Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Minat pemodal terhadap saham-saham baru di pasar perdana atau initial public offering (IPO) tetap tinggi.  Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Minat pemodal terhadap saham-saham baru di pasar perdana atau initial public offering (IPO) tetap tinggi. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Desember, 10 Emiten Baru Dipastikan Listing

Sabtu, 4 Desember 2021 | 19:24 WIB
Nabil Alfaruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com) ,Jauhari Mahardika

JAKARTA, investor.id — Animo perusahaan untuk melantai di Bursa Efek Indonesia tidak terpengaruh sentimen munculnya varian baru Covid-19 Omicron di sejumlah negara. Setidaknya sepuluh emiten baru dipastikan mencatatkan saham perdana (listing) pada Desember ini, dari total 30 perusahaan yang sudah masuk pipeline penawaran umum perdana (initial public offering/IPO).

Emiten baru yang dipastikan listing di bursa Desember tahun ini adalah PT Cisarua Mountain Dairy Tbk, PT Widodo Makmur Perkasa Tbk, PT Wira Global Solusi Tbk, dan PT Jaya Swarasa Agung Tbk. Selain itu, PT RMK Energy Tbk, PT Avia Avian Tbk, PT OBM Drilchem Tbk, PT Indo Pureco Pratama Tbk, PT Adhi Commuter Properti Tbk, dan PT Dharma Polimetal Tbk.

Dengan tambahan 10 emiten baru tersebut, maka total hingga akhir tahun ini setidaknya ada 53 perusahaan yang mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia.

Hal itu sesuai target emiten baru BEI tahun 2021. Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, varian baru Omicron tidak memengaruhi rencana perusahaan untuk melakukan IPO saham dan listing di bursa. Bahkan ada penambahan 1 perusahaan yang masuk pipeline IPO Desember ini menjadi total 30 hingga tanggal 2 Desember 2021, dibanding rencana sebelumnya.

“Kondisi 30 perusahaan yang berada dalam pipeline IPO di bursa masih kondusif. Sejauh ini, terdapat 4 perusahaan yang sedang dalam proses penjatahan (allotment) di dalam sistem e-IPO, di antaranya, PT Cisarua Mountain Dairy Tbk, PT Widodo Makmur Perkasa Tbk, PT Wira Global Solusi Tbk, dan PT Jaya Swarasa Agung Tbk. Apabila semua berjalan lancar, maka keempat perusahaan tersebut akan mencatatkan sahamnya di BEI pada tanggal 6 Desember 2021,” ujar Nyoman, Jumat (3/12).

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa BEI I Gede Nyoman Yetna. (ist)
Direktur Penilaian Perusahaan Bursa BEI I Gede Nyoman Yetna. (ist)

Di samping itu, lanjut dia, pada sistem e-IPO masih ada 4 perusahaan yang sedang proses penawaran (of fering), yaitu PT RMK Energy Tbk, PT Avia Avian Tbk, PT OBM Drilchem Tbk, dan PT Indo Pureco Pratama Tbk.

Sedangkan 2 perusahaan lainnya yaitu PT Adhi Commuter Properti Tbk dan PT Dharma Polimetal Tbk dalam proses penawaran awal (book building). Namun, Nyoman tidak menyebut nama-nama lain yang masuk dalam daftar 30 perusahaan yang pipeline tersebut.

Ia hanya menyebut klasifikasi perusahaan berdasarkan aset yang kini berada dalam pipeline, dengan merujuk pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 53/POJK.04/2017.

“Ada 14 perusahaan aset skala besar (di atas Rp 250 miliar). Sedangkan yang 12 perusahaan aset skala menengah (antara Rp 50 miliar sampai dengan Rp 250 miliar, dan 4 perusahaan aset skala kecil (aset di bawah Rp 50 miliar),” ucapnya.

Jumlah perusahaan dalam pipeline IPO saham
Jumlah perusahaan dalam pipeline IPO saham

Untuk rincian sektornya, tercatat ada 2 perusahaan dari sektor Basic Materials; 3 perusahaan dari sektor Industrials; 1 perusahaan dari sektor Transportation & Logistics; 6 perusahaan dari sektor Consumer Noncyclicals; 8 perusahaan dari sektor Consumer Cyclicals; dan 2 perusahaan dari sektor Technology.

Selain itu, 3 perusahaan dari sektor Energy; 1 perusahaan dari sektor Financials, 2 perusahaan dari sektor Properties & Real Estate, serta 2 perusahaan dari sektor Infrastructures.

Pada kesempatan terpisah, analis memperkirakan emiten baru yang tersisa hingga akhir tahun ini untuk mencatatkan saham perdana di bursa minimal 10 perusahaan.

Dengan sebanyak 43 perusahaan sudah melantai di bursa hingga 25 November 2021, maka realisasi hingga akhir Desember nanti sebanyak 53 emiten baru atau sesuai target BEI tahun ini.

Tercatat ada dua emiten yang terakhir melantai di BEI pada tanggal tersebut, yakni PT Perma Plasindo Tbk (BINO) dan PT Caturkarda Depo Bangunan Tbk (DEPO). Head of Investment PT Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe mengatakan, sisa target emiten yang akan melantai di bursa pada tahun ini akan tercapai, seiring dengan prediksi indeks harga saham gabungan (IHSG) bullish pada akhir tahun nanti.

“Perusahaan bisa melantai di bursa itu harus IHSG lagi bullish, tapi kalo IHSG bearish ya susah. IHSG saat ini lagi koreksi, cuman koreksinya sehat. Ke depan indeks masih akan menuju 6.800 pada akhir tahun ini dan pada tahun depan bisa mencapai 7.000, masih lancar,” ujar Kiswoyo kepada Investor Daily, Jumat (3/12) malam.

Equity Analyst Jasa Utama Capital Sekuritas Cheril Tanuwijaya juga mengatakan, target 53 emiten baru tahun ini akan tercapai. Perusahaan tertarik untuk melantai di bursa karena dapat memperoleh alternatif permodalan murah, selain dari bank.

“Terkait dengan varian baru Omicron, sejauh ini belum begitu berpengaruh terhadap target 53 emiten yang akan melantai di bursa. Pemerintah pun tengah mempersiapkan berbagai kebijakan untuk menjaga perekonomian Indonesia dalam menghadapi varian baru tersebut. Varian baru Omicron masih terus dipantau perkembangannya,” ujar dia.

Penggalangan Dana Naik

Raihan dana IPO per kuartal, 2021
Raihan dana IPO per kuartal, 2021

Nyoman mencatat, sampai tanggal 2 Desember 2021, total penggalangan dana yang berhasil dihimpun dari IPO saham, obligasi, sukuk, serta rights issue sebesar Rp 306,1 triliun. Ia mengatakan, jumlah itu terdiri atas raihan dari pencatatan saham perdana senilai Rp 51,6 triliun, pencatatan obligasi dan sukuk sebesar Rp 91,30 triliun, serta rights issue Rp 163,18 triliun.

“Kami memperkirakan total penggalangan dana di BEI akan terus meningkat. Ini mengingat masih banyak yang dalam daftar antrean perusahaan-perusahaan pipeline pencatatan saham, obligasi, dan sukuk serta pipeline rights issue,” ucapnya.

Cimory Raih Hingga Rp 3,66 T

Presiden Direktur Cimory Farel Grandisuri Sutantio. Foto: IST
Presiden Direktur Cimory Farel Grandisuri Sutantio. Foto: IST

PT Cisarua Mountain Dairy Tbk atau Cimory telah menetapkan harga pelaksanaan penawaran umum perdana atau IPO sebesar Rp 3.080 per saham.

Dengan harga pelaksanaan tersebut, total dana yang bisa diraih Cimory dalam pelaksanaan IPO mencapai Rp 3,66 triliun.

Cimory melepas 1,19 miliar saham atau 15% dari total modal perseroan dalam pelaksanaan IPO. Selain melepaskan saham baru ke publik, perseroan mengalokasikan 700 ribu saham atau 0,06% untuk program saham bagi karyawan. Kemudian, perseroan juga mengalokasikan 674,44 juta saham atau 10% dari total modal perseroan untuk program saham kepada manajemen dan karyawan.

Presiden Direktur Cimory Farel Grandisuri Sutantio mengatakan sebelumnya, alasan perusahaan melakukan IPO karena membutuhkan modal untuk melakukan ekspansi, seperti harus membangun pabrik dan banyak investasi di lini distribusi. Oleh karena itu, perusahaan memutuskan untuk go public dan menjadi bagian dari pemain di pasar modal Indonesia.

PT Widodo Makmur Perkasa Tbk tercatat mengincar dana segar sebesar Rp 707,04 miliar melalui aksi IPO saham. Dengan mematok harga Rp 160 per saham, perseroan akan melepas sebanyak 4,41 miliar saham baru atau setara 15,02%.

PT Wira Global Solusi Tbk tercatat akan melepas melepas sebanyak-banyaknya 208,5 juta saham biasa atau setara 20%. Harga IPO perseroan sekitar Rp 125-140 per saham, sehingga perseroan berpotensi meraup dana segar Rp 29,19 miliar.

Sementara itu, PT Jaya Swarasa Agung Tbk melepas 240,3 juta saham atau setara 21,87%. Perseroan memasang harga penawaran Rp 360, sehingga berpotensi meraup dana sebesar Rp 86,5 miliar.

Di samping itu, PT Avia Avian Tbk tercatat telah menetapkan harga IPO saham pada batas atas, yakni sebesar Rp 930 per saham. Dengan penetapan harga tersebut, dana yang bisa diraih oleh Avian sebesar Rp 5,76 triliun.

Avian akan melepaskan 6,2 miliar saham ke publik atau sekitar 10% dari modal perseroan setelah IPO. Semula, harga IPO ditawarkan di angka Rp 780-930 per saham.

Wakil Presiden Direktur Avia Avian Ruslan Tanoko. Foto: IST
Wakil Presiden Direktur Avia Avian Ruslan Tanoko. Foto: IST

Wakil Presiden Direktur Avia Avian Ruslan Tanoko menegaskan sebelumnya, melalui IPO ini, perseroan ingin menjamin keberlangsungan perusahaan. PT OBM Drilchem Tbk juga mematok harga tertingginya di Rp 180, dari harga penawaran yang berada di rentang Rp 150-180 per saham. Perseroan akan melepas 182 juta saham atau 24,86% dari total modal perseroan, sehingga bisa memperoleh dana maksimal sebesar Rp 32,76 miliar.

Sedangkan PT Indo Pureco Pratama Tbk mematok harga terendahnya di Rp 100 dari harga penawaran Rp 100-110 per saham. Perseroan akan melepas 1 miliar saham baru atau 21,74% dari total modal perseroan.

Melalui aksi korporasi ini, perseroan berpotensi menghimpun dana Rp 100 miliar, dari sebelumnya yang direncanakan bisa sebesar Rp 110 miliar.

Sementara itu, jumlah IPO di BEI mencetak rekor terbanyak pada 2019, mencapai 59 perusahaan. Dari sisi nilai, IPO saham tahun ini telah memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah. Rekor nilai IPO tertinggi sebelumnya tercatat dicapai pada 2010, yaitu Rp 29,67 triliun. (en)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN