Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bursa Efek Indonesia (BEI)  di Jakarta.  Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Saham Big Caps Angkat IHSG ke Level Tertinggi Baru

Jumat, 26 November 2021 | 00:17 WIB
Ghafur Fadillah

JAKARTA, investor.id – Kenaikan harga sejumlah saham berkapitalisasi besar (big caps) telah mendorong indeks harga saham gabungan (IHSG) mencapai level tertinggi sepanjang masa, yakni 6.751, sebelum akhirnya ditutup ke level 6.699. IHSG tercatat naik 16,06 poin atau 0,24% pada perdagangan Kamis (25/11).

Analis dan CEO Elkoranvindi Indonesia Investama Fendi Susiyanto menjelaskan, meskipun ditutup sedikit di bawah level tertingginya, kenaikan IHSG cukup tinggi karena terdorong oleh naiknya harga beberapa saham big caps seperti TLKM, BMRI dan BBNI. "Terdorong oleh naiknya saham TLKM hingga ke level 4.000, dengan kontribusi pada IHSG berkisar di 5-6%. Di sisi lain, turut ditopang saham seperti BMRI dan BBNI," ujar Fendi kepada Investor Daily, Kamis (25/11).

Menurut Fendi, dengan asumsi saham kategori blue chips kembali membukukan peningkatan harga, semisal pada saham TLKM kembali naik hingga Rp 4.500 per saham, serta diikuti saham lainnya seperti BBCA, BBNI dan BMRI, bukan tidak mungkin IHSG dapat segera menembus level 7.000. "Saham blue chips lainnya, seperti PGAS dan seterusnya juga dapat berkontribusi pada kenaikan IHSG," terang dia.

Lebih lanjut Fendi mengatakan, meski sempat mencapai level tertingginya, indeks nyatanya ditutup pada level 6.699,34 atau sedikit lebih rendah dari posisi teratas. Menurut Fendi, penyebab koreksi harga saham yang terjadi pada BBCA, EMTK dan juga selling pressure dari saham BUKA telah menurunkan level indeks.

Pada 19 November lalu, IHSG sempat mencapai level 6.720 sekaligus berhasil mencatatkan rekor tertinggi intraday terbaru. Sebelumnya, 11 November 2021, IHSG menyentuh level intraday tertinggi sepanjang masa di posisi 6.704, yang sebelumnya dicapai pada 20 Februari 2018 di posisi 6.693,46.

Setelah melesat pada perdagangan Kamis, sejumlah pihak justru memprediksikan IHSG bergerak mixed cenderung melemah pada perdagangan Jumat (26/11). Hari ini, IHSG diperkirakan bergerak mixed dengan peluang melemah dengan support berada di level 6.672 dan resistance di level 6.731.

“Pergerakan tersebut disebabkan pelaku pasar yang mewaspadai hasil dari FOMC Meetings di mana sebanyak 80% pelaku pasar yakin The Fed akan menaikkan suku bunga acuan di bulan Juni 2022, lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. Untuk saham yang menurut kami layak untuk diperhatikan pada hari ini adalah saham AALI,” ungkap Victoria sekuritas dalam publikasinya.

Senada dengan itu, Phintraco Sekuritas juga memperkirakan IHSG terkoreksi ke kisaran 6.660-6.680 pada perdagangan Jumat (26/11). Secara teknikal, terbentuknya pola shooting star yang diikuti pelebaran slope negative pada Stochastic RSI (25/11) mengindikasikan tekanan jual masih cukup besar di akhir pekan ini (26/11).

“Cermati potensi technical rebound, seperti MAPI, MARI, PNBS, AALI dan LSIP, serta saham dengan potensi uji resistance untuk melanjutkan penguatan, seperti MPMX, MNCN, ASSA dan BMRI dapat diperhatikan di akhir pekan ini,” ungkap Phintraco Sekuritas.

IHSG masih dibayangi kecenderungan wait and see jelang dimulainya tapering-off oleh The Fed di akhir bulan ini. Terlebih, FOMC terbaru menunjukan kesiapan the Fed untuk melakukan pengetatan kebijakan moneter (menaikan suku bunga acuan) yang lebih agresif, jika kondisi inflasi tinggi masih berlanjut. Merespons hal tersebut, nilai tukar rupiah melemah 0,07% ke level Rp 14,265 pada Kamis sore (25/11) atau terdepresiasi sekitar 0.38% dalam dua pekan terakhir.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN