Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
CEO PT Link Net Tbk Marlo Budiman, Selasa (9/6/2020). Sumber: BSTV

CEO PT Link Net Tbk Marlo Budiman, Selasa (9/6/2020). Sumber: BSTV

Alokasi Belanja Modal Rp 3,1 Triliun Tahun Ini, Link Net Optimistis Capai Pertumbuhan High Single Digit  

Senin, 13 Desember 2021 | 16:11 WIB
Lona Olavia (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - PT Link Net Tbk (LINK) optimistis akhir tahun ini dan tahun depan bisa mencapai pertumbuhan kinerja high single digit. Kinerja pendapatan terutama ditopang oleh pertumbuhan di segmen residensial seiring kenaikan jumlah pelanggan residensial yang berasal dari perumahan dan apartemen. Sedangkan alokasi  belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini senilai Rp 3,1 triliun dan untuk  tahun 2022 sebesar Rp 3,07 triliun.

 ”Hingga akhir tahun ini, proyeksi kita akan tumbuh high single digit dibandingkan tahun 2020, didukung oleh adanya jumlah pelanggan residensial yang cukup besar, terutama berasal dari perumahan dan apartemen. Proyeksi kinerja untuk tahun 2022, kami perkirakan pertumbuhan Link Net high single digit juga,” ujar Sekretaris Perusahaan Link Net Johannes dalam paparan publik perseroan, Senin (13/12).

Kontribusi pendapatan, sebutnya, mayoritas berasal dari segmen residensial yang mencapai 80%, lalu sisanya segmen enterprise sebesar 20%. Link Net Enterprise berfokus untuk memperkuat kemitraan dengan bisnis dan organisasi yang mengalami dampak minimum dari pandemi Covid-19, termasuk di dalamnya adalah sektor e-commerce.

Untuk mendukung pencapaian target, emiten penyedia layanan televisi kabel dan internet tersebut berharap belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini bisa terserap 95%-97% dari besaran alokasi Rp 3,1 triliun. Hingga saat ini, capex mayoritas sudah digunakan untuk proyek migrasi dan business as usual.

”Untuk migrasi Link Net sudah kita budget Rp 2,5 triliun sejak tahun 2020 sampai proyeksi selesai di tahun depan,” ujarnya.

Ia mengatakan lebih lanjut, untuk  tahun 2022, perseroan akan mengalokasikan capex yang besarannya agak sama yakni Rp 3,07 triliun, yang berasal sebagian besar dari kas internal. Ini di antaranya untuk ekspansi ke dua kota baru yakni Sukabumi dan Purwokerto, penambahan 200.000 homed passes, dan sebagian lagi untuk pembelian customer promise equipment seperti modem dan WiFi router yang berada di rumah pelanggan.

”Lalu, untuk migrasi juga dari tiang PLN ke tiang Link Net dan update, serta perawatan,” tambah Johannes.

Berdampak Meningkatkan Laba
Presiden Direktur dan CEO Link Net Marlo Budiman mengatakan, penyelesaian migrasi Link Net di tahun depan dapat memberikan dampak hingga 3,6% ke level EBITDA dan laba bersih perseroan. ”Karena 3,6% itu adalah revenue sharing yang Link Net bayarkan kepada ICON+ dari top line revenue. Tentunya setelah kami dapat 100% dari independency tiang-tiang tersebut, tidak ada lagi pembayaran revenue sharing. Tentunya, ini setelah migrasi dilakukan sepenuhnya,” katanya.

Untuk mencapai target kinerja di tahun depan, perseroan akan menggalakkan paket combo, seperti Combo Pop yang sudah diluncurkan sejak Juni 2021. Paket ini menjawab kebutuhan pelanggan akan bandwith yang lebih besar. Link Net juga akan meluncurkan produk inovasi baru, seperti First Plus yang merupakan layanan over the top (OTT) Combo dengan menggandeng tiga penyedia OTT yakni Viu, CatchPlay, dan GoPlay.

 “Kami ke depan akan fokus di bisnis fixed broadband, karena secara market di Indonesia penetrasinya masih di kisaran 14%-15%. Ini market blue ocean yang Link Net bisa masukkan ke kota-kota baru. Di tahun 2021, kami hanya ada di 23 kota, 20-nya di Jawa dan 3 kota di Medan, Bali, Batam. Strategi Link Net ke depan, 3-5 tahun, adalah memasuki semua kota besar di Pulau Jawa,” ungkapnya.

Beberapa kota yang sudah dijangkau Link Net adalah Jabodetabek, Serang, Cilegon, Bandung, Cirebon, Semarang, Solo, Yogyakarta, Tegal, Surabaya, Gresik, Kediri, Sidoarjo, Malang, dan Bali. Tak berhenti sampai di situ, Link Net juga berencana menambah 200.000 home passes dan memigrasi 100.000 tiang pada 2022. Pada tahun lalu, Link Net telah memigrasi 65.100 tiang dan sudah menjangkau sekitar 2,68 juta homed passes.  

Proses Rencana Akuisisi Berjalan
Sementara itu, terkait rencana akuisisi Link Net oleh PT XL Axiata Tbk (EXCL) Marlo mengatakan, perseroan hingga saat ini masih menunggu informasi dan paparan keterbukaan yang dilakukan dari pihak pembeli. “Mengenai rencana akuisisi Link Net oleh XL, proses due diligence sedang berjalan. Tapi, belum bisa kami informasikan soal teken CSPA (perjanjian jual beli bersyarat atau conditional sales purchase agreement), karena Link Net masih menunggu lebih lanjut informasi dari pihak penjual,” katanya.

Seperti diinformasikan sebelumnya, XL Axiata dan induk usahanya, Axiata Group Bhd, akan mengakuisisi 66,03% saham Link Net. Melalui akuisisi tersebut, XL dan Axiata Group bakal menjadi pemegang saham pengendali Link Net.

Pada 30 Juli 2021, XL dan Axiata telah menandatangani term sheet yang tidak mengikat (non-binding term sheet) untuk mengambil alih 1,81 miliar (66,03%) saham Link Net dari Asia Link Dewa Pte Ltd (CVC Capital Partners) dan PT First Media Tbk (KBLV).

Sementara itu, Link Net per September 2021 berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 3,24 triliun. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2020, pendapatan perseroan tersebut meningkat sebesar 9,8% dari sebelumnya yang mencapai Rp 2,95 triliun.

Kemudian, pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi atau earnings before interest, taxes, depreciation and amortization (EBITDA) per September 2021 naik sebesar 14,4% seiring dengan pertumbuhan bisnis yang baik, dari  Rp 1,63 triliun menjadi Rp 1,87 triliun. EBITDA margin juga naik 4,2% dari 55,4% menjadi 57,8%. Untuk laba tahun berjalan sebesar Rp 687 miliar dan laba bersih per saham sebesar Rp 250.

Kinerja Link Net ini semakin prospektif, seiring dengan potensi meningkatnya bisnis perseroan karena ekonomi sudah mulai pulih. Kinerja perseroan juga didukung oleh banyaknya pengguna internet akibat dampak pandemi Covid-19 yang mendorong work form home, study from home, hingga belanja online. 

Pada bulan Oktober lalu, Link Net menambah 21.696 home passed ke dalam jaringannya, sehingga Januari-Oktober 2021 tambahannya menjadi sekitar 172.576. Dengan demikian, total jaringan perseroan mencapai 2,85 juta hingga Oktober 2021.

Link Net tercatat berhasil meningkatkan Average Revenue Per User (ARPU) selama ini. Per September 2021, ARPU perseroan sebesar Rp 349 ribu per bulan dan tetap memimpin industri.

Arus kas operasi Link Net tercatat Rp 1,34 triliun dan posisi kas bersih Rp 426 miliar per September 2021. Sementara itu, proyek migrasi Link Net terus berlanjut dan sampai dengan akhir November lalu, perseroan telah menyelesaikan 55% dari seluruh proyek. 

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN