Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pekerja melintas di depan layar elektronik yang menamplkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, di Jakarta. Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pekerja melintas di depan layar elektronik yang menamplkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

IHSG Volatile, Adakah January Effect Tahun Ini?

Kamis, 20 Januari 2022 | 15:00 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) tercatat hanya mengalami kenaikan sebesar 0,75% year to date (ytd). Bahkan, IHSG cenderung volatile pada Januari ini. Padahal, biasanya pada Januari pergerakan IHSG terbilang lebih agresif karena hadirnya January effect. Namun, jika melihat kenaikan ytd adakah January effect pada tahun ini?

Baca juga : Terpengaruh Bursa Asia, IHSG Berbalik Arah, Sesi II lanjut?

Penasihat Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Edwin Sebayang mengatakan January effect pada tahun ini masih terjadi. Namun, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sebab, pada tahun ini hanya terjadi dalam skala ringan atau mild. “Terlebih, pada tahun ini dihadapkan pada kondisi adanya potensi taper tantrum akibat adanya kenaikan suku bunga oleh The Fed yang diperkirakan akan terjadi pada Maret mendatang,” ungkapnya kepada Investor Daily, Kamis (20/1).

Tidak hanya itu, lanjut Edwin, adanya kenaikan inflasi dunia. Terutama yang didorong oleh kenaikan harga-harga komoditas. Padahal, komoditas tersebut merupakan bahan baku utama yang dipergunakan oleh industri untuk berproduksi. Terakhir, adanya kekhawatiran pasar akan efek kenaikan angka Covid-19 akibat Omicron. Terutama di Indonesia. Berdasarkan data Satgas Covid-19, pada hari terakhir tercatat kenaikan mencapai 1.745 Kasus.

“Hal inilah yang membuat January effect hanya terjadi sangat mild atau sangat ringan,”jelas Edwin.

Mengenai investor asing yang terus melakukan net buy atau beli bersih, Edwin menilai hal itu terjadi karena hasil switching para investor dari obligasi ke pasar saham. Hal itu terjadi karena para investor tersebut melepas atau mulai obligasi jangka panjang. Akibat yieldnya sudah tidak menarik lagi. Namun, para investor tersebut harus tetap mengembangkan dana tersebut sehingga akhirnya jatuh pilihan ke pasar saham.

Baca juga :  IHSG Naik 0,59%, Lima Saham Cetak Untung Besar

“Hal itu karena pasar saham secara indeks bisa tumbuh sekitar 9-10%,” tutupnya.

Berdasarkan data RTI, nilai transaksi asing melakukan net buy mencetak Rp 5,65 triliun ytd. Sedangkan saham yang paling diburu asing sepanjang 2022 adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp 2,1 triliun. Disusul PT Bank Jago Tbk (ARTO) Rp 1,8 triliun, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) sebanyak Rp 817 miliar, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebanyak Rp 743,2 miliar, dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) sebanyak Rp 577,8 miliar.

 

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN