Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengunjung melihat monitor saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Pengunjung melihat monitor saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Rekor IPO Pecah Tahun Ini

 Yes!  29 Perusahaan Antre Masuk Bursa

Selasa, 30 November 2021 | 13:05 WIB
Gita Rossiana dan Nabil Al Faruq

JAKARTA, investor.id – Sebanyak 29 perusahaan sedang antre untuk masuk Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham dalam sebulan ke depan. Dari jumlah itu, 12 perusahaan tengah melangsungkan penawaran awal (bookbulding). Dengan masuknya emiten-emiten baru, indeks harga saham gabungan (IHSG) menjelang tutup tahun berpeluang melampaui rekor tertinggi 6.723,39 yang dicapai pada Senin (22/11) lalu.

Jika seluruhnya terealisasi, IPO saham tahun ini akan berjumlah 72 perusahaan dan memecahkan rekor jumlah IPO terbanyak yang diukir pada 2019, yakni 59 perusahaan. Sebanyak 43 perusahaan telah merealisasikan IPO-nya sampai akhir pekan lalu.

Dari sisi nilai, IPO saham tahun ini telah memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah. Per 16 September, nilai IPO saham mencapai Rp 32,14 triliun dan berpotensi melampaui Rp 45 triliun sampai akhir tahun. Ke-12 perusahaan yang sedang bookbuilding saja menargetkan dana IPO berkisar Rp 11,3 triliun hingga Rp 13,9 triliun. Rekor nilai IPO tertinggi sebelumnya dicapai pada 2010, yaitu Rp 29,67 triliun.

Kalangan analis memperkirakan banyaknya perusahaan yang menggelar IPO saham tahun ini bakal menarik perusahaan-perusahaan lainnya untuk melantai di bursa saham tahun depan. Apalagi pada 2022 bakal masuk perusahaan-perusahaan teknologi dengan kapitalisasi pasar jumbo (big cap), terutama GoTo yang dikabarkan mengincar dana IPO Rp 43 triliun.

Ke-12 perusahaan yang tengah melangsungkan bookbuilding terdiri atas PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP), PT OBM Drilchem Tbk (OBMD), PT Widodo Makmur Perkasa Tbk (WMPP), PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA), dan PT Indo Pureco Pratama Tbk (IPPE).

Lainnya yaitu PT RMK Energy Tbk (RMKE), PT Avia Avian Tbk (AVIA), PT Wahana Inti Makmur Tbk (NASI), PT Bintang Samudera Mandiri Lines Tbk (BSML), PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY), PT Wira Global Solusi Tbk (WGSH), serta PT Jaya Swarasa Agung Tbk (TAYS). (Lihat tabel)

12 perusahaan yang sedang bookbuilding
12 perusahaan yang sedang bookbuilding

Sementara itu, data BEI menunjukkan, dari 43 saham emiten yang menggelar IPO tahun ini, 27 saham mencetak keuntungan (capital gain) hingga Jumat (26/11), sedangkan 16 saham lainnya mencatakan kerugian (minus). Gain tertinggi dibukukan saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) sebesar 10.852%, disusul PT Berkah Beton Sadaya Tbk (BEBS) dan PT Bank Net Indonesia Syariah Tbk (BANK) dengan gain masing-masing 3.670% dan 2.453%.

Data BEI juga menyebutkan, ke-29 perusahaan yang sedang antre masuk bursa (termasuk 12 yang sedang bookbuilding) berasal dari berbagai sektor, yakni consumer cyclicals (8 perusahaan), consumer non-cyclicals (5 perusahaan), energy (3 perusahaan), dan basic materials (2 perusahaan). Lainnya berasal dari sektor infrastructures (3 perusahaan), industrials (2 perusahaan), transportation & logistics (1 perusahaan), technology (2 perusahaan), financials (2 perusahaan), serta properties & real estate (1 perusahaan).

Emiten Jumbo

Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia (AEI), Samsul Hidayat mengungkapkan, BEI telah berhasil menyerap IPO saham bernilai jumbo tahun ini. Jumlah perusahaan yang melangsungkan IPO pada 2021 juga tergolong banyak, sudah mencapai 43 perusahaan hingga akhir pekan lalu.

“Tren tahun depan, akan semakin banyak perusahaan yang menggelar IPO dengan size jumbo. Jika perusahaan yang menawarkan saham IPO memiliki fundamental kuat serta sektor industri dan prospeknya bagus, pasar tidak ragu untuk menyerapnya,” kata Samsul kepada Investor Daily di Jakarta, Minggu (28/11).

Menurut Samsul, sektor lainnya yang akan ikut meramaikan aksi IPO saham tahun depan adalah sektor teknologi, komunikasi, energi, dan finansial. Sektor-sektor tersebut masih akan mendominasi pasar modal. GoTo telah menyatakan keseriusannya akan melantai di BEI, menyusul PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) yang masuk bursa pada Agustus lalu.

“Bukalapak sudah membuka karpet merah bagi kami semua pelaku teknologi nasional untuk melantai di BEI,” tutur CEO Tokopedia, William Tanuwijaya dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR di Jakarta, baru-baru ini.

Grup GoTo telah berhasil menyelesaikan penutupan penggalangan dana pra-IPO pertama. Dari aksi tersebut, GoTo menghimpun dana lebih dari US$ 1,3 miliar dari sejumlah investor mancanegara.

Adapun investor yang terlibat di antaranya anak perusahaan yang dimiliki sepenuhnya oleh Abu Dhabi Investment Authority (ADIA), Avanda Investment Management, Fidelity International, Google, Permodalan Nasional Berhad (PNB), Primavera Capital Group, SeaTown Master Fund, Temasek, Tencent, dan Ward Ferry.

Samsul Hidayat menjelaskan, seiring maraknya perusahaan yang melantai tahun ini maupun tahun depan, IHSG berpotensi terdongkrak. “Semakin banyak volume saham yang diperdagangkan maka akan semakin besar peluang IHSG untuk mengalami kenaikan,” ujar dia.

Pasar modal domestik, kata Samsul, tahun ini menunjukan perkembangan positif. Per November 2021, market cap bursa berada pada angka Rp 8.088 triliun, jauh di atas 2020 senilai Rp 6.970 triliun. Demikian pula indikator lain, seperti aktivitas transaksi harian saham yang meningkat cukup tajam menjadi rata-rata Rp 13,5 Triliun per hari.

“Kondisi ini menggambarkan bahwa bertumbuhnya minat masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal. Ini juga membuktikan investor mulai melihat pasar modal sebagai instrumen investasi yang lebih menjanjikan dibandingkan instrumen keuangan lainnya,” papar dia.

Kinerja saham IPO
Kinerja saham IPO

Jauh Lebih Baik

Secara terpisah, Juru Bicara Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Sekar Putih Djarot mengemukakan, selama tahun berjalan (year to date/ytd), IHSG menguat 9,74% ke level 6.561,55. Indeks sempat menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah pada Senin (22/11) lalu di posisi 6.723,39.

Pada penutupan akhir pekan lalu, market cap bursa mencapai Rp 8.123 triliun. Investor asing masih bertahan di tengah isu tapering. Terbukti asing membukukan pembelian besih (net buy) senilai Rp 38,68 triliun (ytd). “Pendorong pertumbuhan IHSG antara lain sektor teknologi, consumer product, dan kesehatan,” tutur dia.

Kinerja IHSG saat ini, menurut Sekar, sudah jauh lebih baik dibanding saat indeks menyentuh titik terendahnya, yaitu 3.937,63 pada 24 Maret 2020. “Bahkan, posisi IHSG sudah berada di atas periode sebelum pandemi Covid-19 seiring membaiknya persepsi pasar terhadap kebijakan pengelolaan ekonomi dan penanganan pandemi oleh pemerintah,” ujar dia.

Sekar Putih menambahkan, penghimpunan dana melalui pasar modal hingga 16 November 2021 mencapai Rp 306,95 triliun yang berasal dari IPO saham, penerbitan saham baru untuk menambah modal (rights issue) atau penawaran umum terbatas (PUT), serta emisi obligasi korporasi dan sukuk korporasi. Angka itu jauh lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya.

Antusiasme penghimpunan dana di pasar modal, kata Sekar, merefleksikan kondisi fundamental perekonomian Indonesia. Arah ekokomi ke depan pun sudah sesuai ekspektasi pasar. Ditambah lagi, masih terdapat puluhan penawaran umum dengan nilai sedikitnya Rp 41,25 triliun dalam pipeline BEI.

“Selain itu, pasar modal lokal telah mencatatkan lonjakan pertumbuhan investor pasar modal yang didominasi investor milenial,” ucap dia.

Kalangan analis yakin IPO saham tahun depan masih marak. Perusahaan yang go public pada 2022 terutama berasal dari sektor teknologi informasi (TI).

Equity Analyst PT Jasa Kapital Utama Indonesia, Cheryl Tanuwijaya menjelaskan, rencana IPO saham perusahaan hasil penggabungan Gojek dan Tokopedia (GoTo) pada awal 2022 bakal mendorong perusahaan teknologi lain untuk masuk bursa.

"Investor akan antusias dengan IPO jumbo GoTo, sehingga perusahaan teknologi lain akan mengikuti IPO dan sahamnya turut diminati," kata Cheryl kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.

Cheryl juga memprediksi jumlah perusahaan yang IPO tahun ini bakal melampaui rekor jumlah IPO yang dicapai pada 2019. Soalnya, hingga pekan lalu saja sudah 43 perusahaan yang IPO.

Saat ini terdapat sekitar 29 perusahaan yang bersiap masuk bursa. Dari jumlah itu, 12 perusahaan sedang menggelar bookbuilding. "Jika tahun ini IPO marak, itu merupakan sinyal adanya pemulihan ekonomi yang tercermin pada tingginya antusiasme investor," tandas dia.

Dia mengakui, saham IPO secara umum tidak langsung meningkat setelah dicatatkan (listing) di BEI. Soalnya, pergerakan saham IPO juga dipengaruhi kondisi pasar. “Namun, perusahaan yang memiliki bisnis dan fundamental bagus, sahamnya akan meningkat dalam jangka panjang meski dalam jangka pendek menurun,” tutur dia.

Hal ini pula, kata Cheryl Tanuwijaya, yang menyebabkan IHSG belum tentu langsung menguat di tengah maraknya IPO. “Ada faktor lain di luar IPO yang bisa memengaruhi IHSG. Tetapi memang, secara jangka panjang, IPO berpengaruh positif ke pasar akibat meningkatnya partisipasi masyarakat dalam berinvestasi," papar dia.

Tergantung Kebutuhan

Head of Research PT Yuanta Sekuritas Indonesia, Chandra Pasaribu memprediksi tahun depan IPO masih ramai, terutama IPO perusahaan teknologi.

Dia menambahkan, tahun ini merupakan periode yang sibuk di pasar modal Indonesia. Tidak hanya IPO saham, tahun ini pun marak aksi rights issue serta merger dan akuisisi. Peningkatan frekuensi aksi korporasi di pasar modal dipengaruhi keadaan industri yang sangat dinamis seiring masuknya Indonesia ke era ekonomi 4.0 atau revolusi industri.

"Dinamika perubahan ini dipercepat oleh pandemi, sehingga tatanan dan ekspektasi terhadap outlook bisnis berubah cepat. Itu menyebabkan terjadinya penyesuaian aksi korporasi oleh para pelaku bisnis atau emiten," ucap dia.

Sejauh ini, menurut Chandra, perusahaan yang sudah mencatatkan sahamnya di BEI menunjukkan pergerakan yang beragam. Misalnya PT Bukalapak Tbk (BUKA) dan PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) yang melakukan IPO dengan nilai besar, namun harganya langsung anjlok setelah listing perdana. “Sebaliknya, banyak perusahaan kecil yang harga sahamnya langsung melejit setelah listing,” tegas dia.

Penggalangan dana IPO
Penggalangan dana IPO

Pulihnya Perekonomian

Di sisi lain, Associate Director of Research and Investment PT Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus memprediksi IPO tahun depan masih didominasi perusahaan teknologi. GoTo bakal mengawali IPO tahun depan dengan nilai jumbo.

Selain kehadiran GoTo, kata dia, antusiasme pendanaan dari pasar modal tahun depan ditopang mulai pulihnya perekonomian. Meski muncul varian baru Covid-19, perekonomian nasional tahun depan bakal menggeliat. Hal itu akan mendorong korporasi untuk mendapatkan pendanaan dari pasar modal lewat IPO.

Menurut Nico, kehadiran emiten baru ini bisa membawa optimisme baru bagi pergerakan IHSG yang mendorong peningkatan investasi, baik secara nilai maupun jumlah investor.

"Tahun depan kami melihat IHSG berada di level 7.380 dengan harapan Covid-19 bisa dikendalikan sepenuhnya," tandas dia kepada Investor Daily di Jakarta, Minggu (28/11).

Berdasarkan data BEI, penggalangan dana di pasar modal lewat IPO saham, rights issue, serta emisi obligasi korporasi dan sukuk korporasi tahun ini juga telah memecahkan rekor tertinggi.

Hingga akhir Oktober 2021, penggalangan dana (fundraising) dari pasar modal domestik mencapai Rp 274,3 trilun, meliputi rights issue Rp 160 triliun, emisi onligasi/sukuk korporasi Rp 83,1 triliun, selebihnya berasal dari IPO saham.

Pada 2019, kendati jumlah perusahaan IPO memecahkan rekor, nilai IPO-nya relatif kecil, yakni Rp 14,70 triliun. Pada 2019, nilai rights issue mencapai Rp 29,2 triliun, sedangkan emisi obligasi/sukuk korporasi sebesar Rp 123 triliun, sehingga totalnya mencapai Rp 166,9 triliun.

Adapun tahun lalu, total penggalangan dana dari pasar modal mencapai Rp 118,8 triliun, terdiri atas IPO saham Rp 6,07 triliun, rights issue Rp 20,3 triliun, dan emisi obligasi/sukuk korporasi Rp 92,4 triliun. (az)

 

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN