Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Suasana Main Hall di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Suasana Main Hall di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

PENGGALANGAN DANA DI PASAR MODAL MELONJAK 126%

New Listing RI Tertinggi di Asean

Jumat, 15 Oktober 2021 | 12:43 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com) ,Lona Olavia (redaksi@investor.id) ,Nabil Alfaruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Tahun 2021 menjadi momen terbaik bagi perusahaan untuk menggelar initial public offering (IPO) saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Jumlah pencatatan baru saham (new listing) di BEI tahun ini merupakan yang tertinggi di kawasan Asean dan menempati urutan 12 terbesar di dunia.

Sementara itu, penggalangan dana di pasar modal tahun ini, per 5 Oktober, mencapai Rp 266,8 triliun, atau melonjak 126% dibanding pencapaian 2020 yang hanya Rp 118 triliun.

Seiring dengan kegairahan di pasar modal tersebut, indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI kemarin ditutup pada level 6.626,1 atau naik 1,36%. Selama tahun berjalan (year to date/ytd), indeks melonjak 10,82%.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan, jumlah pencatatan baru saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah yang tertinggi di kawasan Asean dan menempati urutan 12 terbesar di dunia.

“Per 8 Oktober 2021, jumlah pencatatanbaru saham di BEI mencapai 38 perusahaan dan masih ada 25 perusahaan yang sedang mengantre IPO. Ini merupakan yang tertinggi di Asean dan urutan ke 12 dunia,” kata Luhut saat membuka Capital Market Summit & Expo (CMSE) di Jakarta, Kamis (14/10/2021).

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan

CMSE merupakan rangkaian kegiatan peringatan 44 tahun diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia.

Sebagai perbandingan, jumlah emiten baru tahun ini di bursa Thailand tercatat hanya 27 perusahaan dan Malaysia 23 perusahaan. Luhut menyatakan, pada periode Januari hingga Oktober 2021, frekuensi transaksi harian mencapai 1,2 jutaan atau meningkat 90% dibandingkan 2020.

Adapun data frekuensi harian sejak awal 2021 terus menerus mencatatkan rekor terbesar sepanjang sejarah, dan yang terbaru sebesar 2,1 juta pada Agustus 2021.

Rata-rata frekuensi transaksi di BEI termasuk yang tertinggi di antara bursa efek di negara-negara lain di kawasan Asean sejak 2018. Begitu juga dari jumlah investor di pasar modal, yang hingga 30 September 2021, mencapai 6,43 juta investor atau meningkat 66% dibandingkan 2020 atau naik lima kali lipat sejak 2017.

Pada September 2021, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) investor ritel telah berkontribusi sebesar 64% dari total RNTH atau meningkat dibandingkan akhir 2020 sebesar 48%.

Sedangkan proporsi investor institusi terhadap RNTH saat ini justru menurun.

Dana asing juga terus masuk ke pasar saham. Per 14 Oktober, pembelian bersih (net buy) asing mencapai Rp 31,6 triliun.

“Momentum seperti ini harus dijaga agar pasar modal tetap stabil dan kuat sebagai salah satu katalis penting dalam mendukung pertumbuhan di sektor ril dalam menghadapi tantangan ke depan,” ucapnya.

Meski demikian, Menko LuhutPandjaitan menyoroti masih rendahnya pendalaman pasar keuangan (financial deepening) Indonesia, apabila dibandingkan dengan negara pasar berkembang (emerging market) lain.

Selain itu, rasio kapitalisasi pasar di bursa di Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih rendah, yakni 47%. Posisi itu lebih rendah dibanding India sebesar 99% dan Malaysia 130%.

“Oleh sebab itu, berbagai inisiatif untuk mengakselerasi pendalaman pasar keuangan perlu terus diupayakan,” tegas dia. 

Startup IPO

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam pembukaan dalam acara OJK Virtual Innovation Day 2021, Senin (11/10). foto: Investor Daily/Nida Sahara
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso  Foto: Investor Daily/Nida Sahara

Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mendorong terjadinya digitalisasi di sektor pasar modal.

Selain itu, saat ini bursa memberikan peluang besar bagi startup di Indonesia untuk masuk ke area pasar modal.

Wimboh melihat, ke depan akan banyak startup yang berpotensi menggelar IPO.

Selain itu, kata Wimboh, pertumbuhan ekonomi baru harus menjadi fokus bersama, terutama menyangkut bagaimana memanfaatkan hadirnya agenda green economy untuk mengatasi perubahan iklim.

“Seluruh dunia fokus pada green economy dan Indonesia bisa memanfaatkan agenda ini. Adanya insentif emisi karbon diharapkan kita dapat mengoptimalkan insentif tersebut untuk menjadi hal positif bagi perusahaan-perusahaan kita,” tambahnya._

Menanggapi digitalisasi di pasar modal, Founder Traderindo. com Wahyu Laksono menilai, digitalisasi di sektor pasar modal merupakan inisiatif yang sudah sewajarnya. Karena itu, digitalisasi tersebut hanya persoalan waktu.

Good progress dan better possibility. Jelas, digitalisasi akan semakin membuat pasar modal menjadi menarik dan efisien serta semakin membuka valuasi,” kata Wahyu.

Dukungan digitalisasi juga seharusnya membuat pasar modal semakin terbuka dan dapat menyerap kapital dari berbagai komponen yang terkoneksi secara digital. Menurut dia, startup di Indonesia sudah siap dan mereka menantikan momentum ini.

Momentum Terbaik IPO

2021 tahun IPO terbaik dalam sewindu terakhir
2021 tahun IPO terbaik dalam sewindu terakhir

Head of Investment Banking BNI Sekuritas Tulus Nababan mengatakan, tingginya penggalangan dana di pasar modal menandakan bahwa antusiasme para investor, baik asing dan domestic masih besar. Pasar modal Indonesia memiliki daya tarik yang besar, meski di tengah pandemi.

“Memang pandemi membuat kemajuan pasar modal Indonesia sedikit tertahan, namun para investor tidak perlu khawatir karena masalah yang ada saat ini berbeda dengan yang terjadi pada 1998, dimana terjadi ketidakseimbangan perbankan,” jelasnya.

Tulus menegaskan, BNI Sekuritas mencatat bahwa secara tahunan emiten menunjukkan perbaikan kinerja keuangan rata-rata sebesar 28,5%. Hal ini sesuai dengan prediksi bahwa pertumbuhan laba bersih emiten pada akhir tahun 2021 akan meningkat 30%.

“Faktor lainya yang menarik, yakni suku bunga global yang masih rendah termasuk di Indonesia, merupakan atmosfer yang baik bagi emiten ataupun investor asing untuk masuk ke pasar modal,” kata dia.

Karena itulah, kata Tulus, momentum ini sebaiknya dimanfaatkan dengan baik oleh para emiten untuk IPO.

Direktur Penilaian Otoritas Jasa Keuangan (OJK) M Maulana memaparkan, untuk menjaga momentum yang baik di pasar modal saat ini, OJK memberikan beberapa relaksasi. Salah satunya adalah pelonggaran publikasi laporan keuangan dari 6 bulan menjadi 8 bulan.

OJK juga memperpanjang masa bookbuilding yang sebelumnya 21 hari, menjadi 42 hari. Hal itu, dilakukan agar perusahaan yang berencana IPO lebih mudah dan fleksibel.

Bursa yang Kredibel

Dirut BEI Inarno Djajadi saat pembukaan CMSE 2021, Kamis (14/10/2021). Sumber: BSTV
Dirut BEI Inarno Djajadi saat pembukaan CMSE 2021, Kamis (14/10/2021). Sumber: BSTV

Sementara itu, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi menyatakan, sebagai fasilitator dan regulator pasar modal di Indonesia, BEI terbuka bagi semua orang. Bahkan, BEI memiliki komitmen untuk menjadi bursa efek yang sehat dan berdaya saing global, serta menjadi lembaga yang dapat dipercaya atau kredibel.

Dia menyebutkan, pasar modal Indonesia terus memberikan kinerja yang baik di tengah pandemi. Hal tersebut tercermin pada aspek penambahan jumlah investor, perusahaan tercatat, maupun aktivitas perdagangan. Tercatat, jumlah investor saham atau dalam hal ini single investor identification (SID) terus meningkat.

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah investor pasar modal mencapai 6,43 juta pada September 2021. Jumlah ini meningkat 65,73% dibandingkan akhir 2020 yang mencapai 3,88 juta orang.

Investor reksa dana mendominasi jumlah investor pasar modal, yakni sebanyak 5,78 juta atau meningkat 82,18% dari akhir 2020. Investor saham mencapai 2,9 juta dan diproyeksi jumlah investor saham akan tembus 3 juta pada pekan ini.

Aktivitas perdagangan di BEI dalam tiga bulan terakhir pun mencatatkan rekor tertinggi barunya. Rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) mencapai Rp 13 triliun per hari atau melonjak dua kali lipat dalam 5 tahun terakhir.

Jumlah emiten baru di beberapa negara Asean
Jumlah emiten baru di beberapa negara Asean

Untuk itu, Inarno berharap investor di pasar modal dapat berperan membantu percepatan pemulihan ekonomi nasional. Guna menarik lebih banyak lagi investor masuk ke pasar modal itulah, BEI menggelar Capital Market Summit & Expo 2021 (CMSE 2021) yang merupakan rangkaian acara peringatan 44 tahun Diaktifkannya Kembali Pasar Modal Indonesia.

Acara yang mengusung tema “Sinergi Pasar Modal Bagi Pemulihan Ekonomi Nasional” ini diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bekerjasama dengan BEI, PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Kegiatan yang digelar pada 14- 16 Oktober 2021, bersamaan dengan peringatan Bulan Inklusi Keuangan. CMSE 2021 menghadirkan 9 sesi seminar dan talkshow dengan narasumber- narasumber dari para top level management serta pameran 100 digital booth dari para stakeholders pasar modal yaitu OJK dan SRO, anak usaha SRO, anggota bursa, manajer investas, serta perusahaan tercatat dan calon perusahaan tercatat.

Insentif Pajak

Pembelian dan penjualan bersih investor asing
Pembelian dan penjualan bersih investor asing

Pada sesi seminar CMSE kemarin, Kasubdit Peraturan PPh Badan Direktorat Perturan Perpajakan II Direktorat Jenderal Pajak Dading Handoko menjelaskan, pemerintah memberikan kenyamanan bagi perusahaan yang menggelar go public. Tarif PPh badan mereka yang semula 22% turun menjadi 19%.

Untuk menikmati insentif tersebut ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Antara lain, jumlah saham yang diperdagangkan minimal 40%.

“Persyaratan 40% tersebut untuk mendorong masyarakat agar ikut memiliki, sehingga kepemilikan usaha tidak terbatas oleh segelintir orang,” ujarnya.

Selain itu, insentif diberikan untuk mendorong terjadinya pemerataan ekonomi. Tarif pajak yang lebih rendah juga berpotensi menaikkan laba perusahaan.

Menurut Dading, jumlah emiten yang memanfaatkan insentif penurunan tarif hanya sekitar 56 perusahaan. Dia berharap ke depan akan meningkat lagi. (fur/try)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN