Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gedung The Federal Reserve (The Fed) di Washington, DC.,  Amerika Serikat (AS). ( Foto: Daniel SLIM / AFP )

Gedung The Federal Reserve (The Fed) di Washington, DC., Amerika Serikat (AS). ( Foto: Daniel SLIM / AFP )

Fokus Pasar: Pelaku Pasar CermatiTapering Off

Kamis, 23 Desember 2021 | 08:32 WIB
Nabil Alfaruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com)

JAKARTA,investor.id — Efek dari tapering off saat ini menjadi fokus pelaku pasar guna meminimalisir risiko fluktuasi pada pasar keuangan. Pemerintah melihat adanya potensi kebijakan percepatan tapering off dan kenaikan suku bunga acuan pada negara maju dapat memberikan hambatan pada pemulihan ekonomi dalam negeri.

Pilarmas Sekuritas dalam riset nya, Kamis (23/12) menyebutkan, bank sentral di Amerika Serikat telah mengumumkan akan mempercepat tapering, dengan mengurangi pembelian obligasi dari US$ 15 miliar menjadi US$ 30 miliar, akibat dari tekanan inflasi yang terus mengalami peningkatan di negara itu.

Advertisement

Selain itu, the Fed juga memberi sinyal akan menaikkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali pada tahun depan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan bahwa normalisasi kebijakan moneter di negara maju tentunya akan memberikan dampak secara global, terutama negara-negara yang sangat rentan. Tidak terkecuali Indonesia yang masih masuk dalam 10 negara rentan taper tantrum yang diterbitkan oleh Nomura Holding.

“Normalisasi kebijakan moneter di AS akan menimbulkan risiko penurunan arus modal

masuk ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, serta akan menyebabkan depresiasi mata uang termasuk rupiah dan naiknya imbal hasil Surat berharga Negara (SBN) karena kenaikan US Treasury,” jelas Pilarmas Sekuritas.

Saat ini Argentina berada pada posisi yang sangat tidak aman dari sisi jumlah utang publik, inflasi, dan utang luar negeri. Oleh karena itu, Pilarmas melihat Argentina akan berada pada posisi yang sangat rentan. Sementara Brasil dan Turki pun berada dalam kategori negara yang rentan akan kebijakan tapering the Fed, dari sisi neraca transaksi berjalan, kebijakan inflasi, dan utang luar negeri.

“Kami melihat Indonesia masih berada pada posisi yang aman. Hal ini menggambarkan kemampuan Indonesia yang dianggap lebih memiliki kekuatan,” jelas Pilarmas Sekuritas.

Meski berada di posisi yang aman, pemerintah perlu mewaspadai kondisi global tersebut karena situasi ke depan, terutama penyesuaian kebijakan di negara maju dalam menghadapi kenaikan inflasi, akan menyebabkan meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN