Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investor melihat pergerakan saham, belum lama ini. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Investor melihat pergerakan saham, belum lama ini. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Harga Batu Bara Sedang Membara, Bagaimana Nasib Saham ADRO, PTBA, ITMG, dan INDY?

Rabu, 29 September 2021 | 08:15 WIB
Muawwan Daelami dan Muhammad Ghafur Fadillah

JAKARTA, investor.id – Harga batu bara di pasar internasional sedang membara. Bagaimana nasib saham emiten batu bara, seperti PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT Indika Energy Tbk (INDY)?

Menurut analis Henan Putihrai Sekuritas, Liza Camellia, secara teknikal, saham ADRO pada posisi sell on strength dengan harga Rp 1.730-1.750. Level tersebut sudah mencapai area target pada pola parallel channel.

Velocity-nya sudah semakin curam. RSI-nya pun sudah matang di area overbought,” kata Liza kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (28/9).

Untuk saham PTBA, Liza memproyeksikan uptrend yang sustainable menuju target Rp 2.900-2.950   sebagai hasil patahnya tren turun dalam pola falling wedge. “Level support terdekatnya saat ini adalah Rp 2.500,” ujar dia. 

Adapun untuk saham ITMG, Liza Camellia menyarankan sell on strength pada level Rp 19.700 dengan level support terdekat Rp 19.300.

Terakhir, saham INDY diperkirakan menguat dan terhenti di level Rp 2.000 sejalan dengan munculnya pola  falling wedge.

“Sangat tidak confident untuk merekomendasikan buy karena velocity-nya sudah terlalu curam. Indicator RSI-nya pun sudah masuk area overbought,” tutur dia.

Harga batu bara di pasar internasional saat ini berada di level US$ 210 per ton, melesat hampir 200% dibanding US$ 75 per ton pada awal tahun. Namun, harga saham emiten batu bara selama tahun berjalan (year to date/ytd) rata-rata hanya menguat 33,5%, bahkan sebagian masih negatif.

Pada pada perdagangan Selasa (28/9), saat indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah tipis 9,38 poin (0,15%) ke level 6.113,11, harga PTBA menguat 6,9%, ITMG naik 6,3%, INDY melejit 19,3%, dan ADRO melesat 15,2%.

Meski demikian, selama tahun berjalan (ytd), saham ITMG, INDY, dan ADRO masing-masing 'hanya' menguat 42,2%, 5,2%, dan 21,7%. Bahkan, saham PTBA masih minus 6,4%.

Ilustrasi: Penambangan batubara PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG)
Ilustrasi: Penambangan batubara PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG)

Diversifikasi Energi

Berdasarkan catatan Investor Daily, lonjakan harga batu bara di pasar internasional antara lain dipicu oleh 'kegagalan' Inggris, Tiongkok, dan Australia mendiversifikasi bahan bakar pembangkit listriknya dari batu bara ke energi baru dan terbarukan (EBT). Di Inggris, akibat konversi batu bara ke gas alam dan tenaga angin, harga listrik melejit hampir dua kali lipat dari 44,18 per Mwh menjadi 75,32 per MWh setelah harga gas melambung 250%.

Inggris, yang melakukan diversifikasi energi secara masif demi mengejar target penggunaan energi hijau dari batu bara ke gas dan EBT, akhirnya kembali menggunakan batu bara sebagai bahan bakar pembangkit listriknya.

Hal serupa dialami Tiongkok, produsen batu bara terbesar di dunia, yang sedang berjuang mengurangi pengunaan energi fosilnya. Negeri Tirai Bambu kini dalam cengkeraman krisis listrik setelah negara itu mengurangi penggunaan batu bara untuk mengurangi polusi udara.

Alhasil, industri manufaktur di sejumlah wilayah Tiongkok kini berhenti beroperasi. Kasus Tiongkok turut menyeret kejatuhan harga logam, seperti nikel, timah, tembaga, dan baja yang menjadi bahan baku manufaktur. Kasus yang hampir sama dialami Australia, salah satu produsen batu bara terbesar di dunia.

Baik Inggris, Tiongkok, maupun Australia menghadapi masalah yang sama saat melakukan diversifikasi energi pembangkit listriknya. Ketika ekonomi mulai pulih, supply listrik berbasis EBT tidak siap memenuhi permintaan yang naik. Apalagi pandemi membuat kegiatan pembangkit listrik belum sepenuhnya normal.

Di Inggris masalahnya lebih pelik lagi. Selain tingginya permintaan yang tak bisa diimbangi pasokan, pembangkit-pembangkit listrik di negara tersebut mengalami gangguan produksi. Kondisi itu diperparah oleh dugaan rekayasa harga gas alam oleh produsen gas Rusia yang memicu lonjakan harga gas dalam beberapa waktu terakhir.

Menyusul terjadinya krisis listrik tersebut, ketiga negara bakal memundurkan target pengurangan emisinya. Semula, Inggris menargekan pengurangan emisi karbon hingga 78% pada 2035 dibandingkan tingkat emisi 1990. Sedangkan Tiongkok berkomitmen mengurangi emisi karbon secara drastis pada 2060. Adapun Australia berkomitmen mengurangi emisi pada 2030 sebesar 26-28% dari level tahun 2005.

 

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN