Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan melintas di main hall Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Karyawan melintas di main hall Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

27 Calon Emiten Masuk Daftar Tunggu Listing di BEI

Sabtu, 27 Februari 2021 | 21:07 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, ada 27 perusahaan yang berencana melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham tahun ini. Sebanyak 21 dari 27 perusahaan tersebut merupakan perusahaan dengan skala aset menengah ke atas.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, berdasarkan pipeline BEI per 26 Februari 2021, ada 27 perusahaan yang masih menjalani proses evaluasi pencatatan saham. "Namun, kami bisa menyampaikan nilai estimasi fund-raised IPO yang di atas Rp 1 triliun karena belum terbentuk harga penawaran," jelas dia dalam keterangan resmi akhir pekan lalu.

Kendati demikian, Nyoman mengklasifikasikan 27 perusahaan yang akan IPO saham dalam tiga kelas aset. Dia menyebutkan, sebanyak 6 perusahaan yang akan IPO merupakan perusahaan aset skala kecil dengan nilai aset di bawah Rp 50 miliar. 

Kemudian, sebanyak 11 perusahaan masuk dalam kelas aset skala menengah, yakni Rp 50-250 miliar. Selanjutnya, 10 perusahaan masuk ke kelas aset besar di atas Rp 250 miliar.

Sementara dilihat dari sektornya, sebanyak 4 perusahaan berasal dari sektor basic materials, 2 perusahaan dari sektor industrials, 3 perusahaan dari sektor consumer non-cyclicals, 7 perusahaan dari sektor consumer cyclicals, dan 3 perusahaan dari sektor properties and real estate. Selanjutnya, 4 perusahaan dari sektor teknologi, 1 perusahaan dari sektor infrastruktur dan 3 perusahaan dari sektor energi.

Kode Broker

Lebih lanjut, pada Juli mendatang, BEI juga berencana untuk menutup kode broker di tampilan perdagangan bursa. Direktur Perdagangan BEI Laksono Widodo mengatakan, penghapusan kode broker ini bertujuan untuk meningkatkan market governance dan mengurangi kebutuhan bandwidth data yang menyebabkan keterlambatan aktivitas trading.

"Trading engine yang kami pakai adalah buatan Nasdaq dan data protokol yang baru terpaksa dimodifikasi utk mengakomodasi ini (kode broker). Kalau frekuensi transaksi masih rendah yg terlalu masalah tapi kalau frekuensi transaksi naik mulai terasa bebannya," papar dia.

Kendati kode broker ini dihapus, namun data transaksi secara lengkap bisa diakses di akhir perdagangan. Lagipula, praktik ini juga sudah berlaku di bursa negara lain. 

"Semua negara tidak mencantumkan kode broker kecuali Filipina. Korea Selatan hanya menampilkan kode broker untuk 5 top stocks (by value) pada perdagangan hari itu," kata dia.

Penutupan kode broker ini, lanjut Laksono juga sekaligus untuk menerapkan praktik market maker yang benar. Pasalnya, banyak terjadi praktik goreng-menggoreng saham IPO ketika kode broker ditampilkan.

BEI juga saat ini sedang merancang peraturan mengenai market maker supaya lebih gamblang dan jelas. Untuk lebih melindungi investor ritel, BEI juga mengimplementasikan electronic IPO sehingga porsi investor ritel semakin besar dan praktik menggoreng saham IPO jauh lebih sulit. "Pada akhirnya price discovery semakin natural dan lebih baik," papar dia.(git)

Editor : Frans (ftagawai@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN