Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
 PT PP Tbk (PTPP). Foto: IST

PT PP Tbk (PTPP). Foto: IST

Bisnis Konstruksi Pulih, Sejumlah Analis Rekomendasi Beli Saham PTPP

Sabtu, 15 Januari 2022 | 20:07 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, Investor.id – PT PP (Persero) Tbk (PTPP) memiliki prospek pertumbuhan kinerja keuangan berkelanjutan dalam jangka panjang. Pertumbuhan didukung sejumlah faktor, seperti ekspektasi pebaikan ekonomi setelah kasus Covid-19 terkendali, pembangunan ibu kota baru, dan rasio utang yang rendah.

Kondisi tersebut diharapkan pergerakan saham PTPP cenderung menguat dalam jangka panjang, apalagi perseroan tercatat sebagai satu-satunya BUMN konstruksi yang mencatatkan margin keuntungan kotor (gross margin) paling baik.

Analis Ciptadana Sekuritas Arief Budiman mengatakan, PTPP satu dari perusahaan BUMN konstruksi dengan tingkat pertumbuhan laba bersih terpesat hingga semester I-2021 mencapai 307% menjadi Rp 86 miliar. Perseroan juga tercatat sebagai BUMN konstruksi dengan tingkat pertumbuhan laba operasional terpesat untuk periode sama.

“Tingkat margin keuntungan yang baik menjadikan perseroan akan tetap bisa mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangaan secara baik, meskipun bisnis kontraktor belum pulih sepenuhnya,” terangnya dalam riset.

Baca juga: PTPP Teken SPA Pelepasan 35% Saham Tol Pandaan-Malang

Berbagai faktor tersebut mendorong Ciptadana Sekuritas untuk menempatkan saham PTPP sebagai pilihan teratas untuk saham BUMN konstruksi. Pilihan ini didukung margin keuntungan kotor (gross margin) perseroan paling besar, dibandingkan BUMN konstruksi lainnya. Perseroan juga didukung tingkat DER yang lebih rendah mencapai 1,8 kali.

Saham PTPP direkomendasikan beli dengan target harga Rp 15.000. Target tersebut merefleksikan perkiraan PER tahun ini skitar 9,9 kali, dibandingkan estimasi PER sektor konstruksi mencapai 13,9 kali. Target tersebut juga mempertimbangkan ekspektasi berlanjutnya pertumbuhan kinerja keuangan perseroan.

Prospek Saham PTPP

 

Rekomendasi

Target harga (Rp)

Ciptadana Sekuritas

buy

1.800

Mirae Asset Sekuritas

buy

1.500

BRI Danareksa Sekuritas

buy

1.400

RHB Sekuritas

neutral

1.350

Sumber: Diolah dari Berbagai Sumber

Target harga tersebut mempertimbangkan ekspketasi laba bersih PTPP menjadi Rp 731 miliar pada 2022, dibandingkan perkiraan tahun 2021 senilai Rp 376 miliar dan perolehan tahun 2021 sebanyak Rp 129 miliar. Sedangkan Pendapatan diharapkan bertumbuh menjadi Rp 22,67 triliun pada 2022, dibandingkan estimasi tahun 2021 sebanyak Rp 16,10 triliun dan perolehan tahun 2020 sebanyak Rp 15,83 triliun.

Pandangan positif terhadap prospek PTPP juga datang dari analis BRI Danareksa Sekuritas Maria Renata. Menurut dia, kinerja keaungan perseroan diproyeksikan lanjutkan pertumbuhan hingga beberapa tahun mendatang.

BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan laba bersih perseroan naik menjadi Rp 488 miliar tahun 2022, dibandingkan perkiraan tahun 2021 senilai Rp 222 miliar dan raihan tahun 2020 sebanyak Rp 138 miliar. Pendapatan PTPP juga diestimasi meningkat menjadi Rp 22,80 triliun tahun 2022, dibandingkan perkiraan tahun 2021 senilai Rp 17,82 triliun dan raihan tahun 2020 Rp 15,83 triliun.

Baca juga: Progress Capai 55,03%, PTPP Targetkan Menara Danareksa Tuntas Kuartal II-2022

“Didukung prospek pertumbuhan kinerja keuangan, kami mempertahankan rekomendasi beli saham PTPP dengan target harga Rp 1.800. Target tersebut merefleksikan perkiraan PE tahun 2022 sekitar 23 kali,” tulisnya dalam riset.

Maria mengungkapkan bahwa PTPP juga didukung tingkat utang yang lebih rendah, dibadingkan emiten konstruksi lainnya, khususnya BUMN konstruksi. Berdasarkan data, DER perseroan mencapai 1,47 kali sepanjang semester I-2021.

Pemulihan Ekonomi

Sementara itu, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Joshua Michael mengatakan, emiten sektor konstruksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diproyeksikan sedang memasuki pemulihan dengan potensi pertumbuhan nilai kontrak baru dan kinerja keuangan lebih pesat pada 2022. Pertumbuhan didukung anggaran infrastruktur pemerintah, pembangunan ibu kota baru, dan mulai menggeliatnya bisnis properti.

Menurut dia, meski terjadi penurunan anggaran infrastruktur pemerintah tahun 2022, keputusan menginjeksi dana ke sejumlah BUMN konstruksi tahun 2021-2022 bisa berimbas terhadap pertumbuhan kontrak baru dan kinerja keuangan emiten ini BUMN konstruksi tahun ini.

Emiten konstruksi BUMN juga diperkirakan mulai mendapatkan dukungan dari Indonesian Investment Authority (INA) setidaknya mulai tahun 2022. Hal ini kemungkinan terwujud setelah INA mengamankan dana senilai Rp 75 triliun baik dana tunai maupun transfer saham. INA juga telah mendapatkan komitmen dana investasi dari Uni Emirat Arab senilai US$ 10 miliar untuk investasi di Indonesia.

Baca juga: Ada PTPP, WSKT, WIKA!  Konsorsium Jasa Marga (JSMR) Resmi Terima Surat Menang Lelang Tol Gedebage-Tasik-Cilacap

Selain sentimen tersebut, dia mengaatakan, emiten BUMN konstruksi mendapatkan dukungan sentimen dari pengembangan ibu kota baru di Kalimantan Timur dengan alokasi anggaaran awal senilai Rp 511 miliar pada 2022. Pendanaan juga diperkirakan datang dari public private partnership (PPP) dan investasi perusahaan swasta maupun BUMN.

Sejumlah fakta tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk menaikkan rekomendasi saham emiten BUMN sektor konstruksi dari netral menjadi overweight. Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan beli seluruh emiten BUMN konstruksi, khususnya saham PTPP direkomendasikan belid dengan target harga Rp 1.500.

Sedangkan pandangan berbeda diutarakan analis RHB Sekuritas Indonesia Ryan Santoso. Menurut dia, pemangkasan anggaran infrastruktur pemerintah tahun 2022 menjadi Rp 384,4 triliun bisa membuat tingkat pertumbuhan kontrak baru BUMN konstruksi tahun ini cenderung terbatas.

Sedangkan sentimen positif dimulainya pembangunan ibu kota negara baru, menurut dia, belum bisa berimbas besar bagi segmen ini, karena alokasi anggara tahun ini baru mencapai Rp 510 miliar dari total kebutuhan dana Rp 466 triliun.

Baca juga: WSKT, WIKA, ADHI, dan PTPP Bersiap Bangun Ibu Kota Baru

“Total anggaran yang dialokasikan tidak material. Namun emerintah sedang berdiskusi dengan Korea Selatan dan Uni Emirat Arab untuk berpartisipasi dalam investasi ibu kota tersebut. Namun demikian, pemerintah harus terlebih dahulu memberikan insentif bagi investor untuk mendanai proyek tersebut,” terangnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.

Sedangkan dimulainya pengampunan pajak (tax amnesty) tahun dua yang berlangsung mulai 1 Januari-30 Juni 2022 diharapkan menajdi sentimen positif terhadap sektor ini. Program tersebut berpotensi menaikkan pendapatan pajak negara, sehingga pemerintah bisa menaikkan alokasi anggara infrastruktur guna mendukung ambisi pemerintahan Joko Widodo untuk menuntaskan pembangunan infrastruktur yang telah direncanakan.

Terkait pergerakan harga saham PTPP sepanjang dua pekan transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan kenaikan tipis dari Rp 990 penutupan akhir tahun lalu 2021 menjadi Rp 1.000 hingga Jumat (15/1). Sedangkan harga tertinggi saham PTPP dalam 12 bulan terakhir mencapai Rp 2.230 pada penutupan 15 Januari 2021 dan level tertinggi dalam lima tahun terakhir terjadi pada 6 Februari 2017 di level Rp 3.770.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN