Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) Irfan Setiaputra. (Foto: Antara/Beritasatu.com)

Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) Irfan Setiaputra. (Foto: Antara/Beritasatu.com)

Soal PKPU dan Pesawat, Dirut Garuda (GIAA) Buka Suara

Kamis, 13 Januari 2022 | 23:50 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) Irfan Setiaputra optimistis proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) akan dilewati dengan baik.

"Restrukturisasi utang melalui proses PKPU, kita harapkan dapat dilalui dengan baik walaupun tidak mudah. Prosesnya optimistis dapat dilalui," ucap Irfan dalam program Hot Economy bertajuk ‘Bersih-bersih Garuda’ yang disiarkan secara langsung oleh Beritasatu TV, Kamis (13/1).

Untuk itu, dalam proses restrukturisasi ini, dia meminta dukungan bukan hanya dari pemilik secara langsung, tetapi juga dukungan secara politik dari DPR agar tidak mengaitkan proses restrukturisasi tersebut dengan politik di masa lalu.

Selain fokus merestrukturisasi utang, lanjut Irfan, perseroan juga saat ini terus melakukan restrukturisasi operasional dengan fokus melayani rute-rute yang menguntungkan dan kargo. Hal ini dilakukan seiring dengan terbatasnya pesawat-pesawat yang beroperasi. Termasuk, Garuda fokus meningkatkan layanan-layanan dan inovasi-inovasi serta memperhatikan struktur SDM. "Jadi, ini terus kita lakukan dan hasilnya cukup baik. Terbukti akhir 2021, terjadi peningkatan dari jumlah penumpang dan kargo," ujarnya.

Baca juga: Garuda Indonesia (GIAA) Hanya akan Beroperasi dengan 66 Pesawat

Tercatat, pada akhir kuartal IV tahun lalu, terjadi peningkatan kargo yang signifikan sekitar 80% secara year on year (yoy). Ini tidak lepas dari upaya perseroan sejak kuartal III-2020 yang menekankan di sektor kargo.

Sementara itu, dari sisi penumpang, relaksasi PPKM yang diberlakukan pemerintah juga memberikan keyakinan kepada publik untuk bepergian dan mengunjungi tempat-tempat yang selama ini tertunda, sehingga hal tersebut berkontribusi terhadap peningkatan jumlah penumpang.

"Saya juga gembira melihat antusiasme jamaah umrah. Rencananya, kita masih ada puluhan ribu yang belum diterbangkan karena tertunda akibat pandemi. Tentu kita harapkan, varian Omicron di Indonesia tidak terlalu merebak seperti di negara-negara lain," tutur Irfan.

Lebih jauh, Garuda juga sudah menyiapkan rencana bisnis ke depan yang berbasis profitable. Sebab, menurut Irfan, sebagai maskapai kebanggaan nasional, Garuda mempunyai banyak kewajiban dan beban yang harus dieksekusi seperti menghubungkan antarpulau dan kota serta memperkenalkan Indonesia ke luar negeri.

Baca juga: Garuda Indonesia (GIAA) Ditagih Utang Rp 198 T oleh 470 Kreditur

"Hanya saja yang tidak kalah penting, maskapai penerbangan nasional juga harus menguntungkan. Bukan sekadar memiliki banyak pesawat dan terbang ke mana-mana tanpa peduli akan menjadi beban di masa sekarang atau masa depan," tegas Irfan.

Tambah Pesawat

Bersamaan dengan terjadinya peningkatan trafik, penyelesaian proses restrukturisasi dan negosiasi dengan para lessor, serta potensi pendanaan baru, perseroan bakal terus berupaya untuk menambah jumlah pesawat dari yang tercatat saat ini sebanyak 140 pesawat. “Kita berharap, tahun ini Garuda bisa berjalan dengan 66 pesawat dan kita sudah sampaikan kepada lessor bahwa kita akan menambah terus frekuensi dan rute-rute," jelas Irfan.

Baca juga: Erick Thohir Jamin Pelaporan Dugaan Korupsi Tak Ganggu Proses Restrukturisasi Garuda Indonesia (GIAA)

Bukan hanya itu, sesuai dengan permintaan dan arahan Menteri BUMN Erick Thohir, perseroan juga akan fokus pada rute-rute domestik. Sedangkan untuk rute internasional, maskapai penerbangan pelat merah ini hanya akan melayani rute-rute dengan frekuensi terbatas dan menguntungkan serta fokus pada kargo.

"Jadi, kalau dilihat hari ini dengan kondisi jumlah penumpang antarnegara yang sangat terbatas, kami sekarang tetap menghubungkan destinasi-destinasi yang secara tradisional dilayani Garuda tapi isinya mayoritas kargo," urai Irfan.

Dengan demikian, perseroan akan mengurangi frekuensi sedemikian rupa supaya bisa menjaga sisi finansial, di samping sambil berupaya untuk memastikan rute internasional tetap berlangsung mengingat masih banyak WNI di luar negeri dan WNA di Indonesia yang ingin kembali ke negaranya masing-masing.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN