihat kondisi terkini, sektor farmasi diperkirakan masih berkinerja positif pada semester II-2021.

“Itu terlihat pada meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap produk-produk kesehatan, seperti obat-obatan dan vitamin. Terlebih dukungan layanan kesehatan yang disiapkan pemerintah semakin memadai,” ujar dia.

Sektor lain yang juga diprediksi bakal kinclong, kata Reza, adalah telekomunikasi. Aktivitas masyarakat yang sebagian besar masih dilakukan dari rumah membuat kebutuhan terhadap kuota internet meningkat.

"Kerja dan sekolah pasti berhubungan dengan gadget yang terkoneksi dengan internet, sehingga sektor ini mulai pulih," tutur dia.

Reza Priyambada mengakui, pandemi telah memukul hampir semua sektor. Meski demikian, di luar farmasi dan telekomunikasi, sektor ritel juga akan pulih cepat. Soalnya, di tengah pandemi Covid-19, masyarakat tetap memerlukan kebutuhan sehari-hari (daily needs).

“Hanya saja yang mungkin sedikit berbeda, menu belanja masyarakat agak ditekan seiring berkurangnya pemasukan,” ucap dia.

Dia menambahkan, dalam waktu dekat, utamanya ketika perekonomian membaik, ditopang daya beli masyarakat yang juga membaik, kinerja sektor farmasi, telekomunikasi, dan ritel bakal melesat.

Kinerja saham sektoral
Kinerja saham sektoral

Reza memperkirakan pertumbuhan masing-masing sektor hingga akhir 2021 (yoy) mencapai 15-20%. Bahkan, farmasi bisa lebih tinggi karena masyarakat menganggap berbelanja obat lebih penting dibanding membeli kebutuhan lain.

"Sejak pandemi, sebagian orang menanggapinya biasa-biasa saja, tapi ada pula yang merespons berlebihan, misalnya takut ketemu orang lain karena takut tertular Covid. Jadi, mereka pikir lebih penting banyak minum vitamin," papar dia.

Bahkan, menurut Reza, jika kondisi ekonomi terus-menerus membaik, sektor seperti properti akan meningkat. Sektor properti memiliki dampak pengganda (multiplier effect) yang besar karena punya sekitar 175 sektor ikutan. Dengan demikian, ketika sektor properti bangkit, seluruh sektor ikutannya akan ikut bangkit.

“Ketika properti meningkat, kebutuhan terhadap bahan-bahan bangunan, semen, dan meterial lainnya akan meningkat. Tapi rentetan peningkatan industri-industri ini terlihatnya nanti, bukan dalam waktu dekat. Sebab dalam waktu dekat masih didominasi konsumsi dan daily needs," ujar dia.

Sebaliknya, Reza memprediksi kinerja sejumlah sektor, seperti transportasi dan otomatif, masih melambat pada semester II-2021. Aktivitas masyarakat yang lebih banyak dilakukan dari rumah memengaruhi keinginan mereka untuk membeli kendaraan atau sarana transportasi.

Kendati begitu, kata dia, bukan berarti kedua sektor itu bakal terpuruk. Kebutuhan terhadap transportasi dan otomotif pada semester II-2021 masih ada, hanya saja harus menunggu tren pertumbuhan permintaan di masyarakat.

"Ketika semua aktivitas dikerjakan di rumah, pasti ada satu titik atau momen di mana masyarakat lama-kelamaan akan bosan. Pergerakan sektor konstruksi juga masih lambat pada semester II-2021,” tandas dia.

Perbankan dan Komoditas

Sementara itu, analis Sucor Sekuritas, Hendriko Gani mengatakan, selama semester I-2021 saham-saham sektor perbankan dan komoditas berkinerja cemerlang dibandingkan sektor lainnya. Hal itu didukung kenaikan penyaluran kredit dan pemulihan harga komoditas.

Selain itu, bank masih mampu mencatatkan peningkatan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) pada paruh pertama tahun ini dibandingkan periode sama 2020. Kenaikan NIM pula yang menjadi salah satu faktor pendongkrak laba perbankan.

Adapun tren kenaikan komoditas yang terjadi saat ini merupakan dampak peningkatan permintaan serta pergerakan dolar AS yang terimbas program stimulus AS.

"Kenaikan sektor perbankan dan komoditas membawa berkah ke semua emitennya. So far emiten-emiten tersebut masih positif," kata dia.

Hendriko Gani merekomendasikan saham bank dan komoditas, seperti PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) untuk emiten batu bara dengan target harga masing-masing Rp 1.700 dan Rp 3.400. Selanjutnya saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp 4.000 dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) Rp 7.000 untuk emiten nikel.

Di sektor perbankan, Hendriko merekomendasikan saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) Rp 8.000, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Rp 8.900, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) Rp 4.720, dan PT CIMB Niaga Tbk (BNGA) dengan target harga Rp 1.900.

"Pertumbuhan earning per share (EPS) kurang lebih 43% untuk full year 2021, dengan estimasi revenue per sektor 5-26%. Jadi, rata-ratanya di 11%," tegas dia.

Hendriko menjelaskan, saham-saham yang diperkirakan masih terpuruk di antaranya saham sektor pariwisata dan hiburan. Meski demikian, dibandingkan kuartal II-2020, saham di sektor pariwisata dan hiburan relatif membaik, meski belum terlalu signifikan.

Menurut dia, pemulihan berpotensi lebih besar lagi jika pemerintah berhasil meredam penyebaran Covid-19 dan membuka PPKM. "Saya rasa tahun depan bisa mulai pulih sambil menunggu proses vaksinasi," tandas Hendriko.

Rugi Jadi Untung

Kepala Riset Praus Capital, Alfred Nainggolan mengemukakan, laporan keuangan emiten mengindikasikan sektor perbankan, unggas, baja, batu bara, properti, dan konstruksi pada semester I-2021 pulih sangat baik. Bahkan ada yang semula mencatatkan rugi bersih pada semester I-2020, berhasil membukukan laba pada semester I-2021.

Alfred merekomendasikan saham emiten perbankan kategori bank umum kegiatan usaha (BUKU) IV serta emiten unggas, di antaranya PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), dan PT Malindo Feedmil Tbk (MAIN).

Selanjutnya saham emiten baja, antara lain PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS), dan PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP), kemudian emiten tambang, seperti PT Bukit Asam (PTBA), PT Adaro Energy (ADRO), dan PT PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG).

Alfred juga merekomendasikan emiten properti, di antaranya PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Ciputra Development Tbk (CTRA), dan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA). Itu belum termasuk emiten konstruksi, di antaranya PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) dan PT PP (Persero) Tbk (PTPP). "Penurunan performa signifikan pada kuartal II-2020 mengalami perbaikan yang signifikan pada kuartal II-2021," tutur dia.

Dia menjelaskan, faktor pendukung perbaikan itu selain pemulihan makro ekonomi, adalah kenaikan harga komoditas serta keberhasilan para emiten beradaptasi, termasuk melakukan efisiensi sebagai upaya bertahan saat pendapatan mengalami gangguan hebat.

Alfred memperkirakan performa para emiten tersebut pada semester II-2021 masih solid atau tetap tumbuh meskipun tidak sebesar pertumbuhan semester I-2020, mengingat pada kuartal III ada PPKM.

"Namun untuk beberapa sektor, seperti konstruksi, pemulihannya tidak akan berjalan cepat atau masih belum pulih sepenuhnya seperti kondisi sebelum Covid," papar dia.

Dari sektor yang mengalami pemulihan tersebut, Alfred merekomendasikan empat sektor yang diprediksi lebih cepat pulih melampaui pencapaiaan sebelum Covid, yakni sektor perbankan, batu bara, unggas, dan baja.

Saham perbakan yang direkomendasikan adalah saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI).

Adapun emiten batu bara yaitu Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Sedangkan saham emiten unggas adalah PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), lalu saham emiten baja meliputi PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) dan PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP).

"Sektor yang masih membukukan pertumbuhan yang tinggi di tahun ini dan kedepan adalah sektor kesehatan, telekomunikasi, teknologi, dan logistik. Pertumbuhan emiten pada 2021 untuk pendapatan berkisar 5-10% dengan laba bersih 25-30%," papar Alfred.

Dia menambahkan, sektor yang diperkirakan masih tertekan antara lain sektor pariwisata, restoran, dan transportasi. "Pemulihan mereka sangat bergantung kepada pemulihan aktivitas seperti sediakala, di mana tidak ada pembatasan," tegas dia.

Kinerja IHSG akhir sesi II Selasa sore (14/9/2021). Foto: BSTV
Kinerja IHSG akhir sesi II Selasa sore (14/9/2021). Foto: BSTV

Saham Blue Chips

Menurut analis PT MNC Sekuritas, Rifqi Ramadhan, saham-saham unggulan (blue chips) masih menarik pada semester II-2021. Soalnya, saat ekonomi pulih, pilihan sebagian investor akan tertuju pada saham berbobot besar terhadap indeks dan memiliki fundamental kuat.

Dia menjelaskan, saham pertambangan dan komoditas juga cukup menarik untuk dicermati mengingat saat ini merupakan masa-masa menjelang datangnya musim dingin. "Demand dan harga coal akan relatif naik dan memengaruhi revenue emiten-emiten di kedua sektor tersebut," kata Rifqi.

Namun, menurut Rifqi Ramadhan, para pelaku pasar juga harus memperhatikan langkah The Fed dalam mengambil langkah kebijakan tapering ke depan. Soalnya, beberapa rilis data makro AS menunjukkan kondisi ekonomi telah overheat.

"Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan The Fed akan mengurangi pembelian obligasi AS yang saat ini mencapai US$ 120 miliar per bulan," tutur dia. (az)

 

 

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN