Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Petugas berjaga di depan monitor pergerakan saham Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi:  Beritasatu Photo/Uthan AR

Petugas berjaga di depan monitor pergerakan saham Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Saham Batu Bara bakal Semakin Moncer gara-gara Krisis Listrik di Inggris dan Tiongkok, Sampai Kapan?

Rabu, 29 September 2021 | 09:00 WIB
Muhammad Ghafur Fadillah dan Muawwan Daelami

JAKART, investor.id – Krisis listrik yang memaksa Inggris dan Tiongkok kembali menggunakan batu bara dalam jumlah besar untuk  bahan bakar pembangkit listriknya berpotensi  menjadikan  saham-saham emiten batu bara semakin moncer. Sampai kapan? 

“Harga batu bara masih berpotensi menguat akibat meningkatnya permintaan, sementara pasokan masih terbatas. Itu sentimen utamanya. Namun,  ini kemungkinan hanya berlaku dalam jangka pendek,” tutur Head of Research PT Henan Putihrai Sekuritas, Robertus Yanuar Hardy kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (28/9).

Meski demikian, kata Robertus, penguatan harga batu bara akan tetap dipengaruhi oleh berbagai sentimen lainnya, seperti pengetatan likuiditas melalui pengurangan pembelian obligasi (tapering) oleh Bank Sentral AS, The Fed.

“Pengetatan likuiditas di AS bisa memengaruhi pertumbuhan ekonomi global dan memicu gejolak, sehingga kegiatan produksi manufaktur dan pembangkit listrik pengguna batu bara ikut terpengaruh,” ujar dia.

Robertus memprediksi harga batu bara pada akhir 2021 tertekan ke level US$ 190-180 per ton. Potensi kenaikan suku bunga The Fed tahun depan juga bisa kembali menekan harga batu bara, sehingga harga komoditas itu bisa turun ke kisaran US$ 150-140.

Dia  mengakui, tak semua emiten batu bara terkena imbas kenaikan harga. Misalnya PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang sedang menjalani mandat sebagai penyedia batu bara di pasar lokal bagi PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Exposure ke harga batu bara global yang sedang tinggi antara lain dimiliki Indo Tambangraya, Adaro, dan Harum Energi yang porsi ekspornya cukup besar,” tandas dia.

Dalam kondisi seperti ini, menurut Robertus, sebaiknya investor memanfaatkan euforia untuk merealisasikan keuntungan sebelum harga batu bara kembali turun. “Menurut saya, sektor batu bara masih netral dengan kecenderungan negatif,” ucap dia.

Harga batu bara di pasar internasional saat ini berada di level US$ 210 per ton, melesat hampir 200% dibanding US$ 75 per ton pada awal tahun. Namun, harga saham emiten batu bara selama tahun berjalan (year to date/ytd) rata-rata hanya menguat 33,5%, bahkan sebagian masih negatif.

Pada pada perdagangan Selasa (28/9), saat indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah tipis 9,38 poin (0,15%) ke level 6.113,11, harga saham emiten batu bara justru melejit. Harga saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menguat 6,9%, saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) naik 6,3%, dan saham PT Indika Energy Tbk (INDY) melejit 19,3%. Adapun saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dan Bayan Resources Tbk (BYAN) masing-masing melesat 15,2% dan 16,6%.

Meski demikian, selama tahun berjalan (ytd), saham ITMG, INDY, ADRO, dan BYAN masing-masing 'hanya' menguat 42,2%, 5,2%, 21,7%, dan 38%. Bahkan, saham PTBA masih minus 6,4%.

Aktivitas penambangan batubara
Aktivitas penambangan batubara

Diversifikasi Energi

Berdasarkan catatan Investor Daily, lonjakan harga batu bara di pasar internasional antara lain dipicu oleh 'kegagalan' Inggris, Tiongkok, dan Australia mendiversifikasi bahan bakar pembangkit listriknya dari batu bara ke energi baru dan terbarukan (EBT). Di Inggris, akibat konversi batu bara ke gas alam dan tenaga angin, harga listrik melejit hampir dua kali lipat dari 44,18 per Mwh menjadi 75,32 per MWh setelah harga gas melambung 250%.

Inggris, yang melakukan diversifikasi energi secara masif demi mengejar target penggunaan energi hijau dari batu bara ke gas dan EBT, akhirnya kembali menggunakan batu bara sebagai bahan bakar pembangkit listriknya.

Hal serupa dialami Tiongkok, produsen batu bara terbesar di dunia, yang sedang berjuang mengurangi pengunaan energi fosilnya. Negeri Tirai Bambu kini dalam cengkeraman krisis listrik setelah negara itu mengurangi penggunaan batu bara untuk mengurangi polusi udara.

Alhasil, industri manufaktur di sejumlah wilayah Tiongkok kini berhenti beroperasi. Kasus Tiongkok turut menyeret kejatuhan harga logam, seperti nikel, timah, tembaga, dan baja yang menjadi bahan baku manufaktur. Kasus yang hampir sama dialami Australia, salah satu produsen batu bara terbesar di dunia.

Baik Inggris, Tiongkok, maupun Australia menghadapi masalah yang sama saat melakukan diversifikasi energi pembangkit listriknya. Ketika ekonomi mulai pulih, supply listrik berbasis EBT tidak siap memenuhi permintaan yang naik. Apalagi pandemi membuat kegiatan pembangkit listrik belum sepenuhnya normal.

Di Inggris masalahnya lebih pelik lagi. Selain tingginya permintaan yang tak bisa diimbangi pasokan, pembangkit-pembangkit listrik di negara tersebut mengalami gangguan produksi. Kondisi itu diperparah oleh dugaan rekayasa harga gas alam oleh produsen gas Rusia yang memicu lonjakan harga gas dalam beberapa waktu terakhir.

Menyusul terjadinya krisis listrik tersebut, ketiga negara bakal memundurkan target pengurangan emisinya. Semula, Inggris menargekan pengurangan emisi karbon hingga 78% pada 2035 dibandingkan tingkat emisi 1990. Sedangkan Tiongkok berkomitmen mengurangi emisi karbon secara drastis pada 2060. Adapun Australia berkomitmen mengurangi emisi pada 2030 sebesar 26-28% dari level tahun 2005.

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN