Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi teknologi digital. Foto: Fancycrave1 (Pixabay)

Ilustrasi teknologi digital. Foto: Fancycrave1 (Pixabay)

Saham Teknologi Terpuruk, Bagaimana Nasib ke Depannya?

Selasa, 18 Januari 2022 | 17:58 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Dalam dua hari terakhir, indeks saham sektor teknologi terpuruk. Pada hari ini, Selasa (18/1), sektor Teknologi mengalami koreksi sebesar -2,71%. Sedangkan pada perdagangan Senin (17/1), IHSG anjlok hingga -4,27%. Tidak hanya itu, berdasarkan data IDX, selama perdagangan minggu kedua Januari 2022 pada 10-14 Januari 2022, indeks saham sektor teknologi mengalami akumulasi koreksi sebesar 9,42%.

Salah satu saham sektor teknologi yang mengalami koreksi dalam adalah PT Bukalapak Tbk (BUKA). Selama sepekan terakhir ini, BUKA mengalami penurunan harga setiap harinya. Jika pada 12 Januari 2022, BUKA berada di harga Rp 448, pada hari ini, Selasa (18/1), harga saham BUKA terkoreksi sebanyak Rp 14 (-3,83%) menjadi Rp 352. Mengapa demikian dan bagaimana kedepannya?

Baca juga : Saham Teknologi Rontok, Wall Street Koreksi

Pengamat Pasar Modal Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Reza Priyambada menjelaskan sektor teknologi terbilang merupakan hal baru bagi pelaku pasar. Disisi lain, teknologi itu merupakan terkait dengan masa depan. Sementara masa depan itu masih seperti masih belum diketahui lebih lanjut, bak dari demand dan kinerja kedepannya. Sehingga sangat sulit diperkirakan kedepannya. Namun, pelaku pasar itu menganggap bahwa perusahan di bidang teknologi akan berkembang ke depan, sehingga permintaanya tinggi terhadap saham ini.

“Sehingga banyak pelaku pasar yang mengakumulasi saham sektor ini. Namun, valuasi saham itu ditentukan kinerja perusahaan, ternyata kinerja perusahaan teknologi banyak yang membukukan kinerja yang kurang baik. Pada akhirnya membuat pelaku pasar cenderung melakukan aksi jual,” ungkap Reza kepada Investor Daily, Selasa (18/1).

Mengenai BUKA, Reza mengatakan saat ini pelaku pasar masih menantikan langkah selanjutnya yang dilakukan oleh perusahaan setelah mendapatkan dana IPO yang sangat besar itu. Tidak hanya itu, pelaku pasar juga tengah menanti kinerja pertumbuhan perusahaan setelah IPO ini. “Apakah inline dengan perolehan dana yang didapatkan dari IPO tersebut untuk ekspansi. Namun, hal ini masih belum sepenuhnya terlihat oleh pelaku pasar. Akhirnya, melakukan aksi jual,” paparnya.

Baca juga : Wall Street Bervariasi, Saham Teknologi Rebound

Untuk kedepan, Reza mengatakan saham-saham sektor teknologi masih memiliki peluang besar untuk dicermati. Mengingat, teknologi menawarkan masa depan atau prospek. Namun, hal ini harus dipandang berbeda dengan sektor lain, yang memang bisa terukur dan diukur untuk masa depannya. Terlebih, biasanya sektor teknologi lebih bersifat pengembangan. Alhasil, saham sektor teknologi lebih pada bersifat dinamis pada perkembangan jaman.

“Artinya dalam menghitung nilai saham tidak lagi ditentukan dengan cara konvensional. Ada variabel lainnya yang musti dilihat dalam menentukan harga sahamnya. Misalnya saja, volume dari transaksiyang tergantung pada jumlah pengguna dan tenan yang tergabung di dalamnya sehingga bisa membuat kinerja perusahaan membaik. Pada akhirnya mempengaruhi harga sahamnya,” tambah Reza.

Untuk pergerakan harga BUKA, Reza menilai meski sebelumnya beredar pemberitaan terkait dengan kerjasama dengan Transmart. Namun, tampaknya belum sustain membuat harga saham BUKA berada dalam tren kenaikannya dan malah sempat naik dan dimanfaatkan untuk profit taking. “Di sisi lain, kiranya perlu bagi BUKA memberikan penjelasan atau rencana strategis yg dapat dinilai positif mampu memperbaiki kinerja keuangannya,” tutupnya.

  

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN