Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bursa Efek Indonesia. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Bursa Efek Indonesia. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

IHSG Dekati Level Tertinggi Sepanjang Masa

Jumat, 15 Oktober 2021 | 00:47 WIB
Nabil Al Faruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) makin mendekati level tertinggi sepanjang masa, yang pernah terjadi pada Februari 2018 di level 6.693,4. Pada perdagangan Kamis (14/10), IHSG berada di posisi 6.626,1.

Direktur Ekuator Swarna Investama Hans Kwee mengatakan, penguatan indeks sejauh ini didukung oleh sejumlah sentimen positif, seperti harga komoditas global yang meningkat dan derasnya aliran dana asing yang masuk ke pasar Indonesia. Perlu diketahui, neraca perdagangan Indonesia saat ini surplusnya melebar karena harga komoditas yang cukup tinggi.

“Komoditas ini lagi naik dan bagus untuk kita. Indonesia itu banyak sekali perusahaan komoditasnya, jadi kami melihat ini yang mendorong naik pasar,” ujar Hans kepada Investor Daily, Kamis (14/10).

Sentimen lainnya, menurut hans, cadangan devisa Indonesia saat ini sudah mencapai level tertinggi. Kemudian, impor bahan baku dan barang modal meningkat, hal ini dapat diartikan bahwa ekonomi kuartal IV-2021 akan berjalan kembali. Selain itu, inflasi Indonesia saat ini cukup terkendali.

Selanjutnya, data PMI Indonesia saat ini tengah mengalami kenaikan, sehingga mengindikasikan bahwa ekonomi Indonesia itu akan pulih. Faktor lainnya, angka kasus Covid-19 di Indonesia berpotensi terus menurun.

“Ada satu faktor yang cukup penting adalah pasar juga optimis karena sebelumnya pemerintah mencanangkan defisit perdagangan APBN itu 3%, tadinya orang berpikir apakah Indonesia mampu melakukan itu. Namun, pemerintah mengeluarkan undang-undang harmonisasi peraturan perpajakan yang di dalamnya ada tax amnesty, kemudian perluasan jumlah pembayar pajak terjadi karena KTP yang dipakai,” ujar dia.

Meskipun IHSG terus menguat, Hans memandang bahwa indeks berpotensi koreksi karena saat ini level indeks sudah berada di sekitar 6.600. Koreksi ini seiring dengan pasar yang menantikan pengumuman The Fed terkait dengan tapering dan kenaikan suku bunga.

“Saya perkirakan indeks di akhir tahun ada di 6.600, tapi mungkin ada koreksi November karena ada tapering di sana dan kita pikir pasar akan rebound kembali di akhir tahun. Koreksi ini tidak akan terlalu dalam,” ujar dia.

Lebih lanjut, analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, IHSG pada tahun ini diproyeksikan mencapai level 6.800 dan bestcase-nya berada di level 7.000. Dia menilai bahwa IHSG pada perdagangan kemarin hampir mendekati level tertinggi sepanjang masa, dimana IHSG ditutup di level 6.626,1. Adapun sektor yang dapat mendukung kinerja IHSG sampai akhir tahun adalah finance, properti konstruksi, dan tambang batubara.

Secara terpisah, Head of Investment Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe juga mengatakan bahwa level IHSG kemarin telah mendekati level tertinggi sejak Februari 2018 yang mencapai 6.693.47. Namun, indeks rentan untuk terkoreksi seiring dengan target tahun ini yang mencapai 6.800. 

“Koreksinya mungkin bisa terjadi besok (hari ini) atau awal pekan depan. Level IHSG sudah terlalu tinggi. Koreksi IHSG berpotensi di 6.250-6.150, minimal terkoreksi di 6.350. Koreksinya pun wajar, sebab Desember itu selalu hijau,” ujar dia.

Kiswoyo menambahkan, apabila IHSG terkoreksi, maka investor dapat mengambil kesempatan untuk membeli saham-saham penggerak indeks, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), dan PT Astra International Tbk (ASII).

Sebelumnya, Kiswoyo menyampaikan bahwa market cap saham BBCA ke depannya atau mungkin tahun depan bisa menyentuh angka Rp 1.000 triliun. Sementara, untuk tahun ini, masih dilihat dulu perkembangannya seperti apa karena BCA baru saja melakukan stock split.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN