Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur The Fed Jerome Powell. ( Foto: JOSHUA ROBERTS / POOL / AFP )

Gubernur The Fed Jerome Powell. ( Foto: JOSHUA ROBERTS / POOL / AFP )

Terungkap! Dokumen The Fed soal Kenaikan Suku Bunga

Kamis, 6 Januari 2022 | 14:57 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

WASHINGTON, investor.id - Pejabat Federal Reserve (The Fed) bulan lalu khawatir tentang dampak Omicron, tetapi percaya ekonomi Amerika Serikat (AS) telah cukup pulih dari pandemi, menurut risalah pertemuan Desember 2021 yang dirilis Kamis (6/1). Kondisi ini memungkinkan kenaikan suku bunga dilakukan lebih cepat dari yang diperkirakan.

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) mempercepat penarikan langkah-langkah stimulus pandemi dan merilis perkiraan tahun ini. Dalam perkiraan tersebut, para bankir sentral berharap untuk menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali pada 2022, sebagai senjata paling ampuh melawan kenaikan harga.

Dokumen tersebut menjelaskan latar belakang pertimbangan komite kebijakan Fed. Komite tersebut melangsungkan sidang ketika bank sentral AS tersebut menghadapi tekanan yang meningkat. The Fed perlu bertindak melawan gelombang inflasi yang membuat harga konsumen melonjak ke level tertinggi selama beberapa dekade terakhir.

Baca juga: Dollar AS Menguat Jelang Pertemuan The Fed

Salah satu dari dua kriteria untuk menaikkan suku bunga pinjaman acuan dari nol adalah seberapa dekat ekonomi dengan tingkat lapangan kerja maksimum. Banyak pejabat percaya kondisi saat ini telah mendekati titik ini atau bahkan sudah ada di titik ini. "(Itu berarti) mungkin diperlukan untuk meningkatkan tingkat dana federal lebih cepat atau segera dari yang diantisipasi para peserta sebelumnya," ungkap risalah tersebut.

Dengan kemunduran yang lebih cepat, stimulus program pembelian obligasi The Fed sekarang akan berakhir (tapering) pada Maret 2022. Setelahnya bank sentral akan menetapkan panggung untuk kenaikan suku bunga, meskipun dalam risalah pihaknya mengakui bank sentral dapat bergerak lebih cepat jika dibutuhkan, mengingat kenaikan harga.

Komisi secara umum terus mengantisipasi bahwa inflasi akan menurun secara signifikan selama 2022. Tetapi hampir seluruh peserta FOMC memperkirakan inflasi yang lebih tinggi tahun ini, dilanjutkan dengan kenaikan tambahan suku bunga pada 2023.

Baca juga: Yield Obigasi AS Naik, Apa dampaknya terhadap Pasar Saham Indonesia?

Para peserta rapat tersebut juga menilai bahwa gangguan rantai pasokan yang telah memicu kenaikan harga akan bertahan hingga 2022, menurut risalah tersebut.

FOMC berkumpul ketika varian Omicron menyebar di seluruh wilayah Amerika Serikat. Tetapi rapat tersebut rampung sebelum lonjakan kasus baru terlihat dalam beberapa hari terakhir.

Para pejabat The Fed memiliki pandangan berbeda atas seberapa besar ancaman yang ditimbulkan oleh ketegangan baru pandemi terhadap ekonomi terbesar di dunia itu. Dikatakan, banyak yang menilai gelombang baru pandemi akan membuat prospek ekonomi semakin tidak pasti. "(Beberapa mengatakan) mereka belum melihat varian baru dapat mengubah jalur pemulihan ekonomi secara fundamental," kata risalah tersebut. (afp)

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN