Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu contoh karya seni digital Non Fungible Token (NFT) yang diproduksi eksklusiv, sehingga kerap dijadikan alternatif investasi.

Salah satu contoh karya seni digital Non Fungible Token (NFT) yang diproduksi eksklusiv, sehingga kerap dijadikan alternatif investasi.

Mau Tau Masa Depan NFT di Tahun 2022 Ini, Simak Yuk!

Sabtu, 1 Januari 2022 | 08:02 WIB
Lona Olavia (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Aset digital Non-Fungible Tokens (NFT), menjadi sorotan sepanjang tahun 2021. Untuk pertama kalinya, topik "NFT" bahkan masuk ke pencarian terbanyak melampaui kripto dalam Google Trends secara global di tahun ini. Apalagi, di saat pasar aset kripto alami penurunan volume transaksi selama beberapa minggu terakhir, penjualan NFT justru melonjak.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) yang juga COO Tokocrypto Teguh Kurniawan Harmanda, tampaknya minat masyarakat pada NFT akan meningkat secara eksponensial pada tahun 2022 mendatang.

Baca Juga: Transaksi Aset NFT Diyakini Tumbuh Eksponensial di 2022, Apa Pendorongnya?

"Tren NFT semakin meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini karena minat masyarakat untuk memperjual-belikan aset dan karya seni digital melalu NFT semakin tinggi, seiring dengan pengetahuan mereka soal manfaatnya dan peluang pada pertumbuhan ekonomi kreatif dan digital," kata pria yang akrab disapa Manda tersebut dalam keterangan tertulisnya, Jumat (31/12).

Keberadaan NFT semakin menggila di akhir tahun 2021, sehingga tak heran jika tren investasi virtual ini bakal berkembang pada 2022. NFT telah mendarat di setiap sektor yang memiliki potensi, tak terkecuali di Metaverse dan platform investasi digital lainnya.

Baca Juga: NFT Dorong Industri Kreatif dan Retail Indonesia

Data dari DappRadar menunjukkan bawah pada kuartal III 2021, penjualan NFT mencapai US$ 10,7 miliar atau berkisar Rp 152 triliun di seluruh dunia. Angka ini naik tajam dari hanya US$ 1,3 miliar atau Rp 18,5 triliun pada kuartal II dan kuartal I sebesar US$ 1,2 miliar atau Rp 17 triliun.

"Di Indonesia sendiri aset digital NFT masih tergolong baru, belum ada data lengkap mengenai tren pertumbuhannya. Meski begitu, dilihat dari pasar semakin matang, dengan banyaknya marketplace NFT yang bermunculan salah satunya TokoMall by Tokocrypto," tutur Manda.

TokoMall jadi pelopor, menurutnya adalah marketplace NFT di Indonesia. Sejak diluncurkan Agustus 2021 lalu, kini, telah memiliki lebih dari 10,000 kolektor, 60 mitra resmi, dan lebih dari 8.000 NFT.

Head of TokoMall Thelvia Vennieta mengungkap di tahun 2022 ini, TokoMall punya sejumlah konsep dan fitur baru untuk tumbuhkan pasar NFT di Indonesia.

Baca Juga: Tokocrypto Rilis NFT Marketplace TokoMall

"TokoMall sekarang itu masih early stage. Kita baru launching itu pertengahan Agustus, masih banyak hal yang harus kita improve. Kita ingin masyarakat umum itu tertarik dulu dengan NFT, baru on top of that kita masuk ke Metaverse, gaming, properti, kemudian community, membership. Either, kita nanti akan masuk ke semacam ticketing, jadi kalian bisa beli NFT ini,kesempatan untuk dapat tiket masuk ke event tertentu," jelas Thelvia.

Seperti istilahnya, pengertian NFT sendiri adalah barang digital yang tak tergantikan. Ini bisa berupa gambar, karya seni, koleksi, cuplikan video, album musik, item dalam game, dan banyak item lainnya. NFT dicetak di blockchain, mirip dengan cryptocurrency. Oleh karena itu mereka unik dan langka dan sulit untuk dipalsukan.

Investor digital memanfaatkan aset digital NFT demi menghasilkan uang dalam jumlah besar dengan jangka waktu singkat. Sebuah NFT tunggal dapat dibeli dan dijual beberapa kali. Tetapi, pembeli harus membayar biaya royalti kepada pemilik atau pencipta asli dengan setiap penjualan. Biaya royalti biasanya sekitar 10%.

Editor : Lona Olavia (olavia.lona@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN