Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu proyek konstruksi PT Acset Indonusa Tbk

Salah satu proyek konstruksi PT Acset Indonusa Tbk

Bisnis Acset dan Sektor Konstruksi Mulai  Menggeliat, Bagaimana Prospek Sahamnya?

Senin, 20 September 2021 | 07:15 WIB
Muhammad Ghafur Fadillah (muhamad.ghafurfadillah@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - PT Acset Indonusa Tbk (ACST) meraih kontrak baru senilai Rp 300 miliar hingga September 2021, naik sekitar 4% dari total perolehan kontrak baru sepanjang tahun silam. Para analis melihat hal ini sebagai sinyal bahwa bisnis konstruksi mulai menggeliat. Bagaimana prospek  harga sahamnya?

Menurut Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji Gusta, membaiknya perolehan kontrak Acset Indonusa dapat menjadi indikasi bahwa bisnis konstruksi mulai memasuki fase pemulihan. Kondisi yang dialami cucu perusahaan PT United Tractors Tbk (UNTR) itu bisa mengangkat kinerja para emiten sejenis.

“Faktor penurunan kasus terpapar hingga pemulihan ekonomi jadi alasan utama,” ujar Nafan Aji kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.

Nafan mengungkapkan, berdasarkan data Relative Rotation Graphs (RRG) Bloomberg, sektor infrastruktur sedang mengalami transisi dari weakening menuju leading saat ini.

“Momentum ini akan dimanfaatkan para trader untuk melakukan trading jangka pendek. Sedangkan investor (jangka panjang) cenderung masih wait and see karena berpatokan pada fundamental emiten,” papar dia.

Di sisi lain, kata Nafan, perolehan kontrak Acset Indonusa juga meningkat berkat beragamnya jasa konstruksi yang dapat dikerjakan perseroan, mulai jalan tol hingga pembangkit listrik. Di samping itu, tingginya kepercayaan para klien berpengaruh besar.

Target Harga Rp 300

Pengamat pasar modal dari Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI), Reza Priyambada mengatakan, pencapaian Acset Indonusa memperlihatkan bahwa di tengah pandemi, perseroan masih mampu membukukan kinerja yang baik.

“Kemampuan memperoleh kontrak dapat berimbas positif pada kinerja Acset tahun ini. Kami menargetkan harga Acset pada level Rp 300,” tutur dia.

Hal senada dilontarkan Head of Equity Research BNI Sekuritas, Kim Kwie Sjamsudin. Perbaikan ekonomi dan lanjutan proyek yang sempat tertunda pada 2020 membantu perolehan kontrak baru tersebut. Kondisi ini pun berlaku pada emiten konstruksi lain.

“Apabila dilihat pada kinerja emiten sejenis lainnya, kenaikan kontrak terjadi pada kuartal-II 2021 ketimbang periode sama tahun lalu,” ucap Kim.

Secara teknikal, menurut analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, saham ACST masih berpeluang menguat. Proyeksi tersebut sejalan dengan pergerakan Stochastic yg masih menunjukkan tanda-tanda penguatan dan sedang berada di area netral meskipun MACD masih cenderung sideways.

“Level support ada di Rp 242 dengan level resistance Rp 258. Target terdekat bisa Rp 270, kemudian Rp 290,” ujar dia.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada perdagangan akhir pekan lalu (Jumat, 17/9), saham ACST ditutup pada harga Rp 250, menguat 0,8%, dengan market cap Rp 1,6 triliun.

Selama sepekan, saham ACST naik 2,5% dan selama setahun menguat 15,7%, sedangkan selama tahun berjalan (year to date/ytd) minus 43,2%. Dengan posisi laba bersih 2021 (annualized), ACST memiliki price to earning ratio (PER) minus 5,22 kali.

Disumbang Proyek PLTM

Sekretaris Perusahaan Acset Indonusa, Maria Cesilia Hapsari mengungkapkan, dari kontrak baru senilai Rp 300 miliar per September 2021 yang dibukukan perseroan, kontrak terbesar disumbang proyek Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro (PLTM) Besai Kemu, dengan nilai Rp 120 miliar.

Maria menjelaskan, kontrak baru yang dikantongi emiten jasa konstruksi bangunan komersial dan infrastruktur itu pada 2021 meningkat dibandingkan tahun lalu.

“Industri konstruksi masih memegang peranan krusial dalam pembangunan Indonesia. Dengan demikian, Acset akan terus aktif memanfaatkan peluang yang tersedia bagi perusahaan,” kata Maria kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.

Berdasarkan catatan Investor Daily, sepanjang tahun lalu Acset membukukan kontrak baru senilai Rp 289 miliar, terdiri atas proyek fondasi Stasiun Integrasi LRT-HSR Halim, fondasi Avania Residence, dan Tol Akses Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati. Mayoritas kontrak baru 2020 didominasi pekerjaan fondasi.

Maria Cesilia Hapsari menambahkan, perseroan secara hati-hati memilih proyek dengan mempertimbangkan pekerjaan yang membawa lebih banyak pengembangkan kompetensi, serta nilai tambah bagi pemangku kepentingan.

Tahun ini, menurut dia, Acset Indonusa fokus pada sektor struktur, infrastruktur, dan fondasi, di antaranya subsektor infrastruktur, seperti pengerjaan jalan tol tapak (landed) maupun tol layang (elevated), pelabuhan, pembangkit listrik, dan bandara.

“Kami menerapkan analisa know your customer (KYC) yang menyeluruh sebelum kami memutuskan untuk mengikuti satu tender,” tutur dia.

Perihal penggunaan anggaran belanja modal (capital expenditure/capex, Maria menerangkan, bisnis pada dunia konstruksi tidak membutuhkan aset yang terlalu besar karena mengikuti kebutuhan proyek dan pencapaian proyek baru.

“Perseroan mencoba melengkapi value chain yang ada, melalui anak perusahaan yang bergerak di bidang rental alat berat, jasa formwork atau bekisting, rental passenger hoist, tower crane, maupun entitas asosiasi yang menyediakan jasa concrete pumping,” papar dia.

Alhasil, kata dia, capex digunakan perseroan untuk menambah dan mengganti alat produksi yang sudah habis masa pakainya. Hingga semester I-2021, Acset Indonusa telah menghabiskan capex Rp 8,5 miliar.

“Belakangan ini kami belum banyak spending capex karena masih mengoptimalkan utilisasi aset yang sudah diinvestasikan dalam dua tahun terakhir. Ke depan, kami akan selalu kaji kebutuhan capex,” tandas Maria.

Ihwal target pendapatan dan laba 2021, Maria Cesilia Hapsari menjelaskan, Acset Indonusa belum bisa memberikan informasi secara rinci. “Yang pasti, di tengah tantangan yang dapat menimbulkan ketidakpastian saat ini, Acset tetap optimistis melihat seluruh peluang yang ada,” tegas dia.

Private Placement

Acset Indonusa telah mendapatkan persetujuan dari pemegang saham mengenai rencana penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non-HMETD) atau private placement, dengan menerbitkan 15 miliar saham. Mematok harga Rp 100 per saham, perseroan berpotensi meraup dana Rp 1,5 triliun.

Menurut Presiden Direktur Acset Indonusa, Idot Supriadi, jumlah itu mewakili maksimal 70,01% dari seluruh saham perseroan. Private placement dilakukan seiring kebutuhan perseroan memperkuat struktur modal.

Dalam aksi itu, PT Karya Supra Perkasa (KSP), anak usaha United Tractors sebagai pemegang saham pengendali Acset Indonusa dengan kepemiikan 82,17%, telah menyatakan dukungan penuh untuk berpartisipasi guna meningkatkan kemampuan perseroan menghadapi tantangan yang sedang berlangsung.

“Pelaksanaan penambahan modal, termasuk harga pelaksanaan dan jumlah final saham baru, akan kami umumkan kepada publik sesuai peraturan perundangan yang berlaku,” ujar dia.

Hingga semester I-2021, Acset Indonusa mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 14% menjadi Rp 644,07 miliar dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 748,76 miliar.

Pendapatan Acset didominasi sektor konstruksi sebesar 47%, infrastruktur 40,2%, dan fondasi 8,4%. Sektor lainnya yang merupakan aktivitas perdagangan dan jasa sewa anak usaha perseroan berkontribusi 4,4%.

Atas pencapaian kinerja tersebut, Acset sampai semester I-2021 mencatatkan rugi bersih Rp 153,1 miliar, membaik dibandingkan rugi bersih Rp 252,1 miliar pada periode sama tahun silam.
 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN