Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investor memantau pergerakan harga saham di Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Investor memantau pergerakan harga saham di Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Fokus Pasar: Penerapan Ekosistem Usaha Go Green

Jumat, 3 Desember 2021 | 08:41 WIB
Muhammad Ghafur Fadillah (muhamad.ghafurfadillah@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id  - Seruan Go Green dalam beberapa tahun terakhir menjadi fokus bagi para pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas pertumbuhan bisnis dengan mengedepankan unsur sosial dan lingkungan.

Untuk mendukung akselerasi dari ekonomi hijau, pemerintah juga mengedepankan energi ramah lingkungan dan mendorong para produsen komoditas untuk dapat mengolah produk dengan kadar tinggi guna menjaga emisi karbon.

Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan menyebutkan, nilai pasar kredit karbon global dapat menyentuh di angka US$ 50 miliar pada 2030. Proyeksi tersebut, berasal dari komitmen sejumlah negara dan perusahaan besar untuk berpartisipasi dalam upaya penurunan emisi karbon beberapa waktu terakhir.

Selain itu, Kementerian Perdagangan tengah menyusun kebijakan dan peta jalan terkait implementasi perdagangan karbon untuk pasar domestik dan global.

Untuk diketahui, saat ini terdapat 368 perusahaan besar dunia telah berpartisipasi dalam upaya penekanan emisi karbon dunia. Sementara, 1.800 perusahaan lainnya telah menunjukkan komitmennya untuk ikut berkontribusi dalam perdagangan karbon ini.

Masyita Crystallin, Staf Khusus Bidang Perumusan Kebijakan Fiskal dan Makro Ekonomi, Kementerian Keuangan dalam diskusi Zooming with Primus - SWF Effect bagi Ekonomi live  BeritasatuTV, Kamis (14/1/2021). Sumber: BSTV
Masyita Crystallin, Staf Khusus Bidang Perumusan Kebijakan Fiskal dan Makro Ekonomi, Kementerian Keuangan  Sumber: BSTV

Lebih lanjut, Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Perumusan Kebijakan Fiskal dan Makroekonomi Masyita Crystallin mengatakan, konferensi tingkat tinggi perserikatan bangsa bangsa terkait perubahan iklim edisi ke-26 atau COP26 merupakan momentum bagi Indonesia untuk menarik investasi hijau sebesar mungkin.

“Indonesia memiliki potensi besar untuk menurunkan emisi dari sektor kehutanan, energi, transportasi sebesar 650 Mton CO2e dan 398 Mton CO2e dengan bantuan pendanaan internasional,” jelasnya.

Gelaran COP26 merupakan momentum Indonesia untuk menjadi negara destinasi green investment. Dalam menghindari perubahan iklim, Indonesia telah melakukan berbagai upaya diantaranya menginisiasi sistem penganggaran perubahan iklim atau Climate Budget Tagging dalam APBN.

Selama 2016–2019, rata-rata realisasi belanja untuk perubahan iklim sebesar Rp 86,7 triliun per tahun dan rata-rata alokasi anggaran perubahan iklim di APBN mencapai 4,1% per tahun.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN