Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi investasi. Foto: Tumisu (Pixabay)

Ilustrasi investasi. Foto: Tumisu (Pixabay)

2022, Reksa Dana Fixed Income Jadi Pilihan

Rabu, 22 Desember 2021 | 23:44 WIB
Nabil Al Faruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) memperkirakan ekonomi global akan memasuki fase normalisasi pada 2022 yang berimplikasi terhadap peningkatan suku bunga sejumlah bank sentral dunia. Kondisi ini dapat dimanfaatkan pemodal dengan berinvestasi pada reksa dana pendapatan tetap (fixed income).

Investment Specialist Manulife Aset Manajemen Indonesia Dimas Ardhinugraha mengatakan, kondisi pasar sedang memasuki fase normalisasi tahun 2022 seiring kebijakan Fed tapering yang diterapkan mulai Desember tahun 2021. Kebijakan tersebut berjalan relatif mulus dibandingkan kebijakan serupa tahun 2013 silam. Hal ini membuat pemodal sudah bisa mengantisipasinya sejak akhir 2021.

Manulife Aset Manajemen Indonesia dalam rilisnya, Rabu (22/12), menyebutkan fase normalisasi tersebut mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi global tahun 2022 akan lebih rendah dari 2021, namun masih lebih tinggi dari rerata pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.

Menurut dia, fase normalisasi pada 2022 tidak hanya melanda sektor ekonomi dan perdagangan global, tetapi kebijakan moneter dan fiskal. Bank sentral dunia akan merealisasikan penyesuaian arah kebijakan dengan menaikkan suku bunga secara gradual sambil tetap memperhatikan kondisi terkait pandemi.

Dari sisi kebijakan fiskal, dia mengatakan, pengurangan stimulus-stimulus pandemi dari pemerintah secara gradual menuju ke level normal di era pertumbuhan ekonomi yang juga menuju normal. Walau demikian, normalisasi akan berjalan gradual, kebijakan fiskal dan moneter pada 2022 di negara maju maupun negara berkembang tetap akan pada level akomodatif relatif terhadap rerata jangka panjang.

Kondisi ekonomi sedang memasuki normalisasi, dia mengatakan, investor dapat mencermati akselerasi dari pasar domestik. Berbeda dengan pasar global yang mengalami fase normalisasi, Indonesia bersama Malaysia, Filipina, dan Thailand (Asean 4) memiliki ruang ekspansi lebih pesat pada 2022. Momentum tersebut didukung akselerasi vaksinasi dan cakupan vaksinasi penduduk Indonesia sudah mencapai 70% dari populasi, sehingga dapat menopang pemulihan ekonomi lebih kuat pada 2022.

“Keunggulan Indonesia dibandingkan banyak negara di kawasan adalah demografi Indonesia yang didominasi warga usia muda membawa keuntungan, mempercepat aktivitas ekonomi kembali normal (terutama apabila mitigasi pandemi terus berjalan efektif, antara lain melalui vaksinasi secara masif dan merata),” ujar Dimas.

Reksa Dana

Selanjutnya peluang di pasar obligasi. Dimas menyampaikan, pasar obligasi kini lebih siap dalam menghadapi tren perubahan sentimen global ini. Faktor kepemilikan asing yang lebih rendah, dibandingkan periode-periode sebelumnya, dinamika pasokan obligasi yang lebih baik dan valuasi pasar obligasi Indonesia yang masih menarik diharapkan dapat meredam dampak kebijakan moneter The Fed yang lebih ketat di 2022.

“Fundamental makro yang lebih baik dan stabilitas eksternal yang terus diperkuat diharapkan dapat menjaga volatilitas pasar obligasi Indonesia. Investor pun bisa memanfaatkan reksa dana pendapatan tetap untuk diversifikasi aset,” ujar dia.

Hal terakhir yang bisa diperhatikan adalah melakukan pemilihan tepat untuk diversifikasi aset. Salah satu contoh reksa dana pendapatan tetap adalah reksa dana Manulife Pendapatan Bulanan II (MPB II), reksa dana yang berinvestasi pada obligasi pemerintah tenor pendek. MPB II memiliki potensi imbal hasil kompetitif dibandingkan dengan deposito serta tingkat risiko konservatif.

Fokus investasinya pada obligasi pemerintah yang pembayaran pokok dan kupon dijamin Undang-undang, meminimalisir risiko investasi pada reksa dana MPB II, sehingga reksa dana ini akan cocok untuk investor yang ingin melakukan diversifikasi dari deposito dan pasar saham. MPB II memililik sifat yang likuid memberikan fleksibilitas bagi investor apabila ada kebutuhan finansial yang mendadak, terlebih di masa pandemi seperti sekarang ini.

“Sebagai investor, kita harus jeli dalam melihat peluang yang ada di pasar finansial, baik di pasar global maupun pasar domestik. Reksa dana pendapatan dapat menjadi pilihan yang tepat bagi investor untuk diversifikasi aset,” ujar dia.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN