Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Petugas membersihkan di area main hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Petugas membersihkan di area main hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Saham Teknologi dan Bank Digital akan Kuasai Top Gainers 2022

Rabu, 5 Januari 2022 | 13:28 WIB
Muhammad Ghafur Fadillah (muhamad.ghafurfadillah@beritasatumedia.com) ,Lona Olavia (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id  – Saham teknologi dan bank digital diprediksi tetap merajai papan top gainers di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2022, melanjutkan kesuksesan 2021. Adapun saham-saham dua sektor itu yang berpotensi berkibar tahun ini antara lain PT Telefast Indonesia Tbk (TFAS), PT Digital Media Tama Maxima Tbk (DMMX), PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI),PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), dan calon pendatang baru GoTo.

Saham TFAS berpotensi naik2.000% pada 2022 menjadi Rp 107 ribu, sedangkan DMMX 1.000% ke level Rp 29.700. Sementara itu, BBHI disebut-sebut bisa menjadi the next PT Bank Jago Tbk (ARTO), setelah naik 4.386% ke level Rp 7.075 tahun lalu.

Sementara itu, Bukalapak ditaksirmelesat tahun ini, setelah mengumumkan rencana perubahan penggunaan dana hasil penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. Berita terbaru, Bukalapak akan membeli 12% saham BBHI melalui skema rights issue. Kabar ini membuat saham BUKA naik 17,9% ke level Rp 500 pada perdagangan Selasa (4/1).

BRI Danareksa Sekuritas menyematkan rekomendasi buy saham BUKA dengan target harga Rp 1.400, sedangkan CGS CIMB memasang rekomendasi add dengan target harga Rp 900. Di sisi lain, GoTo, jika jadi menggelar IPO saham tahun ini, berpotensi menyaingi kesuksesan PT DCI Indonesia Tbk (DCII), yang tahun lalu berada di posisi puncak top gainers. GoTo dinilai memiliki portofolio bisnis yang lengkap, mulai dari ride hailing, e-commerce, hingga dompet digital.

Jika investor percaya terhadap prospek bisnis GoTo, reli harga saham berpotensi terus terjadi. GoTo dikabarkan akan menggelar IPO semester I-2022 senilai US$ 1 miliar, dengan potensi kapitalisasi pasar (market cap) berkisar US$ 35-40 miliar.

20 saham paling cuan 2021-2022
20 saham paling cuan 2021-2022

Selain GoTo, Blibli, Traveloka, SiCepat berniat masuk bursa saham tahun ini. Valuasi Blibli pada 2021 mencapai US$ 1 miliar, Traveloka US$ 2,75 miliar, dan SiCepat US$ 1,1 miliar, berdasarkan riset Credit Suisse, mengutip berbagai sumber.

Tahun lalu, berdasarkan data BEI, enam dari 10 besar top gainers berada di sektor bank digital, teknologi, dan terkait teknologi. Di posisi puncak, bertengger saham DCII dengan kenaikan harga 10.370% dari harga perdana Rp 420 ke Rp 43.975, diikuti PT Berkah Beton Sadaya Tbk (BEBS) 5.775% ke level Rp 5.875, BBHI 4.386%, dan TFAS 2.747% menjadi Rp 5.125.

Selanjutnya, PT Bank Net Indonesia Syariah Tbk (BANK) naik 2.123% menjadi Rp 2.290, PT Damai Sejahtera Abadi Tbk (UFOE) 1.509% ke level Rp 1.625, PT Pratama Abadi Nusa Industri Tbk (PANI) 1.387% ke level Rp 1.725, PT MNC Studios International Tbk (MSIN) 1.285% menjadi Rp 2.480, DMMX 1.035% ke level Rp 2.720, dan PT Temas Tbk (TMAS) 893% menjadi Rp 1.370.

Adapun saham sektor lain yang ditaksir bersinar tahun ini antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), dan PT PP Tbk (PTPP).

Fenomena Pasar

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana
Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengakui, lonjakan saham DCII merupakan fenomena pasar saham Indonesia dan sulit terulang.

Meski begitu, sektor teknologi nasional masih bisa terus berkembang dan pelaku pasar akan belajar dari fenomena yang sudah ada, termasuk DCII, PT Bank Jago Tbk (ARTO) dan PT Bukalapak.com Tbk (BUKA). Itu sebabnya, kehadiran GoTo di bursa saham akan memanaskan kinerja saham sektor teknologi.

“Memang, jika berkaca pada IPOBukalapak, semakin besar dana yangdilepas, semakin berat untuk naik, terutama bila secara fundamental belum memadai. Tetapi, berbeda dengan BUKA, model bisnis GoTo tidak hanya marketplace, tetapi juga finansial dan transportasi. Apalagi, marketplace GoTo (Tokopedia) nomor satu di Indonesia. Bila investor percaya pada potential growth dari GoTo, tidak ada batasan naiknya berapa persen. Tetapi, saya pribadi masih harus melihat laporan keuangannya untuk bisa membuat prediksi,” ujar dia kepada_ Investor Daily, Selasa (4/1).

Secara market cap, menurut Wawan, GoTo diperkirakan masuk menjadi lima besar, bila jadi masuk tahun ini. Alhasil, kapitalisasi pasar (market cap) saham teknologi (IDXTech) akan terkerek.

Saat ini, market cap saham sektor teknologi baru 4%. Masuknya raksasa teknologi itu dapat menaikkan market cap hingga dua kali lipat. Selain GoTo, dia melanjutkan, Allo Bank diproyeksikan bisa menjadi bank digital yang mencatatkan kinerja saham cemerlang seperti Bank Jago.

Hal tersebut tidak lepas dari kekompakan enam investor besar yang turut berpartisipasi dalam rights issue perseroan senilai Rp 4,8 triliun, di antaranya Grup Salim dan Bukalapak.

Analis CSA Research Institute. Foto: IST
Analis CSA Research Institute. Foto: IST

Pengamat pasar modal dari Asosiasi Analis Efek Indonesia Reza Priyambada mengatakan, untuk pengembangan bisnis, ekosistem ritel, dan pembayaran, kolaborasi pemegang saham BBHI harusnya bisa saling menguntungkan. Ini bisa berimbas positif terhadap harga saham BBHI.

“Kalau untuk prospek, secara fundamental tergantung pada pengembangan dan imbas ke kinerja perseroan. Pada akhirnya, yang namanya bank ten tunya harus kita lihat pertumbuhan pendapatan bunga, penyaluran kredit, kecukupan modal, dan lainnya,” ujar dia.

Sementara itu, saham-saham lapis kedua dan ketiga, menurut dia, memang selalu masuk jajaran saham top gainers setiap tahun. Adapun, saham BBHI tersebut melonjak terdorong oleh pemberitaan aksi korporasi dan pengembangan bisnis digital.

Menurut Reza, pengembangan bisnis ke arah digital sekarang ini memang lebih disukai oleh pelaku pasar. Akibatnya, banyak bank kecil yang merambah menjadi bank digital.

Selain itu, saham-saham tersebut diburu karena berharga murah. Untuk tahun ini, Reza memproyeksikan saham BBHI masih berpotensi menguat. Namun, apakah BBHI bisa menjadi_the next_ARTO, dia mengaku belum berani untuk memastikannya.

“Belum berani pastikan._Let it flow. Tapi, kalau lihat dari harganya sudah di Rp 8.000-an. Kalau volume beli masih ada, bisa mengejar ke Rp 9.600. Waspada juga potensi_ profit taking,” kata dia.

Cermati Kejadian 2021

Karyawan melintas di main hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR
Karyawan melintas di main hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova mengatakan, investor perlu mencermati lebih lanjut kinerja saham- saham_top gainers_2021. Apalagi, untuk saham yang mencetak kenaikan harga tajam, tanpa didukung kinerja baik.

Ivan melihat, saham-saham top gainers 2021 bisa melonjak signifikandisebabkan berbagai faktor.

“Ada yang memang kinerjanya melonjak, seperti TFAS, TMAS, dan PT Batavia Prosperindo Trans Tbk (BPTR). Tetapi, tidak sedikit emiten yang posisinya masih rugi, namun harganya terkerek naik. Tentu yang seperti ini cenderung pada aksi spekulasi, termasuk sentiment sektoral atau juga hal-hal lain,” ujar dia.

Khusus untuk DCII, Ivan mengatakan, saham emiten yang baru melantai di bursa pada Januari 2021 tersebut menikmati sentimen positif dari euphoria saham sektor teknologi.

Ivan memperkirakan, saham-saham sektor teknologi berpeluang melanjutkan kenaikan pada 2022, seperti PT Indointernet Tbk (EDGE) yang secara teknikal masih sideways dengan laporan keuangan terakhir positif. Selain itu, ada PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS) yang mencetak perbaikan kinerja keuangan.

“Saham EDGE bisa ke level Rp 32 ribu dan KIOS Rp 1.000, apabila sudah mengakhiri masa koreksi dan konsolidasinya,” tutur dia.

Ivan menambahkan, potensi kenaikan juga terbuka pada saham-saham yang masih mencatatkan kerugian kinerja keuangan pada tahun 2021, tetapi di semester I-2022 menunjukkan perbaikan. “Saham-saham ini ada kemungkinan dilirik juga oleh pelaku pasar,” ujar dia.

Ivan juga melihat masih ada peluang saham-saham IPO di tahun ini bisa mencatat kinerja gemilang seperti DCII.

“Potensi sukses tetap ada. Tetapi emiten mana yang bakal sukses, mung kin tidak bisa memastikan, karena tergantung bagaimana kemudian pelaku pasar antusias terhadap saham tersebut,” jelas dia.

Ivan mengingatkan, investor perlu mempertimbangkan beberapa hal dalam melihat saham-saham yang mengalami lonjakan fantastis.

“Yang harus dicermati tentu yang penting dari kinerja keuangannya. Karena tidak jarang saham-saham yang sudah naik tinggi ketika merilis kinerja keuangan tidak sesuai ekspektasi, kemudian terjadi aksi jual yang masif, bahkan bisa autoreject bawah (ARB),” jelas dia.

Oleh karena itu, kata Ivan, kembali pada tujuan masing-masing investor. “Jika memang berniat spekulasi, tentu perlu membatasi modal, sehingga sekalipun mengalami kerugian besar, tidak mengganggu posisi investasi secara keseluruhan,” ujar dia.

Ivan melihat, potensi gain tinggi pada tahun ini ada pada BBCA, BBTN, BRPT, DSNG, dan PTPP. BBCA bisa mencapai harga Rp 8.500, sedangkan BBTN berpotensi naik hingga Rp 2.300, BRPT Rp 1.200, DSNG Rp 620, dan PTPP Rp 1.400.

“Tahun 2022 juga menjadi peluang kenaikan bagi saham sektor bahan dasar, seperti PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), INKP, dan BRPT,” ujar dia.

Perubahan Kebiasaan

Ilustrasi indeks saham di salah satu sekuritas di Jakarta. Foto ilustrasi: B1/UTHAN A RACHIM
Ilustrasi indeks saham di salah satu sekuritas di Jakarta. Foto ilustrasi: B1/UTHAN A RACHIM

Senior Technical Analyst Henan Putihrai Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan, kenaikan yang terjadi pada saham-saham_second liner pada tahun 2021, disebabkan oleh adanya perubahan kebiasaan (behaviour) investasi.

Sektor yang menjadi incaran terbaru dari para investor adalah ekonomi baru, seperti teknologi, bank digital, dan_e-commerce. Perubahan investasi tersebut didominasi oleh investor milenial yang menguasai transaksi harian di BEI.

Kalangan ini lebih memilih sektor-sektor yang dekat dengan gaya hidup dan keseharian kaum muda seperti sektor teknologi dan sektor perbankan yang menghadirkan solusi digital.

“Salah satunya yakni, perbankan yang belakangan ini banyak diminati dengan produk digital banking,” jelas dia.

Di sisi lain, maraknya bank digital ini juga sejalan dengan regulasi peningkat an modal inti menjadi Rp 2 triliun per akhir tahun lalu menjadi Rp 3 triliun. Sebab itu, ke depan sektor ini akan lebih menarik bagi para investor.

Berdasarkan data BEI, sampai dengan 29 Desember 2021, jumlah investor pasar modal meningkat 92,7% menjadi 7,48 juta investor dari sebelumnya 3,88 juta investor per akhir Desember 2020. Jumlah ini meningkat hampir 7 kali lipat dibandingkan tahun 2017.

Secara khusus, pertumbuhan investor ritel pada 2021 ditopang oleh kalangan milenial kelahiran 1981-1996 dan Gen-Z kelahiran 1997-2012 atau rentang usia kurang dari 40 tahun sebesar 88% dari total investor ritel baru per November 2021.

Lonjakan pertumbuhan jumlah investor ritel, turut berdampak terhadap dominasi investor ritel terhadap aktivitas perdagangan harian di BEI yang mencapai 56,2% dari tahun sebelumnya sebesar 48,4%.

Liza mengatakan, ada beberapa sektor yang menarik tahun ini, seperti telekomunikasi dan teknologi, yang dipastikan menjadi sorotan, seiring rencana IPO jumbo unicorn, decacorn, dan start-up digital, seperti GoTo, tiket.com, Traveloka, J&T_Express, Blibli, dan lainnya. 

Selain itu, dia melanjutkan, cermati saham sektor konsumer yang masuk dalam jajaran saham defensif. Tak ketinggalan, saham yang menjanjikan pertumbuhan, seiring maraknya implementasi electric vehicle (EV) dan properti, ditopang oleh berbagai insentif dari pemerintah untuk meningkatkan daya beli.

Maximilianus Nico Demus. Foto: IST
Maximilianus Nico Demus. Foto: IST

Associate Director of Reasearch and Investment  Pilarmas Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, kenaikan harga saham top gainers 2021 dipicu pandangan positif pasar terhadap prospek bisnis masa depan.

“Jika diperhatikan, kondisi valuasi di masa yang akan datang itu lebih banyak dimiliki oleh perusahaan-perusahaan second liner, karena harganya lebih murah dan berbeda dengan saham- saham yang sudah berkapitalisasi pasar besar,” ujar dia.

Menurut Nico, pertumbuhan saham- saham tersebut ke depan sudah tidak bisa melihat dari sisi linier saja, namun juga melihat dari sisi eksponensial. Hal ini yang menjadi daya tarik pasar dan investor untuk masuk ke saham second liner atau third liner.

“Jadi tidak hanya berbicara fundamental, tapi bicara potensi. Potensi ini banyak hal, jadi tidak bisa kita ukur lagi hanya dengan laporan keuangan saja,” ujar dia.

Lebih lanjut, melonjaknya harga beberapa saham tersebut dipengaruhi oleh transformasi digital yang dilakukan oleh perusahaan akibat pandemi Covid-19. Nico menyampaikan, dalam kurun waktu 3-5 tahun mendatang, teknologi akan mencoba mendominasi sektor perbankan. Buktinya, sudah bisa dilihat pada 2021, di mana saham sektor teknologi mengalami peningkatan.

Pada 2022, investor bisa memantau saham perbankan seperti BBCA, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Jago Tbk (ARTO). Investor juga bisa memperhatikan saham teknologi, seperti PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), saham infrastruktur seperti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Jasa Marga Tbk (JSMR), dan BUKA.

Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal FEB Universitas Indonesia Budi Frensidy.
Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal FEB Universitas Indonesia Budi Frensidy.

Guru besar keuangan dan pasar modal Universitas Indonesia Budi Frensidy mengatakan, tingginya ke naikan harga saham second liner disebabkan maraknya promosi para influencer saham. Ini menjelaskan mengapa saham-saham berkapitalisasi pasar rendah tahun lalu naik tajam, sedangkan indeks LQ 45 malah turun.

Tahun ini, Budi merekomendasikan saham berkapitalisasi pasar medium hingga besar, seperti ASII, AUTO, JPFA, AALI, INDF, ICBP, KLBF, TSPC, dan SRTG. Saham sektor pertambangan batu bara, nikel, dan sawit juga layak dicermati. (bil/epa/ac)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN