Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi:  Beritasatu Photo/Uthan AR

Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Rally IHSG Bisa Terhenti Pekan Ini

Senin, 25 Oktober 2021 | 06:01 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada pekan ini berpotensi terkoreksi secara terbatas, setelah menguat selama 13 hari berturut-turut. Koreksi ini diperlukan untuk menopang penguatan lanjutan IHSG.

Associate Director of Research and Investment PT Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menjelaskan, IHSG pekan ini berpotensi turun dengan kemungkinan 55%. Adapun proyeksi level IHSG pekan ini berkisar 6.575-6.690. “Koreksi sehat dibutuhkan untuk menopang penguatan lanjutan," kata dia kepada Investor Daily, Minggu (24/10).

Nico menegaskan, pekan ini, investor perlu memperhatikan setiap sentimen yang ada di pasar. Apalagi, pekan ini bakal ada pertemuan Bank Sentral Eropa dan Bank Sentral Jepang. Kehati-hatian menjadi hal krusial dalam kondisi seperti saat ini.

Adapun saham yang tergabung dalam indeks LQ45, menurut Nico, masih berpotensi meningkat pekan ini hingga akhir tahun. Saham dari sektor komoditas, perbankan, dan telekomunikasi akan menjadi penggerak LQ45.

"Namun, hati-hati bagi saham yang harganya sudah meningkat terlalu tinggi, karena cenderung akan terkoreksi. Apalagi, saham-saham komoditas yang volatilitasnya cenderung lebih tinggi," jelas dia.

Peningkatan saham-saham LQ45 tersebut, menurut Nico, akan berpengaruh signifikan terhadap IHSG. Sebab saham LQ45 dengan kapitalisasi pasar yang besar seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mampu menggerakkan pasar, sehingga bisa berkontribusi terhadap IHSG hingga akhir tahun ini. “Tapi ingat harus realistis, karena ada The Fed yang siap untuk memasuki musim taper tantrum," tuturnya.

Sementara itu, analis PT MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengungkapkan, pekan ini, IHSG bakal cenderung bergerak terbatas. IHSG akan rentan terkoreksi dan bergerak di level 6.560-6.600. “Dilihat dari sisi teknikal, selama IHSG belum mampu break resistance di area 6.687, pergerakannya rawan koreksi," ungkap dia.

Di tengah potensi koreksi tersebut, saham yang masih potensial adalah PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), PT Semen Baturaja Tbk (SMBR), dan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA). Target harga dari tiga saham itu adalah Rp 12.500, Rp 1.000, dan Rp 1.000.

Secara terpisah, Portfolio Manager Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Andrian Tanuwijaya mengatakan, menjelang akhir tahun ini, ada beberapa sentimen yang patut diwaspadai investor seperti ketersediaan vaksin yang luas, efektivitas penanganan pandemi, serta komunikasi pemerintah dan bank sentral akan perubahan kebijakan moneter dan fiskal.

Namun, di balik sentimen tersebut, ada sejumlah peluang yang bisa menopang pergerakan IHSG pada kuartal IV tahun ini. Andrian mengungkapkan, peluang itu adalah optimisme terhadap pemulihan aktivitas ekonomi yang ditandai oleh nilai tukar rupiah yang kuat, imbal hasil obligasi Indonesia stabil, dan rilis data ekonomi yang menunjukkan pemulihan.

Antusiasme dan optimisme pelaku pasar akan pemulihan aktivitas domestik sudah terlihat dari meningkatnya arus modal, baik dari investor lokal maupun asing. Rata-rata nilai perdagangan harian selama pekan pertama pada Oktober mencapai level tertinggi sejak Januari 2021, yaitu sebesar Rp 15,5 triliun.

“Katalis positif lainnya adalah gencarnya vaksinasi, membaiknya kepercayaan konsumen, kenaikan harga komoditas, dan perbaikan earnings perusahaan. Diharapkan, itu dapat mendorong penguatan pasar saham Indonesia sampai akhir tahun ini," kata dia.

Dengan melihat sejumlah sentimen tersebut, Manulife akan fokus untuk mengidentifikasi peluang investasi melalui proyeksi ekonomi makro dan analisis fundamental pada masing-masing emiten. Menurut Andrian, Manulife mengedepankan peluang investasi pada tiga tema utama, yakni conventional economy yang diuntungkan dari pemulihan aktivitas domestik, e-economy yang didukung oleh prospek pertumbuhan yang tinggi pada ekonomi digital, serta peningkatan permintaan energi baru terbarukan (EBT) yang mendukung green economy.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN