Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Golden Energy and Resources, unit usaha Grup Sinarmas.

Golden Energy and Resources, unit usaha Grup Sinarmas.

BHP Jual Tambang di Australia ke Grup Sinarmas Rp 19,1 Triliun

Senin, 8 November 2021 | 23:55 WIB
Lona Olavia

JAKARTA, investor.id – Perusahaan pertambangan Australia, BHP Minerals Pty Ltd melepas 80% saham BHP Mitsui Coal Pty Ltd (BMC) kepada Stanmore SMC Holdings Pty Ltd (SMC), anak usaha Golden Energy and Resources Ltd (GEAR), unit usaha Grup Sinarmas. Nilai transaksi mencapai US$ 1,35 miliar atau setara Rp 19,1 triliun.

Perjanjian terkait jual beli itu telah diteken pada 8 November 2021, dimana aksi korporasi tersebut dilakukan melalui akuisisi seluruh saham Dampier Coal (Qld) Pty Ltd oleh SMC.

Adapun GEAR adalah perusahaan publik yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Singapura (SGX), sedangkan Stanmore tercatat di Bursa Efek Australia (ASX). GEAR merupakan perusahaan yang 86,87% sahamnya dikuasai oleh Grup Sinarmas lewat PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).

Sekretaris Perusahaan Dian Swastatika Sentosa Susan Chandra menyebutkan, pembayaran atas rencana transaksi senilai US$ 1,35 miliar tersebut akan dilakukan secara bertahap dengan menggunakan kombinasi pendanaan internal dan eksternal. Adapun ketentuan pembayarannya yakni US$ 1,1 miliar jatuh tempo saat penyelesaian rencana transaksi, US$ 100 juta jatuh tempo enam bulan setelah penyelesaian rencana transaksi, dan hingga maksimum US$ 150 juta berdasarkan mekanisme bagi hasil atas pendapatan jika harga jual rata-rata berada di atas ambang tertentu selama periode dua tahun, jatuh tempo dalam waktu tiga bulan setelah akhir periode pengujian yang diperkirakan tahun 2024.

“Penyelesaian rencana transaksi diperkirakan terlaksana pada pertengahan tahun 2022, yang mana penyelesaiannya masih tunduk pada pemenuhan syarat-syarat pendahuluan,” kata Susan dalam keterangan resmi, Senin (8/11).

Untuk diketahui, BMC saat ini memiliki tambang aset batu bara metalurgi yang terletak di Queensland, Australia, yang terdiri atas South Walker Creek dan tambang Poitrel, dengan total produksi batu bara metalurgi sekitar 10 metrik ton (Mt) per tahun dan total cadangan sebanyak 171 Mt, serta proyek batu bara Wards Well yang belum dikembangkan.

“Perseroan berharap bahwa dengan terealisasinya rencana transaksi ini, perseroan melalui entitas anak akan memperkuat posisinya sebagai salah satu pelaku bisnis dalam usaha batu bara metalurgi di wilayah Asia dan Oseania yang selanjutnya dapat memberikan dampak positif bagi para pemegang saham,” ungkap Susan.

Sementara itu, Presiden BHP Minerals Australia Edgar Basto mengatakan, penjualan aset ini sejalan dengan upaya perusahaan untuk melakukan transisi dari emisi karbon besar. “Transaksi ini sesuai dengan strategi BHP, memberikan nilai bagi perusahaan dan pemegang saham kami, serta memberikan kepastian bagi tenaga kerja BMC dan masyarakat setempat," ujarnya.

Aset BMC yang dilepas adalah tambang batu bara metalurgi Poitrel dan South Walker Creek, ditambah infrastruktur Red Mountain, dan pengembangan sumur Wards Well. Semuanya di Queensland, Australia. Poitrel dan South Walker Creek memiliki produksi batu bara metalurgi total sekitar 10 juta ton per tahun dan cadangan lebih dari 135 juta ton.

Sementara itu, CEO Stanmore Marcelo Matos mengatakan, transaksi ini akan membuat perusahaan menjadi salah satu produsen batu bara metalurgi terkemuka secara global dan memberikan Stanmore portofolio aset Tier 1. “Akuisisi ini memberikan cadangan dan basis sumber daya dan aset yang meningkat secara signifikan dengan masa pakai tambang yang diharapkan melebihi 25 tahun produksi, memposisikan perusahaan untuk menghasilkan arus kas yang substansial dan peluang pertumbuhan di masa depan," katanya.

Dengan adanya akuisisi ini akan memberikan peningkatan produksi batu bara metalurgi Stanmore dengan kelipatan 5,6, sementara cadangan batu baranya akan meningkat dengan kelipatan 4,2. Saat ini, Stanmore masih akan menunggu dari Australian Foreign Investment Review Board dan otoritas lainnya untuk proses akuisisi tersebut. Selain itu, juga menunggu persetujuan akuisisi dari Dian Swastatika Sentosa sebagai pengendali GEAR.

Akuisisi ini akan dibiayai dengan fasilitas pinjaman Stanmore untuk akuisisi senilai US$ 625 juta, penawaran saham baru Stanmore kepada pemegang saham eksisting (pro-rata entitlement offer), dan sumber kas internal. Rencananya, senilai US$ 600 juta akan dibiayai melalui pro-rata entitlement offer meski saat ini keputusan tersebut belum resmi.

Namun, perusahaan sudah mendapatkan komitmen dari GEAR, melalui Golden Investments, untuk menyerap senilai US$ 300 juta. Sedangkan US$ 300 juta lainnya telah mendapatkan jaminan dari PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA). Terlepas dari komitmen ini, Stanmore masih bermaksud untuk memulai diskusi dengan penjamin emisi profesional dan investor pihak ketiga untuk menanggung setiap penawaran kepemilikan.

Per September 2021, penjualan batu bara Stanmore mencapai 723.000 ton, mencerminkan kinerja tambang dan pabrik persiapan batu bara yang kuat yang menghasilkan 653.000 ton batubara yang dapat dijual dengan 96% kokas dan 4% batu bara termal. Diharapkan, hingga akhir tahun ini produksi perusahaan bisa mencapai 2,2 juta ton hingga 2,4 juta ton. Peluang peningkatan produksi ini sejalan dengan kondisi pasar batu bara yang membaik, permintaan yang kuat, dan harga batu bara yang lebih baik untuk batu bara kokas.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN