Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

CMSE 2021

Luhut: New Listing di Pasar Modal Indonesia Tertinggi di Asean

Kamis, 14 Oktober 2021 | 18:07 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi atau Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan menyebut jumlah pencatatan baru saham (new listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi yang tertinggi di kawasan Asean dan menempati urutan 12 terbesar di dunia.

Catatan tersebut, jelas Luhut, terekam pada data 8 Oktober 2021 lalu di mana jumlah pencatatan baru saham di BEI mencapai 38 perusahaan. Menyusul sebanyak 25 calon perusahaan tercatat sedang mengantri atau dalam pipeline.

"Angka pencatatan baru saham saat ini merupakan yang tertinggi di Asean dan urutan ke-12 di dunia," kata Luhut dalam kegiatan Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2021, Kamis (14/10).

Pada periode Januari hingga Oktober 2021 misalnya, rata-rata frekuensi mencapai 1.280-an sekian juta kali atau meningkat 90% dibandingkan sepanjang 2020. Di samping itu, data frekuensi harian sejak awal 2021 juga terus menerus mencatatkan rekor terbesar sepanjang sejarah di mana yang terbaru mencatat 2,1 juta lebih pada 9 Agustus 2021.

Ditambah lagi, data-rata frekuensi transaksi di BEI termasuk yang tertinggi di antara bursa efek di negara-negara lain di kawasan Asean sejak 2018. Begitu juga dari sisi permintaan jumlah investor yang meliputi investor saham dan obligasi di pasar modal yang hingga 30 September 2021, jumlahnya mencapai 6,43 juta investor atau meningkat 66% dibandingkan akhir 2020 atau setara naik 5 kali lipat sejak 2017.

Menurut dia, antrean tersebut secara umum didominasi investor ritel yang proporsinya mencapai 90% dari total keseluruhan investor. Meningkatnya paritisipasi investor ritel yang mayoritas didominasi investor domestik merupakan capaian membanggakan sekaligus tidak disangka-sangka.

Pada September 2021, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) investor ritel telah berkontribusi sebesar 64% dari total RNTH atau meningkat dibandingkan akhir 2021 sebesar 48%. Sedangkan proporsi investor institusi terhadap RNTH saat ini justru mengalami penurunan.

Dengan demikian, data tersebut memperlihatkan, semakin banyak masyarakat khususnya generasi milenial dan Z yang prorporsinya sebesar 58% dari total investor ritel per Juli 2020 yang sudah mulai melek terhadap investasi saham.

Dari sisi aktivitas inflow dana investor asing di pasar modal Indonesia hingga Oktober 2021 juga tercatat minus Rp 3 triliun. Catatan ini masih jauh lebih murah dibandingkan catatan per Juli 2021 yang nilainya minus Rp 27 triliun yang mayoritas disebabkan outflow di bidang obligasi pemerintah.

Sedangkan di sisi lain, secara rata-rata bulanan, investor asing masih mencatatkan net buy sejak 2021. Hal ini, ujar Luhut, menunujukkan kepercayan investor asing terhadap performa ekonomi Indonesia berkat keberhasilan penanganan pandemi.

"Momentum seperti ini harus dijaga agar pasar modal tetap stabil dan kuat sebagai salah satu katalis penting dalam mendukung pertumbuhan di sektor ril dalam menghadapi tantangan ke depan," ucapnya.

Ia juga menekankan, Indonesia tidak bisa melarikan diri dari tantangan global yang semakin kompleks dan dinamis di setiap harinya. Maka dari itu, ia mengajak masyarakat Indonesia untuk mampu beradaptasi dan mengenali peluang dari setiap tantangan.

Adapun tantangan yang dimaksud salah satunya adalah ketegangan antara Tiongkok dan Amerika. Kedua negara tersebut sedang berlomba mengurangi ketergantungan satu sama lain sehingga Indonesia berpotensi mendapat keuntungan dari relokasi perusahaan asing di Tiongkok maupun di Amerika.

"Untuk itu, pasar modal berperan vital dalam mendorong perubahan wajah Indonesia. Terbukti, oertumbuhan ekonomi Indonesia dalam satu dekade terakhir tidak lepas dari tumpuan pasar modal sebagai penyedia dana pembangunan," pungkas Luhut.

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN