Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta.  Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

IPO Big Tech Jadi Tonggak Baru Pasar Modal Indonesia

Selasa, 30 November 2021 | 18:40 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Pasar modal Indonesia cukup lama menanti penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) bernilai jumbo. Setelah PT Adaro Energy Tbk (ADRO) mencatatkan sahamnya (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2008, belum ada perusahaan lain yang memecahkan rekor nilai penghimpunan dana besar seperti Adaro yang mencapai Rp 12,25 triliun.

Namun, tahun 2021 menjadi momentum penting bagi perkembangan pasar modal Indonesia. Terlepas dari pandemi Covid-19 yang menghantam segala lini, pasar modal Indonesia justru kedatangan emiten baru dengan penghimpunan dana yang bahkan melebihi Adaro. Perusahaan itu adalah PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), unicorn pertama yang listing di BEI.

Gegap gempita perkembangan teknologi informasi di tengah pandemi menjadi penopang kesuksesan IPO Bukalapak. Ditambah, posisinya sebagai unicorn pertama yang listing, Bukalapak mampu meraih dana segar Rp 21,9 triliun dari IPO. Nilai kapitalisasi pasar Bukalapak sempat mencapai Rp 109 triliun saat hari pertama perdagangan sahamnya.

Perjalanan Bukalapak sebagai unicorn yang mencatatkan saham di BEI bukanlah perjalanan yang relatif singkat. BEI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Kementerian Komunikasi dan Informatika harus melakukan pendekatan secara perlahan dan bertahun-tahun untuk bisa menggaet unicorn masuk bursa.

Mantan Menkominfo Rudiantara bahkan sudah mengajak unicorn untuk melantai di bursa sejak 2018. Namun, Rudiantara yang kini menjadi Steering Committee Indonesia Fintech Society (IFSoc) menyoroti ada beberapa isu yang memerlukan beberapa penyesuaian sehingga unicorn mau melantai di bursa.

Salah satunya adalah perusahaan teknologi sekelas unicorn rata-rata belum mencatatkan laba dan tanpa tangible assets bernilai besar seperti perusahaan konvensional. Namun, unicorn memiliki pertumbuhan bisnis yang tinggi.

"IFSoc berpandangan BEI dan regulator terkait dapat menyesuaikan parameter bagi eligibilitas perusahaan teknologi untuk melakukan IPO terkait performa bisnis, keuangan, serta tangible assets, namun tetap memperhatikan aspek kesetaraan bagi perusahaan konvensional," jelas Rudiantara dalam sebuah webinar.

Satu isu penting lainnya adalah struktur saham di Indonesia belum menerapkan MVS (multi voting shares). IFSoc berpandangan, diperlukan kriteria yang terukur terkait besaran voting rights yang dapat dimiliki oleh pendiri perusahaan untuk menyeimbangkan kepentingan investor minoritas.

Peta Start-up. Sumber: BEI.

Akomodasi Aturan

Kepala Unit Pengembangan Startup dan Small and Medium Enterprises (SME) BEI, Aditya Nugraha mengemukakan bahwa bursa sudah mengeluarkan empat inisiasi untuk mengikuti perkembangan bisnis unicorn agar sesuai dengan bursa domestik. Pertama dari segi pencatatan, BEI memberikan empat pintu masuk bagi para unicorn atau perusahaan yang masuk kategori ekonomi baru (new economy) agar bisa tercatat di papan utama.

“Empat pintu masuk adalah pendekatan laba sebelum pajak dalam satu tahun terakhir, agregat laba sebelum pajak dalam dua tahun terakhir, pendapatan, total aset, dan operating cash flow kumulatif,” jelas dia.

Selanjutnya, BEI juga mengembangkan sektor perusahaan tercatat agar sesuai praktik yang berlaku di negara lain. Pengklasifikasian sektor industri itu dilakukan dengan mengganti klasifikasi 10 indeks sektoral dalam Jakarta Stock Industrial Classification (Jasica) menjadi IDX Industrial Classification (IDX-IC) yang berlaku sejak 25 Januari 2021. "Melalui IDX-IC, perusahaan seperti Gojek akan tergolong dalam sektor aplikasi dan jasa internet," tutur Aditya.

BEI juga mengeluarkan peraturan notasi khusus kepada perusahaan yang menggunakan multiple voting shares (MVS) atau saham dengan hak suara multipel (SHSM) dalam struktur permodalannya pada tahap pertama. Aturan ini sebagai bentuk perlindungan kepada investor sekaligus bentuk perlindungan atas ide maupun visi perusahaan dalam jangka panjang.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna menjelaskan bahwa aturan SHSM dan aturan pencatatan di papan utama sudah masuk tahap finalisasi dengan OJK. Aturan ini diharapkan bisa segera dirilis sehingga dapat mengakomodasi unicorn yang akan melakukan IPO.

Inisiasi terpenting dalam mendukung IPO unicorn adalah penerapan skema penawaran umum secara elektronik (e-IPO). Aturan ini membuat investor ritel bisa ikut berpartisipasi dalam IPO unicorn dan perusahaan berfundamental bagus lainnya.

Dengan akomodasi tersebut, Nyoman berharap tidak hanya Bukalapak yang akan melantai di bursa. Indonesia memiliki banyak unicorn atau perusahaan rintisan dengan valuasi di atas US$ 1 miliar. Bahkan sudah ada decacorn atau perusahaan rintisan dengan valuasi US$ 10-100 miliar.

Menurut BEI, start-up yang masuk kategori decacorn baru satu, yaitu GoTo, perusahaan hasil merger Gojek dengan Tokopedia. Sedangkan di jajaran unicorn ada Traveloka, Bukalapak, JD.ID, J&T Express, dan OVO. Lalu, di level centaur atau start-up dengan valuasi US$ 100 juta-1 miliar terdapat sekitar 27 perusahaan, antara lain Halodoc, Dana, Modalku, Ralali, Akulaku, Kredivo, dan Blibli.

Head of Research PT Yuanta Sekuritas Indonesia Chandra Pasaribu menjelaskan, masuknya unicorn juga bisa menarik investor global ke pasar modal Indonesia. Selain itu, kehadiran unicorn bisa meningkatkan pembobotan Indonesia di indeks MSCI. "MSCI dibentuk secara pasif oleh kapitalisasi pasar dan likuiditas. Kalau yang masuknya perusahaan unicorn besar dan likuid, konstituen MSCI otomatis berubah," ucap dia.

Tahun depan diharapkan menjadi kelanjutan dari masuknya unicorn, decacorn, maupun centaur ke pasar modal Indonesia. BEI sudah membuka 'pintu masuk' untuk menyambut para big tech tersebut. Aturan MVS juga sudah masuk tahap finalisasi. Era baru telah dimulai. Hal ini akan menjadi tonggak baru dalam sejarah pasar modal Indonesia. Jadi, tunggu apa lagi? We will wait for you!

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN