Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja.  (ist)

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja. (ist)

BCA Terus Perkuat Fundamental,  Market Cap Rp 1.000 Triliun Tinggal Menunggu  Waktu  

Senin, 18 Oktober 2021 | 13:00 WIB
Lona Olavia

JAKARTA, investor.id – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berkomitmen terus menjaga soliditas fundamentalnya melalui pertumbuhan kinerja yang berkesinambungan. Berbekal komitmen itu, BBCA tinggal menunggu waktu untuk menembus kapitalisasi pasar (market cap) Rp 1.000 triliun. Bank tersebut diyakini akan terus mengukir sejarah dan rekor harga baru.

Fakta fundamental dan historikal, menurut Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja, menjadi hal penting untuk dicermati. Saham BCA pertama kali diperjualbelikan ke masyarakat pada 31 Mei 2000.

“Saat itu, BCA menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) seharga Rp 1.400 per saham,” tutur Jahja pada acara Corporate Action yang disiarkan secara langsung di BeritaSatu TV, Senin (18/10).

Setahun berikutnya, kata Jahja, dilakukan pemecahan nilai nominal saham (stock split) dengan rasio 1:2 (satu saham lama dipecah menjadi dua saham baru). Harga BBCA yang kala itu berada di level Rp 1.704, dipecah menjadi Rp 852.

Aksi korporasi itu pun berlanjut seiring kenaikan harga BBCA menjadi Rp 3.552 pada 2004 dan menjadi Rp 1.776 setelah stock split dengan rasio yang sama. “Pada 2008, ketika harga BBCA tembus Rp 7.150, dilakukan kembali stock split menjadi Rp 3.350,” ujar Jahja.

Jahja Setiaatmadja mengungkapkan, 13 tahun kemudian, harga BBCA melonjak lebih dari 10 kali menjadi Rp 35.000-an. Untuk memfasilitasi tingginya minat investor ritel, termasuk para investor muda, untuk berinvestasi di pasar modal, manajemen BCA kembali memutuskan untuk melakukan stock split, namun kali ini dengan rasio 1:5 (satu saham lama dipecah menjadi lima saham baru).

Dia menambahkan, nilai nominal per saham BBCA sebelum stock split adalah Rp 62,5, lalu dipecah menjadi Rp 12,5. Harga saham setelah stock split berada di level Rp 7.325, dari posisi penutupan perdagangan Selasa (12/10) di harga Rp 36.600. Artinya, dengan harga saham Rp 7.500, market cap BBCA tinggal Rp 50-an triliun lagi untuk menembus level psikologis Rp 1.000 triliun.

“Namun, saya selaku presiden direktur BCA tidak berani berjanji apa-apa. Pemain saham BBCA banyak dari investor luar negeri, dana pensiun, perusahaan asuransi, fund manager, itu banyak sekali, investor lokal juga banyak. Jadi, pengaruh mereka besar sekali. Saya yakin mereka semua arahnya fundamental. Kalau memang fundamental BCA bagus, sejarah itu akan terus terulang,” papar dia.

Jangan Emosional

Jahja mengingatkan, meski dia optimistis dengan kondisi bursa dalam negeri, investor sebaiknya jangan terlalu emosional dalam menempatkan portofolio sahamnya. “Jangan emosional, harga berapa saja dibeli, salah. Harus betul-betul melihat fundamentalnya, harus rasional,” tegas dia.

Pada penutupan perdagangan Jumat (15/10), market cap BBCA berada di angka Rp 934 triliun dan masih menduduki posisi teratas market cap emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Market cap BBCA juga menjadi yang terbesar sektor perbankan di Asia Tenggara saat ini.

Berdasarkan data perdagangan BEI, Rabu (13/10), nilai kapitalisasi pasar BBCA setelah stock split menembus Rp 936,89 triliun, setara dengan US$ 66 miliar (kurs Rp 14.300 per dolar AS) menjadi level tertinggi (all time high) sejak BCA melantai di bursa saham pada 31 Mei 2000.

Market cap BBCA sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa Rp 1.017 triliun setelah harganya menyentuh Rp 8.250 pada perdagangan intraday sesi I, Rabu (13/10). Namun pada akhir perdagangan sesi kedua, saham BBCA ditutup di level Rp 7.525, naik Rp 200 (2,73%).

Market cap BBCA jauh meninggalkan pesaingnya, yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), yang berada di urutan ke-2 dengan maket cap Rp 642 triliun, dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) di peringkat ke-3 senilai Rp 373 triliun. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Astra International Tbk (ASII) masing-masing di peringkat ke-4 dan ke-5 dengan market cap Rp 328 triliun dan Rp 254 triliun.

Sementara itu, total market cap emiten BEI mencapai Rp 8.015 triliun. Sedangkan di jajaran perbankan kawasan Asia Tenggara, BCA menempati urutan teratas dengan market cap US$ 64,7 miliar. Posisi BCA dikuntit DBS Group Holding Ltd (US$ 58,3 miliar), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) US$ 45,2 miliar, Overseas-Chinese Banking Corp US$ 39,5 miliar, dan United Overseas Bank Ltd US$ 33,1 miliar.

Kelengkapan Infrastruktur

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menjelaskan, BCA tengah fokus meningkatkan performa Bank Digital BCA sebelum bank ini menggelar IPO. Peningkatan performa mencakup layanan untuk nasabah hingga kinerja perusahaan.

“Sejak diluncurkan Juli lalu, layanan digital dengan platform 'blu' ini terus meningkatkan fiturnya agar bisa mengakomodasi aktivitas keuangan nasabah. Bank Digital BCA pun sudah menunjukkan kinerja yang positif dari sisi jumlah nasabah dan penyaluran pembiayaan,” ujar dia.

Jahja mengemukakan, akibat ketatnya persaingan di industri perbankan nasional saat ini, diperkirakan hanya tiga bank digital yang mampu bertahan dalam satu dekade ke depan. Itu tidak terlepas dari fenomena di negara-negara yang lebih dulu adaptif terhadap layanan keuangan digital.

“Tahun 1988 ada 250 bank, yang bertahan cuma separuhnya. Sekarang cuma 100, dan yang besar tidak sampai 100. Bahwa masuk bank digital untuk efisiensi, itu harus karena spesifik pasarnya untuk milenial yang menginginkan fitur baru,” tandas dia.

Jahja menekankan, kebutuhan uang tunai di Indonesia masih cukup besar. Kebutuhan informasi, seperti call center, juga penting. “Jadi, jangan coba-coba jadi bank digital kalau tidak mempersiapkan diri dengan infrastruktur lengkap. Di Indonesia, cashless society belum bisa karena butuh sinyal seluler yang kuat, jaringan internet yang lebih berkualtas, juga perlu penyebaran informasi dan edukasi ke seluruh masyarakat secara masif,” tegas dia.

Pada semester I-2021, BCA membukukan laba bersih Rp 14,5 triliun, tumbuh 18% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Sebanyak 54,94% saham BCA dikuasai PT Dwimuria Investama Andalan, perusahaan milik duo bersaudara orang terkaya di Indonesia, Robert Budi Hartono dan Bambang Michael Hartono.

Adapun publik menguasai 45,06%, Djohan Emir Setijoso 0,09%, Jahja Setiaatmadja 0,03%, Suwignyo Budiman 0,03%, Tan Ho Hien/Subur Tan 0,01%, dan Tonny Kusnasi 0,01%.

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN