Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pialang mengamati pergerakan saham di salah satu  galeri sekuritas di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pialang mengamati pergerakan saham di salah satu galeri sekuritas di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Net Buy Rp 5 T, Duit Asing Mengalir Deras ke 10 Saham Ini

Kamis, 20 Januari 2022 | 15:50 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Meskipun pada akhir perdagangan sesi II, investor asing aktif melakukan transaksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 90,27 miliar. Berdasarkan data RTI, nilai transaksi asing melakukan beli bersih atau net buy mencetak Rp 5,65 triliun year to date (ytd) di Bursa Efek Indonesia. Saham apa saja yanng diborong asing selama ini?

Baca juga : Terpengaruh Bursa Asia, IHSG Ditutup Menghijau

Setidaknya ada 10 saham yang diborong asing selama tahun ini berlangsung. Saham-saham tersebut termasuk saham bluechip. Namun, dari 10 saham tersebut, 50% merupakan saham-saham perbankan. Kesepuluhnya adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp 2,2 triliun. Disusul PT Bank Jago Tbk (ARTO) Rp 1,4 triliun, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 834,9 miliar, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) sebanyak Rp 602,2 miliar, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebanyak Rp 293,1 miliar.

Selanjutnya adalah PT United Tractors Tbk (UNTR) sebesar Rp 220 miliar, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) sebanyak Rp 169,3 miliar, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) sebesar Rp 147,9 miliar, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 109,7 miliar.

Penasihat Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Edwin Sebayang mengatakan investor asing yang terus melakukan net buy atau beli bersih, Edwin menilai hal itu terjadi karena hasil switching para investor dari obligasi ke pasar saham. Hal itu terjadi karena para investor tersebut melepas atau mulai obligasi jangka panjang. Akibat yieldnya sudah tidak menarik lagi. Namun, para investor tersebut harus tetap mengembangkan dana tersebut sehingga akhirnya jatuh pilihan ke pasar saham.

“Hal itu karena pasar saham Indonesia secara indeks bisa tumbuh sekitar 9-10%,” jelas Edwin.

Baca juga : IHSG Naik 34,89 Poin, Saham PKPK, SGER, dan SMMT Melonjak

Sementara itu, Phintraco Sekuritas menyebut kecenderungan net buy investor asing, terutama pada saham-saham bluechip masih berlanjut sejak 5 Januari 2021. Oleh sebab itu, saham-saham bluechip, terutama TLKM, BBRI, BBTN, ARTO, ADRO, ICBP, CPIN dan JPFA dapat diperhatikan. Hal tersebut mengindikasikan adanya rotasi pelaku pasar, terutama investor asing dari saham-saham high-growth ke saham-saham bluechip dengan fundamental solid atau yang berpotensi mencatatkan peningkatan signifikan kinerja keuangan pada 2021.

“Hal ini sejalan dengan peningkatan uncertainty risk dari proyeksi peningkatan kasus harian Covid-19 di Indonesia pada pertengahan Februari 2021. Serta, the Fed yang lebih agresif dalam melakukan normalisasi kebijakan moneter pada 2022,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.

 

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN