Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan melintas dengan refleksi monitor saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Karyawan melintas dengan refleksi monitor saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Lonjakan Harga Batu Baru Belum Tercermin di Saham, Kok Bisa?

Rabu, 29 September 2021 | 08:00 WIB
Muawwan Daelami dan Muhammad Ghafur Fadillah

JAKARTA, Investor.id – Kenaikan harga saham batu bara saat ini tidak serta-merta mencerminkan fundamental emitennya. Apalagi jika dikaitkan dengan lonjakan harga batu bara di pasar internasional. Kok bisa sih?

“Ada perbedaan lanskap industri sektor batu bara di Indonesia sebelum dan sesudah 2018,” kata analis pasar modal dan Founder Bageur Stock, Andy Wibowo Gunawan kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (28/9).

Harga batu bara di pasar internasional saat ini berada di level US$ 210 per ton, melesat hampir 200% dibanding US$ 75 per ton pada awal tahun. Namun, harga saham emiten batu bara selama tahun berjalan (year to date/ytd) rata-rata hanya menguat 33,5%, bahkan sebagian masih negatif.

Pada pada perdagangan Selasa (28/9), saat indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah tipis 9,38 poin (0,15%) ke level 6.113,11, harga saham emiten batu bara justru melejit. Harga saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menguat 6,9%, saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) naik 6,3%, dan saham PT Indika Energy Tbk (INDY) melejit 19,3%. Adapun saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dan Bayan Resources Tbk (BYAN) masing-masing melesat 15,2% dan 16,6%.

Meski demikian, selama tahun berjalan (ytd), saham ITMG, INDY, ADRO, dan BYAN masing-masing 'hanya' menguat 42,2%, 5,2%, 21,7%, dan 38%. Bahkan, saham PTBA masih minus 6,4%.

Perbedaan Lanskap

Menurut Andy Wibowo, perbedaan lanskap industri batu bara saat ini antara lain tampak pada kebijakan Kementerian ESDM yang mengimplementasikan patokan harga untuk pasokan wajib ke pasar domestik (domestic market obligation/DMO) sebesar US$ 70 per ton. Alhasil, emiten-emiten batu bara saat ini tidak bisa menikmati rally harga batu bara global seperti terjadi sebelum 2018. 

Andy Wibowo menjelaskan, investor saham yang ingin mengempit saham batu bara harus selalu mencari informasi terbaru mengenai kebijakan yang akan dilakukan pemerintah Tiongkok.

“Penggunaan kembali batu bara dalam jumlah besar, khususnya di Tiongkok, Inggris, dan Australi, bakal meningkatkan kinerja harga saham para emiten batu bara,” ujar dia.

Andy mengungkapkan, perkembangan harga batu bara yang saat ini berada di level US$ 210 per ton, melesat hampir 200% dibanding US$ 75 per ton pada awal tahun, tetap akan ditentukan oleh konsumsi dan produksi batu bara di Tiongkok, baik dalam jangka menengah maupun jangka panjang.

“Seberapa lama tren harga batu bara bertahan tergantung kebijakan pemerintah RRT sebagai produsen dan konsumen terbesar batu bara di dunia,” tutur dia.

Andy mengaku belum menemukan downside risk harga batu bara.   Harga komoditas tersebut diperkirakan bertahan di atas level US$ 150 per ton. Namun, apabila RRT tiba-tiba menaikkan produksi batu bara dalam negerinya, harga batu bara di pasar global bisa turun di bawah US$ 100 per ton.

Dia  menyarankan investor mengoleksi saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) yang sejak akuisisi tambang batu bara dengan nilai kalori rendah mendapatkan keuntungan dari kebijakan transfer kuota DMO yang berkurang. 

Pada 2018, menurut dia, Indo Tambangraya menghadapi situasi yang menantang karena tambang batu bara perseroan kebanyakan memiliki nilai kalori tinggi. Padahal, mayoritas konsumsi batu bara di Indonesia saat itu adalah batu bara berkalori rendah-menengah.

“Itu sebabnya, Indo Tambangraya harus melakukan transfer kuota DMO dengan pemain batu bara lainnya, di mana harga transfer kuota DMO tidak diatur pemerintah dan lebih bersifat supply-demand saja,” ujar dia.  

Batu bara
Batu bara

Diversifkasi Energi

Berdasarkan catatan Investor Daily,  lonjakan harga batu bara di pasar internasional antara lain dipicu oleh 'kegagalan' Inggris, Tiongkok, dan Australia mendiversifikasi bahan bakar pembangkit listriknya dari batu bara ke energi baru dan terbarukan (EBT). Di Inggris, akibat konversi batu bara ke gas alam dan tenaga angin, harga listrik melejit hampir dua kali lipat dari 44,18 per Mwh menjadi 75,32 per MWh setelah harga gas melambung 250%.

Inggris, yang melakukan diversifikasi energi secara masif demi mengejar target penggunaan energi hijau dari batu bara ke gas dan EBT, akhirnya kembali menggunakan batu bara sebagai bahan bakar pembangkit listriknya.

Hal serupa dialami Tiongkok, produsen batu bara terbesar di dunia, yang sedang berjuang mengurangi pengunaan energi fosilnya. Negeri Tirai Bambu kini dalam cengkeraman krisis listrik setelah negara itu mengurangi penggunaan batu bara untuk mengurangi polusi udara.

Alhasil, industri manufaktur di sejumlah wilayah Tiongkok kini berhenti beroperasi. Kasus Tiongkok turut menyeret kejatuhan harga logam, seperti nikel, timah, tembaga, dan baja yang menjadi bahan baku manufaktur. Kasus yang hampir sama dialami Australia, salah satu produsen batu bara terbesar di dunia.

Baik Inggris, Tiongkok, maupun Australia menghadapi masalah yang sama saat melakukan diversifikasi energi pembangkit listriknya. Ketika ekonomi mulai pulih, supply listrik berbasis EBT tidak siap memenuhi permintaan yang naik. Apalagi pandemi membuat kegiatan pembangkit listrik belum sepenuhnya normal.

Di Inggris masalahnya lebih pelik lagi. Selain tingginya permintaan yang tak bisa diimbangi pasokan, pembangkit-pembangkit listrik di negara tersebut mengalami gangguan produksi. Kondisi itu diperparah oleh dugaan rekayasa harga gas alam oleh produsen gas Rusia yang memicu lonjakan harga gas dalam beberapa waktu terakhir.

Menyusul terjadinya krisis listrik tersebut, ketiga negara bakal memundurkan target pengurangan emisinya. Semula, Inggris menargekan pengurangan emisi karbon hingga 78% pada 2035 dibandingkan tingkat emisi 1990. Sedangkan Tiongkok berkomitmen mengurangi emisi karbon secara drastis pada 2060. Adapun Australia berkomitmen mengurangi emisi pada 2030 sebesar 26-28% dari level tahun 2005.

 

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN